Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 80



Keluar dari rumah megah sang Ayah, Shi Woon merogoh saku jasnya, mencari ponsel dan menghubungi sahabatnya. Ia tak akan diam kali ini, dan sudah membulatkan tekad untuk mencari bukti kebusukan Ibu tirinya.


" Shin Ho, dengarkan aku." ucap Shi Woon saat panggilannya sudah terhubung.


" Ada apa?" balas Shin Ho diseberang sana.


" Temui aku dirumah sakit, kita harus mencari dokumen penting digudang rumah sakit." jelas Shi Woon sembari masuk kedalam mobilnya.


Tanpa memutus panggilannya, ia mengemudikan mobil sport mewahnya, meninggalkan halaman rumah Choi Sun.


" Baiklah, tunggu aku saja." ujar Shin Ho dan segera memutus panggilan itu.


...🌸🌸🌸...


Rumah Sakit Universitas Choi Sun.


Tak membutuhkan waktu lama, Shi Woon kini sudah sampai kembali di rumah sakit. Ia berjalan gontai memasuki gedung bertingkat itu, tak memperdulikan lagi tatapan aneh dari orang-orang. Melewati lobi rumah sakit, saat hendak masuk kedalam lift, Shin Ho juga datang.


" Shi Woon, seseorang mengirimi aku bunga azalea lagi. Dan ada suratnya juga." tutur Shin Ho menyodorkan selembar kertas.


" Tidak, orang itu hanya ingin mempermainkan kita." Shi Woon mengabaikan sahabatnya dan segera masuk kedalam lift yang disusul oleh Shin Ho.


" Apa maksudmu?" Shin Ho mengernyit, merasa bingung pada ucapan sahabatnya. Sedangkan Shi Woon, ia belum memberi penjelasan dan buru-buru menekan tombol lift yang akan mengantarnya ke lantai dimana gudang rumah sakit berada.


" Yang selalu mengirim bunga azalea, apa dia Nyonya Young?" tambah Shin Ho yang dijawab anggukan kepala oleh Shi Woon.


" Minggu lalu aku mendengarnya bicara dengan asistennya. Dia mengirim bunga dan surat agar kita sibuk mencari dengan hal itu." jelas Shi Woon.


" Wanita itu.. dia sangat licik." Shin Ho menghela nafas kasar.


Tak lama mereka sudah sampai dilantai tujuan. Keduanya bergegas keluar dari lift, dan berlari kecil menuju gudang rumah sakit.


Sesampainya didalam gudang, keduanya terkejut saat melihat rak tempat berkas lama disimpan, menjadi kosong, tak ada apapun disana.


" Sial." umpat Shi Woon dengan kesal.


" Bagaimana bisa dia bergerak cepat." lirih Shin Ho yang juga merasa kesal.


" Tidak ada jalan lain, kita harus menemui wanita gila itu." Shi Woon hengkang, meninggalkan gudang dengan hati yang memanas. Tujuannya kali ini adalah menemui Nyonya Young, dan membuat perhitungan pada wanita cantik itu.


" Shi Woon."


Shin Ho yang segera menyusul sahabatnya, mencekal pria itu agar tak pergi dulu.


" Bukankah semua ini aneh? Kencanmu dan Emily tiba-tiba jadi trending topik, lalu Ayah tidak mengatakan apapun."


Shi Woon tersadar, ia terdiam sesaat, berusaha mencerna kata demi kata yang dilontarkan sahabatnya.


" Benar.. aku tidak memperhatikan Ayah selama ini." lirih Shi Woon.


" Ikutlah denganku. Untuk tau yang sebenarnya, kita harus membuat Nyonya Young bicara." Shin Ho menuntun jalan, ia berjalan lebih dulu dari Shi Woon.


...🌸🌸🌸...


Saat ini terlihat Nyonya Young yang sedang bersiap-siap, hendak keluar menemui orang suruhannya.


Setelah beberapa menit lalu ia menerima telfon dari orang kepercayaannya dan membahas masalah berkas lama dirumah sakit, ia segera beranjak dan bergerak cepat mengganti pakaiannya. Tentu ia tak sendiri sebab ada asistennya Jung yang selalu setia menemani.


" Kau sudah memastikan kan bahwa dokumen dari rumah sakit itu aman? Aku tidak mau selembar pun hilang." ucap Nyonya Young pada asistennya.


" Iya, Nyonya." jawab Jung dengan cepat.


" Baiklah, kau pergilah lebih dulu." ujar Nyonya Young. Tak lama Jung berlalu, meninggalkan majikannya seorang diri.


" Dua anak bodoh itu akan kesusahan mencari bukti." gumam Nyonya Young tersenyum licik.


****


Ceklek.


Membuka pintu kamarnya, Nyonya Young sudah rapi dengan setelan elegantnya kini hendak meninggalkan kamar. Namun seketika Hong Sik hadir dihadapannya dengan tampang murung.


" Kenapa? Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Nyonya Young menatap putra tirinya dari ujung kaki hingga ujung rambut.


" Kalau ingin mengatakan sesuatu, katakanlah! Aku sibuk, dan waktuku tidak banyak." ucapnya dengan angkuh seraya melirik jam mewah dipergelangan tangannya.


Hening menyapa, Hong Sik masih diam dengan bibir terkatup rapat. Ia seakan enggan tuk berbicara, namun tak juga ingin jika Nyonya Young berlalu tanpa mendengarkannya.


" Baiklah, sepertinya tidak ada yang perlu dibahas. Aku akan pergi." ucap Nyonya Young lagi dan bergegas pergi.


" Tolong.. "


Satu kata terdengar sangat berat dari Hong Sik, membuat langkah Nyonya Young terhenti. Wanita cantik itu mematung ditempat, menoleh pada sumber suara itu.


" Tolong jangan ganggu adikku. Dia tidak tau apapun, aku akan membuatnya berhenti dari pencariannya." lanjut Hong Sik yang tak ingin menatap wajah wanita didepannya.


" Kau mengatakan apa?"  Nyonya Young menyeringai penuh arti. Hatinya bergetar karena untuk pertama kali pria muda didepannya meminta pertolongan.


" Apakah caramu meminta tolong sudah sesuai adab?" tanya Nyonya Young dengan seutas senyum tipisnya.


" Aku adalah Ibumu. Ibu tiri juga adalah seorang Ibu, kan? Bagaimana bisa kau meminta tolong padaku dengan sangat formal." lanjutnya seraya menggeleng. Ia lalu segera pergi tanpa berbicara sepatah kata lagi.


" Ibu... "


Deg.


Panggilan hangat dari Hong Sik membuat Nyonya Young seketika membeku ditempat.


Hidup sebagai Ibu dari anak-anak suaminya selama dua puluh tahun lebih, dan untuk pertama kali salah satu putra Tuan Choi baru memanggilnya Ibu. Tentu saja Nyonya Young tersentuh dengan panggilan itu, sebab selama ini ia memang sangat mendambakan seorang anak.


" Ibu, tolong jangan sakiti adikku." pinta Hong Sik dengan bersungguh-sungguh.


Nyonya Young yang mendengarnya tak memberi jawaban, setelahnya segera berlalu begitu saja.