Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 47



Dipinggiran trotoar, tampak Hong Sik yang tengah berjalan seraya menenteng jas hitam di lengannya. Untuk pertama kali dirinya berada ditengah-tengah orang asing, berjalan seperti orang biasa. Tentu Hong Sik merasa aneh, karena selama ini ia tak pernah sekalipun berjalan kaki dan hanya terus menaiki mobil mahal miliknya, dan jika bosan pada mobilnya maka akan menggunakan mobil yang dikoleksi dibagasi.


Sementara disatu tempat, tepatnya dikediaman Choi, tampak Tuan Choi yang tengah berada diruang baca. Ruangan yang sangat membuatnya nyaman, karena didalam tempat itu terdapat banyak buku yang tertata rapi di rak.


Duduk bersandar pada sofa pijatnya, pria paruh baya itu juga tengah membaca buku kesukaannya saat masih remaja. Sebuah buku yang membuatnya teringat pada setiap moment bersama wanita yang paling ia cintai, yakni Lee Shin Ha.


Sudah tampak buku itu sangat tua, dari sampul yang mulai lusuh dan setiap lembaran beraroma kertas lama.


" Tuan.. "


Pak Han, asisten Tuan Choi, datang dengan membawa sebuah map berisikan berkas penting.


" Apa kau sudah memastikan bahwa tidak ada satupun jejak yang tertinggal?" tanya Tuan Choi dengan pandangan mata yang tak lepas dari buku yang tengah ia baca.


" Tidak Tuan." jawab Pak Han dengan sopan. Ia kemudian menaruh map itu diatas meja saat melihat majikannya yang hanya terdiam dibalik buku.


" Tuan Hong Sik.. hari ini dia tidak kekantor." tambah Pak Han membuat Tuan Choi seketika menurunkan buku yang dibacanya.


" Kenapa? Apakah dia ada masalah?" Tuan Choi mendelik tajam pada Pak Han. Ia tidak marah pada asistennya, namun sangat tidak suka mendengar berita yang dibawa orang kepercayaannya itu.


Tentu saja karena selama ini Tuan Choi berusaha keras untuk mendidik Hong Sik agar bisa menjadi penerus perusahaan CS Group.


" Sekertarisnya bilang kalau Tuan Hong Sik ingin menikmati waktu sehari untuk bersantai." jawab Pak Han


" Tuan Hong Sik ada di vila Gangnam." tutur Pak Han.


Drt.. Drt.. Drt..


Disaat Tuan Choi masih ingin mengajukan tanya, ponselnya yang diletakkan diatas meja tiba-tiba berdering, membuat pembicaraan dua pria paruh baya itu terjeda.


Segera Tuan Choi meraih ponselnya dan tersenyum saat melihat putra semata wayangnya yang menelfon dirinya.


Menggeser tombol berwarna hijau, Tuan Choi lalu menempelkan benda berbentuk pipih itu ditelinganya. Ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajah, bahwa saat ini dirinya sangat merindukan sang putra kesayangan.


" Ayah aku hari ini tidak ke kantor. Aku sedang di.. " Hong Sik yang langsung menyambar diseberang sana, seketika terdiam saat Ayahnya memotong ucapannya.


" Ayah tau." seru Tuan Choi.


Hong Sik diseberang sana tentu mengernyit bingung. Pikirannya, tak mungkin sang Ayah tau apa yang sudah diperbuat Nyonya Young malam itu.


" Dari mana Ayah tau?" dengan ragu-ragu, Hong Sik mengajukan tanya. Ia tak ingin bila saat ini Ayahnya mengetahui sifat asli dari Nyonya Young.


" Apa maksudmu? Apa semua baik-baik saja?" Tuan Choi balik bertanya, membuat Hong Sik diseberang sana terdiam.


Hening menyergap, sambungan ponsel terhubung namun tak ada suara. Rupanya Hong Sik yang tengah berdiri dipinggiran trotoar saat ini, melihat mobil Nyonya Young berhenti tepat didepannya. Dan tak lama dua pengawal keluar dari mobil, menjaga keamanan sang Nyonya Choi.