Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 91



" Apa kau sudah menemukan penyebab kecelakaan Emily?" tanya Shi Woon yang sejak tadi sudah tak sabar mendengar hasil pencarian sahabatnya.


Ya, sejak beberapa saat lalu, Shi Woon memang sudah mengabari Shin Ho dan menyuruh sahabatnya itu untuk mencaritahu apa yang terjadi ditempat kecelakaan kekasihnya.


" Tidak. Aku tidak menemukan apapun. Aku sudah mencari rekaman cctv, tapi sepertinya ada yang sengaja menghapusnya." jawab Shin Ho


Mendengar penuturan sahabatnya, Shi Woon menghela nafas kasar. Ia kini menjadi lebih yakin bahwa semua yang menimpa sang kekasih tak lain adalah ulah dari sang Ayah.


" Baiklah, tidak perlu mencarinya lagi." Shi Woon terlihat putus asa. Ia segera pergi meninggalkan Shin Ho begitu saja.


Sepanjang langkah kakinya dikoridor rumah sakit, Shi Woon terus saja merenung. Rasa takut tiba-tiba menghuni relung hatinya. Ia khawatir bila hal buruk akan kembali menimpa kekasihnya.


Namun tak lama Shi Woo kembali pada kesadarannya saat dari jauh ia melihat sang Ayah yang baru keluar dari sebuah ruang rawat. Tak membuang waktu lama, ia segera menghampiri Tuan Choi dan menatap datar pada pria paruh baya itu yang selalu ditemani oleh Pak Han— asisten sekaligus orang kepercayaan Tuan Choi.


" Apa yang Ayah lakukan disini?" tanya Shi Woon menatap nanar pada Tuan Choi dan juga Pak Han.


Tuan Choi tak memberi jawaban, ia hanya diam dengan menampilkan wajah datarnya.


Sepersekian detik kemudian, Shi Woon sontak tersadar akan sesuatu. Buru-buru dirinya berlalu tanpa memperdulikan sang Ayah lagi. Langkahnya gontai, menuju kamar rawat Emily. Ia khawatir bila Ayahnya melakukan sesuatu pada wanitanya itu.


Sesampainya disana, helaan nafas lega pun terdengar jelas saat mendapati Emily yang ternyata masih terbaring seperti sebelumnya.


Setelah memastikan bahwa kekasihnya baik-baik saja, Shi Woon hendak berlalu, namun seketika langkah kakinya tertahan saat tangannya tiba-tiba dipegang begitu erat. Sontak dirinya menoleh, dan saat itu juga terkejut saat melihat Emily sudah sadar.


Binar bahagia langsung bermunculan, senyum lembut pun terukir jelas. Shi Woon pun segera meraih kedua tangan wanitanya, dan menatapnya dengan penuh kasih.


" Apa ada yang terasa sakit?" tanya Shi Woon yang tak hentinya menciumi punggung tangan Emily.


Emily tak bersuara, ia hanya menjawab dengan sebuah senyuman, dan bulir kristal yang keluar dari sudut matanya. Shi Woon yang melihat itu segera menyeka, tanpa bertanya lebih lanjut.


" Aku ingin minum." ucap Emily setelah terdiam cukup lama.


Shi Woon segera membantu kekasihnya untuk bersandar, dan kemudian meraih segelas air putih diatas nakas. Ia dengan telaten membantu Emily meneguk sedikit demi sedikit air putih itu, dan setelahnya meletakkan kembali gelas itu ditempat semula.


" Sebentar saja.. aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja." balas Shi Woon yang kembali mengecup punggung tangan Emily.


" Apa kau sangat khawatir?" tanya Emily.


" Tentu saja.. karena aku takut jika kehilangan orang yang kucintai." jawab Shi Woon dengan cepat.


Mendengar itu, Emily mengulum senyumnya. Ia merasa bahagia karena memiliki pria penyayang seperti Shi Woon.


" Kalau begitu periksa aku.. dan katakan kapan aku bisa pulang." pinta Emily kemudian. Shi Woon mengernyit, menautkan kedua alisnya.


" Kenapa kau ingin pulang cepat?" tanya Shi Woon sembari merapikan anak rambut Emily yang terurai dan menghalagi wajah cantik wanitanya.


" Tidak.. aku hanya merasa bosan disini." jawab Emily seadanya.


Tok. Tok. Tok.


Ketukan pintu dari luar membuat perbincangan hangat kedua pasangan itu terhenti. Emily menoleh begitupun dengan Shi Woon, dan tak lama muncul Oya dibalik pintu.


" Emily, kau sudah sadar." pekik Oya segera berlari menghampiri adiknya.


" Yakk.. kenapa kau bisa begini. Apa yang terjadi? Kau ceroboh sekali." omelan beruntun keluar dari bibir tipis Oya seraya menghadiahi sebuah pelukan hangat untuk adiknya. Ia tak dapat menyembunyikan rasa takutnya bila terjadi sesuatu pada sang adik.


" Yang terpenting aku baik-baik saja." celetuk Emily membalas pelukan kakaknya.


Shi Woon yang melihat keakraban dua wanita didepannya, mengulum senyum turut bahagia.


" Apa ada bagian yang terasa sakit?" tanya Oya setelah mengurai pelukannya. Emily menggeleng dan hanya tersenyum.


" Baiklah, istirahat saja dulu. Kau harus makan dan minum obat. Aku akan mengambilkanmu makan." ujar Oya segera berlalu dengan tak lupa mengelus lembut puncuk kepala adiknya.