
" Ibu Young, keluarlah. Aku ingin istirahat." pinta Hong Sik setelah meminum obatnya.
" Baiklah, selamat malam." dengan senyum lembutnya, Nyonya Young segera berlalu meninggalkan Hong Sik seorang diri.
****
Myeongdong, Seoul.
Ditengah malam yang dingin, Emily tengah berada dirooftop, atap rumah. Ia duduk termenung disana dengan dua botol soju dihadapannya.
" Aku ingin mengembalikan ini." tutur Shi Woon memberikan plester luka pada Emily.
Emily menerimanya dan hendak berlalu. Namun tangannya tiba - tiba dicekal oleh Shi Woon.
" Apa kau sangat mencintai pria itu?" tanya Shi Woon menatap intens wajah cantik Emily.
" Kenapa.. kenapa kau ingin tau?" nada suara Emily begitu ketus dan tak ingin menatap wajah tampan Shi Woon.
" Aku hanya ingin mengatakan.." jeda Shi Woon tanpa melepas tangan Emily.
" Aku adalah pria itu." lanjutnya dengan santai.
Renungan Emily membuatnya teringat percakapan antara dirinya dan juga Shi Woon didepan tangga saat lalu. Emily seketika tersadar dari lamunannya dan menggelengkan kepalanya.
" Kenapa aku selalu memikirkan dia." gerutunya pada diri sendiri karena selalu memikirkan Shi Woon belakangan ini. Ia pun kembali meneguk segelas soju dan menatap langit malam.
" Apa yang kau lakukan?" terdengar suara Oya yang tiba - tiba datang.
Emily menoleh. "Kak, kemarilah." panggil Emily, menepuk tempat duduk kosong disampingnya. Oya pun mendekat dan langsung duduk disisi adiknya, menemani Emily dipertengahan malam yang begitu dingin.
" Kau selalu mengonsumsi soju, bukankah lambungmu tidak bisa menerimanya?" Oya memperingati adiknya, sembari menuang soju kedalam gelas dan meneguknya dengan sekali.
" Aku melihat berita di tv, kemungkinan besok adalah salju pertama." seru Oya.
Emily tak menyahut dan hanya mengangguk pelan. Ia tak tau harus berkata apa karena saat ini hati dan pikirannya tak selaras.
" Tetangga kita.. mungkin dia punya banyak uang sampai bisa membeli gedung ini." tutur Emily tiba - tiba, setelah Ia terdiam beberapa saat.
" Entahlah, aku hanya tau dia Dokter dan kepala rumah sakit. Mungkin orang tuanya berpengaruh jadi dia terpilih sebagai kepala rumah sakit." sahut Oya dengan santai seraya menikmati minuman soju didepannya.
" Barangkali dia anak pemilik rumah sakit." seru Emily.
" Tidak mungkin. Kalau dia anak pemilik rumah sakit, mana mungkin bisa tinggal sembarang digedung kecil seperti ini." bantah Oya.
Meski sudah bekerja di rumah sakit Choi Sun selama tujuh tahun, Oya memang sama sekali belum mengetahui bahwa Shi Woon adalah anak pemilik rumah sakit. Yang hanya Ia ketahui adalah Shi Woon seorang dokter dan kepala rumah sakit.
" Mungkin gajinya besar, ya. Jadi bisa membeli gedung ini." ucap Emily lagi.
Mendengar ucapan adiknya, Oya menghela nafas kasar. "Sejak tadi kau hanya membicarakan Dokter Woon, apa kau menyukai dia."
" Lalu aku harus membicarakan apa? Aku ingin bertanya bagaimana kuliah Kakak dan bagaimana teman - teman Kakak, tapi itu tidak mungkinkan. Kakak tidak pernah berteman dan tidak dekat dengan siapapun, lalu apa yang menarik jika aku bertanya soal hidup Kakak." cerocos Emily.
Oya menelan ludah mendengar serentetan kata bernada omelan dari adiknya. Ia tidak bicara lagi karena memang yang adiknya katakan adalah kebenaran.
...🌸🌸🌸...
Keesokan hari, pagi kembali menyapa dengan kemilauan sinar matahari namun cuaca begitu dingin. Mungkin karena prediksi hari ini yang akan turun salju pertama.
Pukul tujuh pagi, Oya sudah siap dengan setelannya yang rapi. Ia keluar dari rumah dengan tergesa - gesa dan menuruni anak tangga dengan cepat. Ia harus berburu waktu karena saat ini adalah masa dimana Ia sangat sibuk.