
Mendengar nama pria yang disebutkan sang Ayah, Shin Hoo pun tersenyum. Dia sangat senang jika itu adalah menyangkut Bibi Shin Ah karena wanita cantik itu sudah dianggapnya sebagai ibu sejak ibunya sendiri sudah meninggal.
Membereskan buku-bukunya, Shin Ho kecil kini siap menyambut hidangan yang dipersiapkan Ayahnya, hingga tak lama sang Ayah datang dengan membawa piring juga ayam dan daging.
" Wah enak sekali, Ayah." seru Shin Hoo saat menyantap satu potong ayam goreng krispi.
" Humm.. ini sangat enak. Makanlah lagi, nak." ucap Ayah Hyun Joon sembari menikmati daging panggang didepannya. Ia terlihat sangat bahagia saat mengamati senyum putranya.
" Shin Ho.." panggilnya, menghentikan sejenak kegiatan makannya.
" Ada apa, Ayah?" sahut Shin Ho tanpa menatap sang Ayah. Ia sangat asik menikmati ayam gorengnya.
" Ayah mendapat pekerjaan baru, nak. Ayah tidak akan bekerja dikedai lagi. Ayah tidak akan melayani orang lagi, apalagi mencuci piring kotor mereka." tutur Ayah Hyun Joon. Sontak Shin Ho kecil terdiam. Menaruh ayam goreng krispi ditempatnya, Shin Hoo kini beralih menatap lekat wajah tampan Ayahnya.
Anak kecil berusia enam tahun itu tengah mencari gurat keseriusan diwajah Ayahnya. Bibir mungilnya yang tipis bungkam, belum mengeluarkan suara sedikitpun.
" Dimana Ayah akan pergi?" tanyanya setelah merasa bahwa sang Ayah tak berbohong.
" Ayah mendapat tawaran bekerja dari Tuan Choi. Katanya.. jika Ayah menerimanya, maka hidup putra Ayah akan dijamin sampai dewasa nanti." tutur Ayah Hyun Joon dengan senyum tipisnya.
" Kenapa? Kenapa Ayah baru menerimanya sekarang? Kenapa tidak dari dulu? Apa terjadi sesuatu?" Shin Hoo kecil masih tak percaya pada apa yang dikatakan Ayahnya, sebab dari yang ia ketahui selama ini adalah Ayahnya tak ingin sekali menerima bantuan dari keluarga Choi setelah ibu Shin Ho tiada.
" Astaga, lihatlah anak Ayah. Dia bertanya seperti reporter saja." seloroh Ayah Hyun Joon dengan setengah bercanda sembari mengacak-ngacak rambut cokelat putranya.
Shin Hoo tak bergeming. Wajahnya ditekuk, tanda dirinya tengah serius saat ini. Ayah Hyun Joon yang mengerti bahwa putranya tak ingin diajak bercanda, pun langsung terlihat tak enak.
" Ayah akan pergi keluar negeri."
" Apa... "
" Tenanglah, nak. Kau tau.. Ayah menerima pekerjaan ini karena untukmu juga. Bukankah kau bilang akan menjadi dokter saat besar nanti?" tutur Ayah Hyun Joon, yang dijawab anggukan cepat oleh Shin Hoo.
" Nah, kalau begitu.. kau harus berjuang juga untuk meraih cita-citamu. Ayah akan mencari uang, dan kau cukup belajar dengan giat." terang Ayah Hyun Joon dengan lembut.
Lagi-lagi Shin Hoo hanya mengangguk, tanpa membangkang sedikitpun.
" Ayah, saat aku menjadi dokter.. aku hanya ingin Ayah menjadi pasien pertamaku. Aku akan menjadi dokter, lalu akan memeriksa kesehatan Ayah setiap bulan. Bahkan setiap minggu juga." celoteh Shin Hoo, berterus terang pada Ayahnya tentang tujuannya dirinya bercita-cita menjadi dokter.
Ayah Hyun Joon tersenyum mendengarkan ocehan putranya. Namun senyuman itu seakan sebuah senyum kekhawatiran.
" Ayah, saat nanti Ayah pergi siapa yang akan menemaniku? Apa Ibu kontrakan akan mengusir aku?" tanya Shin Ho dengan polos.
" Eihh.. jangan berfikir seperti itu nak. Saat Ayah pergi, maka kau akan pindah dari sini. Kau akan tinggal dirumah Tuan Choi, dan berteman dengan putranya, Shi Woon." jelas Ayah Hyun Joon.
" Benarkah? Apa aku bisa berteman dengan Shi Woon?" Shin Ho memastikan ucapan sang Ayah. Ia tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.
" Tentu saja." jawab Ayah Hyun Joon dengan mantap.
" Tapi.. " jeda Ayah Hyun Joon, terlihat ragu untuk melanjutkan kalimat selanjutnya.
" Saat Ayah pergi dan tidak kembali.. kau harus terus menunggu. Jika tidak bertemu di Korea, mungkin kita akan bertemu ditempat lain. Jangan pernah mencari Ayah, begitu Ayah pergi.. maka kau harus fokus pada hidupmu saja, nak." lanjutnya tersenyum lembut.
Shin Hoo kecil yang tak mengerti apapun, hanya mengangguk sembari melanjutkan kegiatan makannya lagi.
Flassback Off.