
" Ibu? Ibu yang mana kau maksud, apakah Ibuku atau Ibumu?" Shi Woon semakin dibuat heran pada ucapan kakaknya yang tiba-tiba berubah hangat.
" Ibuku adalah Ibumu juga. Semua sama, dan kau adalah adikku, meski Ibu kita berbeda." jelas Hong Sik, menoleh dan menatap sang adik dengan pandangan teduh.
" Aku ingin mengatakan satu hal." jeda Hong Sik mendekati Shi Woon.
" Jangan mencari tau lagi tentang kematian Ibu. Ibu meninggal karena memang sudah waktunya, jadi biarkan dia pergi dengan tenang, tanpa harus merasa terganggu karena pencarianmu yang tidak berujung." lanjut Hong Sik membuat Shi Woon membeku ditempat.
Shi Woon keherangan, tampak jelas bahwa ia tengah berfikir keras bagaimana bisa Hong Sik mengetahui hal itu. Karena memang sejujurnya misi yang dijalannya hanya diketahui olehnya dan juga Shin Ho.
" Bagaimana bisa kau tau.. apa terjadi sesuatu?" tanyanya membuat sang kakak memalingkan wajah.
Hening menyapa, Hong Sik tak bersuara dan hanya helaan nafas kasar yang terdengar jelas darinya.
" Aku akan pulang, jaga dirimu baik-baik." ucapnya setelah terdiam cukup lama. Ia menepuk bahu sang adik sebelum berlalu pergi.
Shi Woon yang ditinggal begitu saja kini mengernyit, ada kebingungan yang melandanya saat ini. Rasa keingintahuan pada apa yang terjadi, menyeruak seketika. Buru-buru ia keluar dari rumah, namun bukan untuk menyusul sang kakak, tapi untuk menemui Shin Ho yang seperti biasa dapat memberinya penjelasan.
Ceklek.
Saat Shi Woon membuka pintu, tanpa diduga ia berpapasan dengan Emily yang baru saja keluar dari rumah. Terlihat bahwa kekasihnya itu akan bepergian, sebab memakai jaket overcoat tebal, dan juga syal berwarna mocha yang menutupi leher jenjang Emily.
" Kau ingin kemana?"
Melupakan niat awalnya, Shi Woon pun langsung fokus pada kekasihnya saja. Pria tampan itu tak melepaskan pandangannya dari sang kekasih.
Bibir Emily terkatup rapat, ia tak memberi jawaban pada kekasihnya, namun pandangannya sangat lekat pada wajah tampan Shi Woon.
" Kau ingin minum bersamaku?" tanya Emily setelah terdiam cukup lama.
Shi Woon mengernyit, ia tidak mengerti mengapa Emily tiba-tiba mengajaknya minum. Terlebih lagi saat ini sudah sangat larut malam.
" Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Shi Woon balik bertanya. Ia tentu tau bahwa kekasihnya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
" Tidak ada apa-apa. Oya sudah sadar, tapi sekarang dia tidur dikamarnya. Aku tidak bisa tidur, itu sebabnya aku akan keluar mencari udara segar." jelas Emily dengan senyum dibibir tipisnya.
" Tidak, kau tidak boleh keluar sendiri. Kita akan pergi bersama!" cerocos Shi Woon dengan tegas dan meraih tangan mungil kekasihnya dan segera berjalan menuruni tangga lebih dulu.
...🌸🌸🌸...
Kediaman Choi.
Didalam sebuah kamar yang besar, namun bukan kamar utama dikediakan Choi Sun. Tampak wanita cantik dengan rambut hitam yang tergerai indah, tengah duduk dikursi sofa favoritenya seraya meneguk segelas red wine dengan kadar alkohol tinggi.
Namus meski begitu, rasa mabuk belum menyapanya. Tentu saja sebab mengonsumsi alkohol bukan lagi hal baru baginya, tapi sebuah kebiasaan dari sejak ia masih remaja.
" Kenapa.. kenapa saat dia melihatku, dia merasa jijik?" ucap wanita itu yang tak lain adalah Nyonya Young. Suaranya melemah, wajahnya pun murung.
" Nyonya, saya rasa anda sudah banyak minum. Sebaiknya berhenti sekarang." ucap asisten Jung dengan sopan. Ia mengingatkan majikannya karena wanita cantik yang duduk disofa itu sudah menghabiskan satu botol penuh alkohol.
Nyonya Young tersenyum getir mendengar ucapan asistennya. Dia pun meneguk habis red wine yang tersisa digelasnya lalu menaruh gelas kaca itu diatas meja dan menatap intens pada orang kepercayaannya.
" Sejak kapan kesehatanku menjadi tanggung jawabmu?" tanyanya, mendelik tajam pada wanita didepannya yang menundukkan kepala.
" Dengarkan aku.. kau disini hanya untuk mengurusi pekerjaanku. Pekerjaan yang seharusnya tidak kukerjakan.. maka kau yang harus melakukannya. Menyangkut diriku, jangan pernah kau mengurusinya. Ah, satu lagi... aku tau, kau menyembunyikan sesuatu dariku. Sesuatu yang hanya diketahui oleh Ayahku kan!" tutur Nyonya Young panjang lebar.
Ia menekankan setiap katanya. Bukan tanpa alasan, sebab setiap kali dirinya mengonsumsi red wine, ada perasaan familiar yang terlintas dihatinya. Dan juga sebuah ingatan kilas tentang masa lalunya yang hadir diwaktu tertentu saja.
Praakk!
Seketika Nyonya Young meraih gelas kosongnya dan meleparkannya pada tembok. Sontak asisten Jung terkejut, ia bingung mengapa Nyonya-nya tiba-tiba menggila.
" Hahahaha"
Tawa pecah dari bibir tipis wanita matang itu, membuat asistennya mengernyit, semakin dibuat bingung.
" Dia jijik menyentuhku, lalu kenapa dia menikahi aku." lirihnya setelah menghentikan gelak tawanya.
" Apa dia tidak ingin aku bahagia?" tatapannya terarah pada sang asisten, namun asisten Jung sama sekali tak memberi tanggapan. Ia tau bahwa Nyonya majikannya sedang tidak baik-baik saja, itu sebabnya terus meracau tak karuan.
" Dengarkan aku, Jung. Bukankah kedua putra tiriku sedang jatuh cinta? Cari tau siapa wanita yang mereka cintai, dan buat mereka menderita agar Ayahnya tau.. bagaimana rasanya tidak berhasil dalam cinta." titah Nyonya Young dengan raut wajah yang begitu serius.
" Baik, Nyonya." ucap asisten Jung segera berlalu saat mengerti arti tatapan dalam yang diberikan majikannya.