
Enam bulan kemudian.
Hari-hari berlalu, berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Musim pun sudah berganti lagi, hawa dingin yang dulu terasa menembus tubuh sudah berganti menjadi musim semi.
Namun, lagi-lagi penantian Shi Woon tak berujung. Pria tampan itu masih sama seperti dulu, sebelum berangkat kerja akan menyempatkan diri mengunjungi bandara, dan sepulang kerja akan kembali ke bandara lagi.
Meski penantiannya sampai dipergantian hari, Shi Woon tetap tak merasa lelah menunggu wanita yang dicintainya. Ia menanamkan satu harapan, dimana Emily suatu saat akan kembali lagi.
Sementara disisi lain, tampak Shin Ho dan Oya yang semakin hari hubungannya kian baik. Kadang kala mereka juga akan bertemu dan menghabiskan waktu bersama jika memiliki waktu luang. Namun selama enam bulan belakangan, mereka juga tak pernah berkencan lagi.
Oya semakin sibuk, terlebih lagi kini dirinya bukan lagi seorang perawat melainkan dokter bedah. Begitu juga dengan Shin Ho karena setiap minggu pasiennya semakin bertambah. Kadang dirinya harus bekerja hingga larut malam karena beberapa pasien khusus akan melakukan konsultasi dimalam hari.
Hingga kini malam sudah menyapa, dan terlihat Shin Ho yang tengah berganti pakaian diruangannya karena setelah itu ia hendak menemui kekasihnya untuk diajak berkencan, mengingat bahwa selama enam bulan belakangan dirinya dan Oya tak pernah menghabiskan waktu bersama dengan baik.
...🌸🌸🌸...
Rumah Sakit Universitas Choi Sun.
Saat ini terlihat Oya yang baru saja keluar dari rumah sakit. Jam kerjanya usai, ia kini hendak pulang namun dari kejauhan dirinya melihat sosok Shin Ho yang tengah menunggu disamping mobil. Buru-buru ia menghampiri kekasihnya, dengan tak lupa menampilkan senyum terbaiknya.
" Kau disini? Apa kau sudah menunggu lama?" seru Oya dengan binar bahagia diwajah cantiknya.
Shin Ho tak bersuara, ia hanya mengangguk seraya membalas senyuman wanitanya.
" Aku ingin mengajakmu berkencan." ucap Shin Ho kemudian.
Oya terdiam sejenak, ia tampak berfikir sesaat. "Bagaimana, ya? Aku sangat lelah hari ini."
" Sekali ini saja." bujuk Shin Ho dengan lembut.
" Bagaimana jika besok saja. Besok aku tidak ada jadwal operasi, jadi mungkin aku akan pulang cepat." Oya menolak dengan senyum manisnya.
" Anggaplah ini sebagai kencan terakhir kita."
Dheg.
" Apa maksudmu?"
Alih-alih menjawab pertanyaan kekasihnya, Shin Ho justru menampilkan senyumnya membuat Oya semakin kebingungan.
" Apa karena aku tidak pernah memberikan waktu untuk hubungan kita?" kedua mata Oya seketika berkaca-kaca.
" Humm" jawab Shin Ho dengan anggukan kecil.
" Kau akan pergi juga?" lirih Oya dengan suara yang amat pelan hingga nyaris tak terdengar.
" Kau mengatakan sesuatu?" tanya Shin Ho yang hanya mendengar samar ucapan Oya.
" Tidak. Kalau begitu ayo kita berkencan." ujar Oya dengan cepat, berusaha menampilkan senyum terbaiknya. Ia lalu dengan santai menggandeng lengan pria gagah itu, bersikap natural seolah dirinya baik-baik saja.
...🌸🌸🌸...
Apartemen Shin Ho.
Setelah melalui perjalanan beberapa menit, Shin Ho dan Oya kini sudah tiba ditempat tujuan. Pria tampan itu segera keluar dari mobil lebih dulu, dan membukakan pintu untuk kekasihnya.
Sesaat kemudian, Oya terdiam memandangi bangunan didepannya. Ia tidak mengira bahwa kencan terakhirnya bersama sang kekasih akan dilakukan diapartemen Shin Ho sendiri.
Berbagai pikiran negatif pun bermunculan dikepalanya. Shin Ho yang mengulurkan tangan, seketika membuatnya tersadar dari lamunannya.
Kepanikan terlihat jelas diwajah cantik Oya, ia menelan salivanya dengan sangat susah.
" Kenapa mengajakku ke tempat ini?" tanyanya dengan raut wajah yang serius.
" Kenapa? Apa ada yang salah? Bukankah ini hal wajar, lagi pula kita sudah dewasa." terang Shin Ho dengan santai.
" A.. Apa?" Oya tergagap, menatap tak percaya pada kekasihnya.
" Ayo kita masuk." ajak Shin Ho kemudian, menarik tangan kekasihnya dan berjalan lebih dulu.