
Sungai Cheonggyecheon, Seoul
Saat ini terlihat Shi Woon dan Emily yang tengah menyaksikan pesta kembang api seseorang. Kedua tangan mereka masih saling bertaut sejak tadi, dan sesekali Shi Woon akan menoleh pada kekasihnya dan tersenyum hangat.
" Aku tidak menyangka akan menghadiri acara orang yang tidak kukenal." seloroh Shi Woon sembari menatap langit diatas sana.
Sedangkan Emily, ia hanya tersenyum. Sebuah senyuman tertahan, pandangannya kini juga terarah pada wajah Shi Woon.
" Shi Woon." panggilnya dengan pelan.
" Ada apa?" balas Shi Woon yang kini beralih menatap Emily.
Emily terdiam, dan tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya dari sang kekasih. Seketika itu juga raut wajah Shi Woon redup, binar bahagia itu pun perlahan terkikis.
" Mari sampai disini."
Dheg.
Shi Woon bungkam mendengar pernyataan Emily yang begitu tiba-tiba. Ia ingin menolak mendengar, namun ekspresi wajah Emily kini terlihat sangat serius.
" Kenapa?" satu kalimat meluncur dari bibir Shi Woon sembari menatap nanar pada wanitanya.
" Aku hanya merasa bosan. Kita hanya melakukan hal yang membuang waktu saja." jawaban Emily lagi-lagi sukses membungkam bibir tipis pria tampan didepannya.
" Aku merasa sudah cukup waktu bermain kita. Mari menjadi lebih dewasa, dan mari selesaikan hubungan kita sampai disini." tutur Emily.
Shi Woon yang menyimak, tak terasa kini kedua matanya berkaca-kaca. Ia seakan tak percaya mendengarkan setiap ucapan kekasihnya yang begitu menohok dihati.
Hendak meraih tangan Emily, namun tiba-tiba wanitanya hengkang membuatnya langsung tersenyum getir.
" Apa kau juga akan berhenti menyukaiku?" Shi Woon menatap lekat manik mata Emily, namun seketika kekasihnya memalingkan wajah tak ingin menatapnya.
" Humm.. aku akan berhenti. Tidak.. mungkin aku sudah tidak menyukaimu lagi." ucap Emily.
" Tatap aku.. dan katakan dengan jujur." pinta Shi Woon kemudian. Ia sejujurnya masih tak percaya pada setiap kata yang dilontarkan Emily.
Emily mematung, namun sedetik setelahnya dia menoleh dan menatap Shi Woon dengan datar. "Aku sudah berhenti menyukaimu." ucapnya penuh keyakinan. Ia lalu segera pergi, meninggalkan Shi Woon seorang diri.
🌸🌸🌸
POV Emily.
Benar, aku sengaja mengatakan putus lebih dulu. Itu karena aku belum siap jika harus mendengar langsung dari Shi Woon.
Kupikir, menghabiskan waktu dengannya seperti sepasang kekasih pada umumnya— akan membuat hubungan kami nyata. Ternyata, aku harus berpisah dengan lara dihatiku.
Aku mungkin akan selalu merindukannya— merindukan Shi Woon. Hatiku sangat sakit ketika memikirkannya apalagi saat hatiku diketuk hingga tersadar bahwa kami sudah berpisah beberapa detik lalu.
Aku gagal menahan diriku untuk tidak mengeluarkan air mataku— karena setiap langkah yang membawaku jauh darinya, aku meneteskan air mata. Aku mungkin akan bersembunyi disudut ruangan nanti, memeluk kedua lututku dan menangis tanpa suara. Sangat sakit, aku bahkan kesulitan bernafas saat menangis berlebihan. Diisak tangis terdalamku, aku menarik nafas saat merasa dadaku sangat sesak.
Sekarang aku sadar— bahwa pertemuan itu pasti akan berujung pada perpisahan. Entah itu berpisah secara baik-baik atau berpisah dengan mengundang duka yang bergemuruh didada.
...🌸🌸🌸...
Disebuah restoran ternama, tampak saat ini Hong Sik dan Oya yang tengah duduk disatu meja. Keduanya tengah menikmati hidangan makan malam.
" Aku baru pertama kali kesini.. ternyata tempat disini bagus dan makanannya juga enak." seru Oya berusaha mencairkan suasana yang amat senyap.
" Humm.." Hong Sik menyahut seadanya, tanpa menatap pada Oya.
Ehemm.
Oya berdehem, menetralkan perasaannya yang gugup. Ia lalu meraih gelas kaca didepannya yang sudah diisi air putih, meneguknya setengah, dan meletakkan kembali gelas itu.
Pandanganya sejak tadi terarah pada Hong Sik, menatap pria tampan itu yang seakan berbeda dari biasanya.
" Begini.. aku ingin mengatakan sesuatu tentang kencan kita kemarin." Oya bersuara setelah terdiam cukup lama, dan dengan arah pandang yang sama.
" Cobalah dulu makananmu." ujar Hong Sik mengalihkan pembicaraannya. Sontak Oya menurut, segera mencicipi sedikit hidangan lezat didepannya.
" Kencan kita kemarin.. aku sudah memikirkannya. Aku akan mencobanya.. aku akan coba jalani.."
" Oya.."
Ucapan Oya menggantung saat tiba-tiba Hong Sik menyerukan namanya dengan wajah datar. Pria itu juga menaruh kasar sendok dan garpunya, membuat Oya keherangan.
" Iya, ada apa?" tanya Oya.
" Aku ingin mengatakan ini sejak kemarin, tapi aku tidak punya waktu. Sekarang aku ada sedikit waktu.. jadi akan kukatakan dengan jelas." jeda Hong Sik yang kemudian meneguk sedikit wine dalam gelasnya.
" Aku akan keluar negeri untuk perjalanan bisnis baru." lanjutnya membuat Oya terkejut.
" Kenapa tiba-tiba." tanya Oya seraya menatap intens wajah tampan Hong Sik.
Hong Sik terdiam, ia tak memberi jawaban pada wanita dewasa didepannya.
" Baiklah, kalau begitu aku akan menunggumu. Setelah kau datang kita bisa bicara kembali." ujar Oya dengan senyum tertahan diwajah cantiknya.
" Jangan menungguku!" ucap Hong Sik dengan begitu dingin.
" Kenapa, apa kau akan kembali lama?" Oya masih berusaha menampilkan senyum, meski sejujurnya hatinya sudah ketar-ketir.
" Tidak.. aku tidak akan kembali. Jadi jangan menungguku." terang Hong Sik dengan tegas.
Seketika lapisan bening tercipta dikedua manik mata Oya. Pikirannya tiba-tiba kalut begitu saja setelah mendengar penuturan Hong Sik.
" Apa kau mengajakku makan malam untuk mengatakan ini?" Oya masih berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
" Humm.." jawab Hong Sik seadanya. Ia memberanikan diri untuk mengangkat pandangannya dan menatap wanita cantik didepannya.
" Baiklah.. kurasa aku tidak punya banyak waktu untuk makan malam denganmu. Aku masih sibuk." ucap Oya kemudian seraya melirik jam dipergelangan tangannya.
" Nikmati makan malammu." tambahnya dan segera beranjak tanpa menghabiskan makanan didepannya.