Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 70



Setelah puas menikmati berbagai jajanan dipasar malam, kini Oya dan Hong Sik tengah berada ditempat berbeda lagi yakni sebuah mini market. Keduanya sudah berencana untuk memakan es krim karena makanan yang sejak tadi dinikmati semua sangat pedas.


" Pilihlah es krim yang mana saja. Aku yang akan traktir." ujar Oya yang sudah selesai memilih es krim kesukaannya.


" Tidak perlu, aku saja yang traktir." tolak Hong Sik merasa tak enak. Ia lalu mengambil satu es krim yang rasanya sama dengan milik Oya.


" Kenapa begitu? Tadi kau sudah keluarkan banyak uang di pasar malam. Biar aku saja yang bayar ini." bujuk Oya dengan gigih.


" Tidak perlu. Biar aku.."


" Aku saja yang bayar es krim kalian."


Terdengar suara wanita yang menyela, memotong pembicaraan Oya dan Hong Sik. Keduanya serentak menoleh pada sumber suara. Oya mengernyit karena tidak mengenal siapa wanita cantik yang tiba-tiba berdiri dihadapannya dengan memakai topi hitam hingga menutupi separuh wajah, sementara Hong Sik terlihat ia menghela nafas dengan malas.


" Maaf, kau siapa?" tanya Oya dengan sopan.


" Aku... "


" Dia temanku." Hong Sik mendahului wanita itu, dengan cepat memperkenalkan pada Oya.


" Oh, benarkah?" Oya tampak terkejut. Namun setelahnya ia mengulurkan tangan sembari tersenyum manis.


" Perkenalkan, aku Oya." ucapnya dengan ramah.


" Aku Lii Kyung." balas wanita itu menerima uluran tangan Oya. Ekspresi wajahnya sulit ditebak, namun sangat jelas ia tak suka pada Oya.


" Kenapa kau disini?" Hong Sik bersuara, melempar tatapan dinginnya pada Lii Kyung. Sejak dulu ia memang tak suka pada wanita cantik itu karena menurutnya Lii Kyung sangat ceroboh.


" Aku baru pulang dari luar kota. Aku kebetulan singgah, dan bertemu denganmu." jawab Lii Kyung tanpa melepaskan tatapannya dari Oya.


" Cih, artis sepertimu tidak akan mungkin memilih singgah ditempat kecil seperti ini." sinis Hong Sik.


" Ah, karena tadi kau ingin membayar es krim kami, jadi bayarlah." tambah memberikan es krim miliknya dan Oya pada Lii Kyung. Ia lalu meraih tangan Oya dan segera pergi meninggalkan tempat itu.


Oya yang sejak tadi menyimak menjadi bingung karena tidak mengerti apa yang terjadi. Ia tak bertanya juga, dan hanya ikut dibelakang Hong Sik yang membawanya keluar dari mini market tanpa berbelanja.


" Jadi dia.. wanita yang kau sukai." gumam Lii Kyung tersenyum tipis.


****


Meninggalkan mini market, diperjalanan Hong Sik menjadi diam setelah bertemu Lii Kyung ditempat tadi. Sedangkan Oya, ia diam-diam mencuri pandang dari Hong Sik. Sejujurnya untuk pertama kali ia merasa penasaran tentang hubungan Hong Sik dengan wanita yang ditemuinya tadi. Namun melihat raut wajah pria gagah itu, membuat Oya tak berani untuk bertanya banyak hal.


" Ehemm.." Oya berdehem dengan maksud membuat Hong Sik sadar dari keterdiaman.


" Maafkan aku.." ujar Hong Sik tiba-tiba. Sontak Oya menghentikan langkahnya, menatap pada pria disisinya yang tiba-tiba melontarkan ucapan maaf.


" Untuk apa?" tanya Oya.


" Kencan kita sepertinya tidak berjalan dengan baik." jelas Hong Sik.


" Tidak apa-apa. Aku senang hari ini. Terima kasih." ucap Oya dengan cepat.


" Humm, baiklah. Kalau begitu aku akan memesan taksi." ujar Hong Sik segera merogo saku celana, mencari ponselnya.


" Hah, kenapa ini tidak mau menyala." ucapnya kemudian. Ia terlihat berusaha menyalakan benda pipih itu, namun tetap saja ponselnya tak hidup.


" Mungkin baterai ponselmu habis. Kita naik bus saja." Oya memberi solusi sembari tak berhenti melihat jam tangannya.


" Tidak, naik taksi saja." tolak Hong Sik dengan cepat.


" Apa aku bisa meminjam ponselmu? Aku akan memesan taksi." ucapnya lagi.


" Aku tidak punya aplikasinya." jawaban spontan Oya langsung membuat Hong Sik terdiam.


" Benarkah? Lalu selama ini kau tidak pernah naik taksi?" Hong Sik seakan ragu sendiri pada ucapannya. Ia tentu merasa tak percaya, sebab penduduk kota seoul tidak mungkin tak memiliki aplikasi untuk memesan taksi.


" Humm, tidak begitu juga. Aku biasa naik taksi yang berhenti dipinggir jalan saja. Jika tidak ada, maka aku akan naik bus." jawab Oya dengan jujur.


" Benarkah? Bagaimana ini." Hong Sik mendesah, ia kehabisan ide kali ini.


" Kita naik bus saja. Ayo!" ujar Oya hendak berlalu lebih dulu.


" Tunggu." Hong Sik mencekal pergelangan tangan Oya, membuat wanita cantik itu menoleh dan menatap nanar padanya.


" Aku tidak pernah naik bus, dan aku tidak biasa dengan kendaraan umum seperti itu. Terlalu banyak orang, dan itu sangat mengganggu." jelas Hong Sik.


" Hah?" Oya melongo mendengar penuturan pria didepannya.


" Itu tidak mungkin. Kau tau kan, semua orang disini naik bus, tidak mungkin kau tidak pernah menaikinya. Memangnya..." seketika ucapan Oya terhenti saat ia tersadar akan satu hal bahwa pria gagah didepannya memang bukanlah orang sembarangan seperti dirinya.


" Oh, maafkan aku." ucapnya kemudian seraya tersenyum kecut.


" Tidak apa-apa." Hong Sik tertawa kecil melihat tingkat Oya barusan.


" Baiklah, kalau begitu kita jalan kaki sampai di kampusku, lalu ambil mobilmu disana." tutur Oya dan segera berlalu, dengan mengikut Hong Sik disisinya.


" Yakk, selama ini kau naik apa saja jika ingin keluar rumah?" tanya Oya disela-sela langkah kakinya.


" Aku hanya naik mobilku saja. Jika bosan dengan mobilku, aku akan menggunakan mobil Ayahku, dan jika bosan dengan mobil Ayahku, aku akan memesan taksi." jawab Hong Sik seadanya.


Mendengar itu, Oya hanya mengangguk tanpa bertanya lebih banyak lagi.


" Kau sendiri, kenapa tidak ingin memesan taksi dengan ponselmu." tanya Hong Sik berusaha mencairkan suasana yang begitu senyap.


" Tidak ada alasan." jawab Oya singkat.


" Ah, begitu rupanya." Hong Sik kehabisan kata-kata. Jawaban Oya barusan seakan penutup pembicaraan mereka.


" Sepertinya masih jauh. Aku sangat dingin." keluh Oya menyembunyikan kedua tangannya didalam saku jaket overcoatnya.