
Didalam rumah, Emily menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Ia mencoba mengontrol jantungnya yang memompa dengan cepat. Kecupan lembut yang tadi diterimanya begitu tiba-tiba hingga membuatnya bungkam didepan Shi Woon namun jantungnya kian berdegup kencang.
" Emily, tenangkan dirimu."
Emily menasehati diri sendiri seraya memegang kedua pipi yang bersemu merah. Selang beberapa detik, saat merasa sudah rileks, Ia pun segera melangkah namun langkahnya tertahan dipijakan ketiga saat melihat Shin Ho yang sedang bersama Oya tengah menikmati ramyeon dan kimchi.
" Oh, Emily. Kau sudah pulang." sapa Oya pada adiknya.
Emily tak menyahut namun pandangannya terarah pada Shin Ho.
" Kak, aku harus bicara dengannya dulu." ujar Emily kemudian dengan wajah datarnya.
Oya mengernyit. "Kau mengenalnya?"
" Humm." Emily mengangguk tanpa menatap Kakaknya. Fokusnya kini masih pada Shin Ho yang juga membalas tatapannya.
" Kami teman." tambahnya.
" Oh, baiklah." balas Oya seadanya.
Emily kembali keluar rumah dengan sebelumnya memberi kode pada Shin Ho untuk mengikutinya.
****
Emily dan Shin Ho kini berada di rooftop rumah. Tangan bersedekap didepan dada, Emily membidik dengan tatapan tajam pada Shin Ho, seolah dirinya mempunyai banyak kata yang harus diucapkan pada pria dewasa dihadapannya.
" Kemarin aku diam saja waktu kau memeluk Kakakku, tapi kali ini aku tidak bisa diam lagi. Tolong, jangan mempermainkan Kakakku. Aku tau, kemarin itu kau menyembunyikan sesuatu tapi kumohon jangan libatkan Kakakku. Dia itu memang lebih tua dariku, tapi bukan berarti dia dewasa. Dia tidak mengenal cinta jadi jangan membuatnya bingung."
Serentetan kalimat dilontarkan Emily untuk Shin Ho.
Shin Ho yang mendengarkan seketika tercenung. Ia mengakui bahwa dirinya salah karena nekat memeluk Oya tanpa izin dan hal itu dilakukan tepat dihadapan Emily.
Lagi-lagi Shin Ho dibuat tak berkutik pada penuturan Emily. Shin Ho benar-benar tidak menyangka bahwa Oya yang terlihat dewasa ternyata hanya seorang wanita lugu dan polos.
Seakan Ia ditampar penyesalan setelah mendengar ocehan Emily. Rasa bersalahnya kian membesar hingga hanya mampu menundukkan pandangannya tanpa berani menatap Emily lagi
Melihat Shin Ho diam saja, Emily segera berlalu.
" Aku sudah mengikhlaskan perasaanku."
Tiba-tiba Shin Ho bersuara, membuat langkah kaki Emily terhenti. Meski suara Shin Ho sangat pelan, namun Emily tentu dapat mendengarnya apalagi langkahnya yang belum jauh dari pria tampan itu.
Emily menoleh dan menatap nanar pada Shin Ho."Benarkah?"
" Humm" Shin Ho mengangguk.
" Aku sudah melupakan perasaanku untukmu. Jika kau masih ragu, aku bisa berkencan dengan Kakakmu dan jika kami memang cocok maka aku akan menikahinya." seru Shin Ho lagi dengan penuh keyakinan.
Emily seketika mematung saat mendengar pernyataan Shin Ho. Sakit hati? Tentu dirinya tidak merasa sakit bila Shin Ho sudah tidak mencintainya, namun entah mengapa disetiap nada bicara Shin Ho seolah Emily merasa ada keterpaksaan.
" Buktikanlah." ujarnya yang kemudian memilih pergi.
Tanpa disadari Shin Ho dan Emily, sepasang mata sendu sejak tadi mengamati mereka dari kejauhan.
...🌸🌸🌸...
The psychological therapy , Seoul.
Keesokan harinya, di klinik Shin Ho, pria dewasa itu baru tiba di kliniknya. Terlihat dari raut wajahnya, Ia seolah memiliki banyak pikiran yang berkecamuk.