
Kediaman Choi Sun.
Diruang makan, tepatnya dimeja makan yang begitu mewah. Meja yang terbuat dari kayu berkualitas, diatas meja sudah tertata berbagai hidangan meski kegiatan makan hanya berlangsung sebagai sarapan pagi saja, dan tak kurang dari lima belas menit.
Tuan Choi memang seperti itu, sekedar mencicipi hidangan pagi dan malam lalu sesudahnya ia akan beranjak pergi dan seperti biasa, dirinya akan menghabiskan waktu diruang baca.
Hening menyapa diruang makan, hanya dentuman sendok dan garpu yang menyatu hingga menciptakan alunan suara. Tampak Tuan Choi dan Nyonya Young yang hanya berdua menikmati sarapan pagi.
" Aku tidak melihat Hong Sik sejak semalam."
Menarik diri dari keterdiamannya, Tuan Choi bersuara. Sembari menyantap hidangan didepannya, ia juga menunggu jawaban dari istri mudanya.
Nyonya Young yang tengah asik menikmati sarapan paginya seketika berhenti dari kegiatannya. Bibirnya terkatup rapat, otaknya tengah berfikir keras untuk apa yang akan dikatakan pada suaminya.
Meletakkan garpu dan sendok, ia meraih gelasnya yang sudah diisi air putih. Meneguk habis isinya sebelum ia berbicara.
" Semalam.. Hong Sik datang padaku. Dia bilang akan menginap disuatu tempat.. kusuruh dia pamit dulu padamu, tapi katanya dia tidak enak jika menganggumu." tuturnya tersenyum manis.
Tuan Choi terdiam dengan kening mengerut. "Tidak biasanya dia pergi diam-diam, kenapa harus meminta izin padamu?" mendelik tajam pada sang istri, Tuan Choi menanti jawaban.
" Entahlah.. mungkin dia terburu-buru." Nyonya Young sebisa mungkin menahan diri agar tidak terlihat mencurigakan didepan sang suami.
" Ah, Sayang.. kau tau tidak, aku bertemu dengan Dokter Lee." wanita cantik itu dengan cepat mengalihkan pembicaraan, membahas ceritanya sendiri.
" Dia menawarkan aku untuk ikut program agar bisa cepat hamil. Bagaimana menurutmu?" tanya Nyonya Young kembali menikmati sesendok sarapan paginya.
Bunyi meja yang digebrak tiba-tiba, membuat Nyonya Young seketika berhenti berbicara. Ia terkejut begitu juga dengan beberapa pelayan yang tetap stay diruang makan.
Pandangan mata tertuju pada si tuan rumah yang terlihat kesal. Pelayan tidak tau, tapi Nyonya rumah tentu tau penyebab suaminya mendadak kesal. Ia lalu dengan hati-hati kembali meletakkan garpu dan sendoknya, siap mendengarkan ucapan suaminya.
" Semua keluar!"
Tiba-tiba dengan suara berat Tuan Choi menurunkan titah pada semua orang yang berada diruang makan. Wajahnya murung, dan ada kekesalan yang tersimpan direlung hati.
Tak lama pelayan bergegas meninggalkan ruang makan, serta Nyonya Young yang hendak beranjak dari duduknya. Ia tak berucap sepatah kata, dan hanya diam mematuhi ucapan suaminya.
" Kecuali kau.. Young." tambah Tuan Choi dengan aura dinginnya.
Nyonya Young terdiam, mematung ditempat. Ia menatap intens wajah datar suaminya yang menunjukkan ketidaksenangan.
Sementara Tuan Choi, dia kemudian terdiam sejenak. Mengambil segelas air putih didepannya dan meneguk setengah isi gelasnya.
Diusianya yang menginjak setengah abad, tak menjadikannya sebagai pria tua. Umur bisa bertambah, namun ketampanannya tak bisa ditelan waktu. Garis hidung mancung, serta pahatan wajah yang sempurna, membuatnya digemari oleh banyak wanita muda salah satunya adalah Nyonya Young yang sudah sejak lama mengagumi Tuan Choi, dari sejak wanita itu masih duduk dibangku SMA.
***
" Aku sudah mengatakan ini berulang kali. Apa kau tidak mendengarku?" membidik istrinya dengan tatapan tajam, Tuan Choi berbicara dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.