Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 46



Pria paruh baya bersweater hitam itu berdiri dari duduknya. Mendekat pada istrinya tanpa melepaskan tatapan tajamnya.


Glek.


Nyonya Young menelan salivanya dengan susah. Ia tau akan kemana akhirnya pembicaraan ini karena memang dari awal dirinya yang salah.


" Apa kau sangat menginginkan anak dariku?" tanya Tuan Choi seraya memberikan sentuhan lembut diwajah cantik Nyonya Young.


Hening menyergap, tak ada kata ataupun kalimat yang meluncur dari bibir tipis Nyonya Young. Namun sepersekian detik kemudian, ia mengangguk kecil dengan tatapan mata yang tak lepas dari manik mata cokelat sang suami.


Brak..


Kembali Tuan Choi menggebrak meja makan dengan keras. Kali ini wajahnya merah padam, entah apa yang membuatnya begitu kesal hingga respon biasa dari sang istri sukses membuat emosinya meluap.


" Dengarkan aku.." Tuan Choi menekankan setiap kata, seraya memegang dagu lancip sang istri dengan kasar.


" Kau itu hanya ditakdirkan menjadi Ibu tiri anak-anakku, bukan Ibu kandung. Kau jangan pernah berani untuk membicarakan hal ini lagi. Sekalipun kau bermimpi untuk mengandung keturunan Choi, jangan pernah membuatnya jadi nyata."


Serentetan kalimat penuh penekanan, mengisyaratkan sebuah peringatan keras untuk si Nyonya rumah, membuat Nyonya Young seketika bungkam.


" Apa kau mengerti?" Tuan Choi memastikan sekali lagi sebelum menjauh dari sang istri. Tak lama setelah Nyonya Young mengangguk, dia pun segera menjauh dari wanita cantik itu.


" Dan juga.. jangan pernah menyentuh Hong Sik ataupun Shi Woon. Jika kau menyentuh mereka, sama saja kau ingin menghancurkan hidupmu. Kau mengerti?" Tuan Choi menatap lekat wajah sang istri.


Mendapati anggukan kecil dari istrinya, Tuan Choi pun lekas berlalu, meninggalkan ruang makan begitu saja. Suasana hatinya buruk, moodnya hancur karena pembahasan sang istri beberapa saat lalu.


...🌸🌸🌸...


Hunian Myeongdong, Seoul.


Jam dinding terus berputar, hingga tak terasa waktu kini sudah sore. Tampak Oya yang baru saja menyelesaikan tugas kuliahnya. Seharian berkutat didepan layar laptop dengan jemari yang terus berselancar pada keyboard, Oya sudah merasakan lelah.


Ia kini meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena hanya melakukan aktivitas itu saja. Setelahnya ia pun beranjak dari duduknya, namun terkejut saat tiba-tiba Hong Sik keluar dari kamar dengan kemeja yang sudah rapi.


Sesaat Oya terdiam. Kerutan didahi terlihat, ia tengah kebingungan. "Kau ingin kemana?" tanyanya menatap intens pria matang didepannya.


" Aku akan pergi. Jika lama disini, itu akan menjadi masalah untukku dan mungkin untukmu juga." jawab Hong Sik tersenyum lembut.


" Kenapa sangat tiba-tiba? Kau belum sembuh." nada suara Oya terdengar khawatir, membuat senyum tipis Hong Sik terukir.


Pria berkemeja putih itu tampak bahagia. Dikhawatirkan oleh orang yang disukai adalah semangat baru dalam hidupnya.


Perlahan Hong Sik mendekat, ia lalu mengusap puncuk kepala Oya dengan lembut. Senyumnya pun tak pernah hilang, selalu menghiasi wajah tampannya.


" Terima kasih, kau merawat aku dan mengkhawatirkan aku.. itu sudah membuatku merasa jauh lebih baik. Aku akan pergi, dan pasti akan menemuimu jika aku senggang." tutur pria gagah itu.


Oya termangu, menyimak kata demi kata yang dilontarkan pria dewasa didepannya. "Ah, baiklah. Kau hati-hati.. jangan sampai mereka melihatmu." seuntain kalimat, pesan Oya pada pria tampan itu sebelum memalingkan wajahnya.