
Keluar dari dalam lift, tiba dilantai tujuan dimana unit Shin Ho berada, Oya masih gugup dan terus berfikiran aneh. Bahkan untuk setiap langkah kakinya, terasa berat untuk mengikuti Shin Ho yang berjalan didepannya, hingga tak terasa tiba didepan pintu apartemen kekasihnya.
" Kenapa kau diam?" Shin Ho mengajukan tanya, ia baru menyadari sikap kekasihnya yang sejak tadi memang tak banyak bicara.
" Tidak.." jawab Oya dengan singkat.
Shin Ho tersenyum, ia lalu segera memasukkan kode pintu apartemennya dan membawa masuk wanitanya. Tiba didalam sana, pikiran Oya semakin menjadi-jadi terlebih lagu suasana didalam ruangan itu sangat gelap. Telapak tangan wanita cantik itu berkeringat dingin.
" Apa yang akan kita lakukan disini?" gelombang suara Oya tampak bergetar, ia meremas ujung pakaiannya.
" Apa yang akan kita lakukan?" tanya balik Shin Ho, merasa bingung pada pertanyaan sang kekasih. Ia lalu segera mencari saklar, dan menghidupkan lampu ruangan.
Saat itu juga Oya terkejut mendapati tampilan ruang utama apartemen kekasihnya, dimana ruangan itu sudah dihiasi sedemikian rupa. Balon berbentu hati yang menempel didinding, dan juga sebuah meja dinner untuk mereka berdua.
" Ayo." Shin Ho mengulurkan tangan, mengajak kekasihnya untuk duduk dikursi yang sudah tersedia. Sementara Oya, ia hanya mengikut tanpa banyak bertanya.
" Kau yang melakukan ini semua?" tanya Oya, mengamati sekelilingnya yang terlihat begitu indah. Ia lalu beralih menatap Shin Ho yang memilih duduk disisinya.
" Humm."
" Terima kasih." ucap Oya dengan senyum tertahan. Ia merasa bahagia, namun saat mengingat bahwa malam ini adalah kencan terakhirnya, raut wajahnya pun redup seketika.
" Makanlah. Selama ini kau sangat sibuk, bahkan untuk makan malam kau biasa melewatkannya." tutur Shin Ho yang sejak tadi menunjukkan sikap santainya.
" Baiklah." Oya segera meraih sendok dan garpu, siap menikmati hidangan steak didepannya yang sudah tersedia saat dirinya dan sang kekasih datang.
" Apakah kau juga yang memasak makanan ini?" tanya Oya sembari memotong steaknya menjadi beberapa bagian kecil.
" Tidak, aku menyuruh seorang koki. Dia pasti baru saja pergi saat kita datang." jawab Shin Ho yang lebih memilih menikmati buah didepannya.
Oya mengangguk, dan segera mencicipi steak miliknya. Meski hatinya berkecamuk, namun sebisa mungkin ia menampilkan senyum terbaiknya didepan pria yang dicintainya.
" Oya.." panggil Shin Ho, memegang tangan Oya dengan tiba-tiba hingga membuat kegiatan makan wanitanya terhenti.
" Ada apa?"
" Aku punya sesuatu. Tadinya aku ingin memberikanmu saat selesai makan, tapi aku sudah terlalu tidak sabar." tutur Shin Ho.
Menautkan kedua alisnya, Oya tampak tak mengerti arti ucapan sang kekasih.
" Hah?" seketika Oya termangu mendengar penuturan pria didepannya yang begitu mendadak. Mata indah Oya pun tak berkedip, ia terlalu terkejut saat ini.
" Kenapa tiba-tiba? Bukankah tadi kau mengatakan ini kencan terakhir kita?" menarik diri dari keterlejutannya, Oya melontarkan tanya sembari menatap lekat manik mata Shin Ho.
" Humm.. kencan terakhir kita. Karena setelah ini.. aku ingin kau menjadi istriku." ucap Shin Ho dengan penuh keyakinan.
" Kau tau kan, selama ini kau dan aku sangat sibuk. Untuk bertemu saja kita harus menunggu waktu yang tepat. Jadi kupikir dengan kita menikah maka setiap hari aku akan melihatmu. Saat aku terbangun dari tidurku, dan saat aku ingin tidur lagi, aku hanya akan melihatmu saja." jelas Shin Ho.
" Apa tujuanmu menikah hanya karena itu?"
" Tidak! Aku ingin menikahimu karena aku yakin. Kau tau, saat aku merasa sedih, merasa sangat hancur.. aku hanya menemukan jalan ke tempatmu saja. Aku bahagia mengenalmu, dan bahagia bisa bersamamu. Aku sudah memilihmu untuk menjadi teman hidupku selamanya." jawab Shin Ho dengan tatapan dalamnya.
" Kau tau.. sejak aku mengenalmu, aku merasa ingin melakukan banyak hal. Padahal sebelum bertemu denganmu, aku bahkan tidak pernah memiliki rencana untuk hari esok. Tapi saat mengenalmu, aku jadi ingin melakukan segala hal yang selama ini tidak pernah kulakukan. Seperti merayakan ulang tahun bersamamu, merayakan hari anniverasi bersamamu, dan merayakan hari pernikahan bersamamu. Rasanya aku ingin selalu berpesta setiap hari, merayakan kebahagiaanku, dan menciptakan moment indah dimasa muda kita agar menua nanti kita punya banyak cerita yang akan disampaikan untuk anak dan cucu kita." ucap Shin Ho panjang lebar, sementara Oya hanya diam menyimak.
" Bagaimana? Apakah kau ingin menikah denganku?" Shin Ho mengulang pertanyaannya saat melihat sang kekasih yang hanya diam membisu.
Hening, Oya tak bersuara. Namun sepersekian detik kemudian, gadis cantik itu mengangguk dan tersenyum manis.
" Terima kasih." ucap Shin Ho menangkup wajah kekasihnya. Ia hendak menghadiahi kecupan ringan dikening wanitanya, namun saat itu juga Oya memejamkan kedua mata. Sontak Shin Ho diam-diam mengulum senyumnya, dan setelahnya mengecup singkat kening Oya
Cup.
Kecupan lembut berlabuh dikening Oya, sontak membuat dua kelopak matanya terbuka.
" Kenapa kau menutup matamu?" Shin Ho mengajukan tanya, sedikit menjauh dari gadis cantik disamping. Oya tersadar, salah tingkah karena merasa malu.
" I.. Itu.." terbata-bata Oya berucap, ia berfikir sejenak.
" Apa kau berfikir aku akan mencium bibirmu?"
Blues.
Wajah Oya seketika merah merona. Ia semakin merasa malu mendengar penuturan pria gagah disampingnya. Memalingkan wajahnya, Oya tak sanggup ditatap lama oleh kekasihnya sendiri.
" Tidak perlu malu." seru Shin Ho kemudian, ia lalu memeluk Oya dengan penuh kasih sayang.
" Dengarlah, aku tidak ingin melakukan hal jauh denganmu sebelum menikah itu karena kau sangat berharga dimataku." tambahnya dengan lembut.
Mendengar ucapan Shin Ho, Oya tersenyum dalam pelukan hangat pria tampan itu. Ia bahagia, dan merasa bersyukur memiliki sosok pria seperti Shin Ho yang sangat menghargai dan selalu menjaganya.