
" Dengarkan aku.. walau kita berjalan melewati tembok cantik ini.. aku akan memastikan agar kau dan aku tetap bersama. Jika seandainya kita berpisah disuatu hari nanti, aku percaya bahwa kita akan bertemu lagi. Karena sebuah perasaan cinta, tau dimana dia harus pulang dan kepada siapa dia harus kembali." tambah Emily yang lalu memeluk erat Shi Woon.
Shi Woon tertegun. Dia tak membalas pelukan Emily karena masih mencerna setiap kata yang tadi didengarnya.
" Ayo kita pulang." seru Emily melepas pelukannya. Ia lalu meraih tangan kekasihnya dan segera berjalan lebih dulu.
...🌸🌸🌸...
Disatu sisi tampak Shin Ho yang masih berada dikedai. Setelah kepergian Shi Woon dan Emily, dirinya belum juga berniat keluar dari tempat itu. Kata-kata Shi Woon masih jelas terngiang dikepalanya.
" Cih, ternyata kau marah kerana itu." gumam Shin Ho mengingat beberapa saat lalu, dimana sahabatnya menunjukkan sikap aneh.
Menikmati masa kesendiriannya, Shin Ho kembali meneguk minuman soju didepannya. Terlalu banyak alkohol yang dikonsumsi, pikirannya pun menjadi kalang kabut.
Namun anehnya, bayangan Oya tiba-tiba melintas dibenaknya. Sosok sicantik dewasa itu, tersenyum dalam benak kosong Shin Ho hingga tanpa sadar dirinya ikut tersenyum. Senyumnya semakin lebar tatkala mengingat kembali ucapan Emily yang mengatakan bahwa Oya tak pernah disentuh oleh pria manapun.
" berarti aku menang." gumam Shin Ho dengan pikiran yang mulai kacau.
" Hei, nak. Aku akan menutup tokoku. Berapa lama lagi kau duduk disitu." pemilik kedai menghampiri karena sejak tadi ia menggeleng kepala melihat pria gagah dihadapannya yang tak hentinya meneguk alkohol hingga habis tujuh botol.
" Sebentar lagi." jawab Shin Ho tersenyum manis. Ia sudah tak dapat berfikir jernih karena dirinya sudah dikuasai minuman soju.
" Paman.. " Shin Ho bersuara, menghentikan langkah kaki sipemilik kedai yang hendak berlalu.
" Ada apa? Jangan bilang kau tidak punya uang membayar minumanmu ini." cerocos pria paruh itu dengan sangat ketus.
" Aku bingung, Paman." lirih Shin Ho setengah sadar.
" Aku... aku terus membayangkan wanita lain, tapi hatiku seperti ada pada wanita berbeda." rancau Shin Ho kembali meneguk minumannya.
" Benarkah?" Shin Ho mengulum senyumnya.
" Aku mencintai Oya ternyata." tambahnya yang terlihat sangat senang.
" Jika kau mencintainya, kenapa tidak kau katakan saja. Jangan menunggu waktu tepat sebelum penyesalan mendahuluimu." tutur Paman itu.
" Tidak.. aku tidak bisa mengatakannya." sergah Shin Ho, dan tersenyum seperti orang bodoh.
Sikap yang diperlihatkan Shin Ho membuat pria paruh baya didepannya menggeleng kepala. Tanpa banyak bicara, dia pun segera pergi tanpa berniat meladeni pria gagah yang terlihat mabuk berat.
...🌸🌸🌸...
Hunian Myeongdong, Seoul.
Tampak sepasang kekasih, Shi Woon dan Emily yang baru saja tiba di rumah. Keduanya masih bergenggaman tangan, dan seperti biasa masih enggan tuk berpisah arah.
" Apa aku harus masuk kerumah?" tanya Shi Woon pada Emily. Pandangan matanya seakan menyiratkan sesuatu, bahwa dirinya tak ingin jauh dari sang kekasih.
" Iya, kurasa kau harus masuk" jawab Emily.
Shi Woon menghela nafas, inginnya dia ditahan namun Emily justru menyuruhnya untuk segera masuk kedalam rumah. Mau bagaimana lagi, dengan menghela nafas kasar Shi Woon segera melangkah. Tapi langkahnya tertahan saat tiba-tiba Emily meraih tangannya.
" Selamat malam." seru Emily dengan senyum manis diwajah cantiknya.
Shi Woon turut tersenyum, dan tanpa aba-aba segera memeluk erat wanitanya.