Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 75



" Maaf, apa aku bisa tau namamu?" setelah terdiam cukup lama, pria asing itu memberanikan diri bersuara karena sejak tadi ia dan Emily hanya berjalan tanpa sepatah katapun.


" Emily." jawab Emily seadanya. Ia tak fokus pada lawan bicaranya karena pikirannya masih berpusat pada Shi Woon.


" Nama yang bagus." ujar pria itu tersenyum lembut. "Ah, kalau aku Hae Sun. Cha Hae Sun." tambahnya memperjelas nama lengkapnya.


" Namamu juga bagus." Emily mengangkat pandangannya, menatap nanar pada pria tampan disampingnya.


" Aku tinggal dilantai dua, didalam sana." ujar Emily kemudian. Ia menghentikan langkah kakinya, dan menunjuk bangunan bertingkat dihadapannya.


" Humm.." balas Hae Sun mengangguk kecil.


" Terima kasih sudah mengantarku, dan membawa belanjaanku." seru Emily segera mengambil alih dua kantong belanjaannya yang sejak tadi dibawa Hae Sun.


Sementara Hae Sun, ia segera berlalu setelah berpamitan pada Emily.


" Hae Sun?" panggil Emily saat pria tampan itu sudah berjalan cukup jauh darinya.


" Ada apa?" Hae Sun menoleh, dan tersenyum menatap Emily.


" Aku mencari pekerja paruh waktu, apakah kau bisa membantuku mencarinya?" tutur Emily.


" Pekerja paruh waktu?" Hae Sun tampak berfikir sejenak. "Aku saja." tambahnya dengan santai.


" Hah?" Emily tertegun sesaat.


" Aku akan datang besok pagi sebagai pekerja paruh waktumu." lanjut Hae Sun.


Emily spontan mengangguk setelah itu Hae Sun berlalu begitu saja.


...🌸🌸🌸...


Hari kini berganti, pagi sudah menyapa dengan lambaian sinar matahari yang terasa hangat. Hunian myeongdong, tempat Oya dan Emily tinggal sejak pertama kali tiba di Seoul, Korea Selatan.


" Morning, Kak." sapaan manis terdengar sangat lembut dari Emily yang rupanya sudah bangun lebih dulu dari sang kakak.


Oya, ia bukannya membalas ucapan adiknya, namun justru buru-buru berlari kedalam kamar lagi, melihat jam didinding kamarnya.


" Masih jam enam." lirih Oya tampak keherangan. Ia kembali keluar dari kamar, dan menatap intens sang adik yang tengah menyiapkan sarapan pagi.


" Ada apa, Kak?" tanya Emily tanpa menatap lawan bicaranya.


" Tidak, aku hanya penasaran kenapa kau bangun lebih awal." Oya mendelik pada Emily, ia masih tak percaya adiknya bangun lebih dulu darinya.


" Kenapa, apa ada yang salah?" tanya balik Emily yang hanya dijawab gelengan kepala dari Oya.


" Yakk, aku ingin makan telur dan nasi saja." pesan Oya sebelum berlalu kedalam bathroom.


" Ada apa dengan dia, tidak biasanya meminta makanan kesukaannya." gumam Emily.


Selang beberapa menit, muncul Oya dibalik pintu. Wanita cantik dengan tubuh ideal itu baru saja menyelesaikan ritual mandinya, ia berlalu begitu saja didepan adiknya yang menikmati sarapan pagi.


" Kakak tidak mau sarapan?" ucap Emily setengah berteriak.


" Makanlah duluan, aku ingin bersiap-bersiap dulu." sahut Oya menutup pintu kamarnya dengan rapat.


Didalam kamar, ia tak membuang banyak waktu dan segera memakai setelan terbaiknya untuk ke kampus karena hari ini adalah hari pertama dirinya mengikuti ujian untuk beralih profesi menjadi dokter.


Ting.


Sembari berpakaian, tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponsel Oya yang berada diatas kasur. Ia pun segera meraih benda pipih persegi panjang itu dan memeriksa pesan masuk diaplikasi chatingannya.


" Apa kau sudah bangun? Aku dengar hari ini adalah ujian pertamamu untuk masuk kedokteran. Semoga sukses, dan jangan lupa sarapan sebelum berangkat ke kampus."