Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 68



" Kau.. "


Ucapan Oya menggantung saat dirinya tak sengaja menangkap sosok yang mencurigakan. Tiga pria berbadan kekar dengan setelan serba hitam dan mengenakan topi serta kacamata hitam, tampak berdiri tak jauh dari Oya dan Hong Sik.


Entah mengapa, namun seketika rasa takut mengetuk relung hati Oya. Wanita cantik itu teringat pada kejadian beberapa waktu lalu, dimana mendapati Hong Sik yang sudah dipukuli oleh beberapa orang juga.


Takut kejadian yang sama terulang, Oya sontak meraih tangan kekar Hong Sik. Memegangnya dengan sangat erat. Sementara Hong Sik seketika merasa bingung, dan menatap heran pada wanita didepannya.


Sepersekian detik kemudian, Hong Sik tersadar bahwa wanita didepannya tengah ketakutan sebab tangan Oya tiba-tiba berkeringat dan terasa sangat dingin.


" Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Hong Sik dengan panik.


" Tidak." suara Oya tampak bergetar. Yang ada dipikirannya saat ini hanya satu, dimana dirinya harus menyelamatkan Hong Sik dari para penjahat itu.


" Dengarkan aku..." ucap Oya berusaha menenangkan diri.


" Humm, aku dengarkan. Bicaralah!" sahut Hong Sik dengan cepat, menatap intens wajah Oya.


" Saat hitunganku sampai tiga, lari lah." tambah Oya membuat Hong Sik tambah kebingungan. Pria tampan itu mengernyit, namun sebelum mengajukan tanya Oya sudah lebih dulu menariknya hingga mereka pun berlari.


" Ada apa?" tanya Hong Sik seraya berlari mengikuti Oya.



" Dibelakang, ada yang mengejar kita." ucap Oya setengah berteriak. Ia menambah kecepatan larinya tanpa melepas tangan Hong Sik.



Sedangkan Oya yang sejak tadi menuntun jalan kini bingung saat melihat jalan raya yang begitu padat. Ia bisa saja menyeberangi jalanan itu, namun orang dibelakangnya semakin dekat hingga mau tak mau ia memutar otak.


" Ikuti aku." serunya dengan nafas tersengal-sengal, membawa Hong Sik berlari memasuki gang sempit yang hanya memiliki lebar setengah meter.


Didalam gang, Oya dapat melihat keluar tiga pria yang tadi mengejarnya. Tiga pria itu berlalu tanpa melihatnya yang tengah bersembunyi.


" Bagaimana, apa mereka sudah pergi?" tanya Hong Sik dengan nafas memburu.


" Belum, mereka masih diluar." ujar Oya berusaha mengatur nafasnya. Ia belum juga melepaskan tangan Hong Sik, dan memilih memejamkan mata untuk menenangkan hatinya yang kocar-kacir imbas dari berlarian.


Hong Sik tertegun melihat wajah Oya yang dibanjiri keringat dingin. Entah mengapa namun seakan ada sesuatu yang membuatnya ingin menyeka bulir keringat wanita cantik didepannya.


Merasa bahwa Oya tak memperhatikan, ia pun memberanikan diri untuk menyeka keringat Oya dengan jemarinya.


Sontak Oya tersadar, kelopak matanya seketika terbuka. Ia mematung, memandangi Hong Sik yang ternyata begitu dekat dengannya yang hanya berjarak tiga puluh senti.


Deg.


Jantung Oya bertalu-talu saat Hong Sik seolah semakin mendekat. Bahkan ia dapat merasakan nafas hangat pria tampan didepannya. Menyadari ada yang salah, Oya buru-buru menurunkan pandangannya, tak ingin beradu pandang dengan Hong Sik.


" Bisakah.. kau menatapku." ucap Hong Sik dengan suara beratnya.


Mendengar ucapan Hong Sik, Oya refleks mengangkat pandangannya hingga mereka kembali beradu pandang. Bersamaan itu wajah Hong Sik semakin dekat seakan ingin memberikan sebuah ciuman.


Anehnya, kini Oya seolah tak dapat berbuat apa-apa hingga hanya menatap dalam manik mata hazel milik Hong Sik.