
Menjejaki kakinya ditanah, Oya berpapasan dengan wanita paruh baya yang sangat cantik. Wanita yang tak lain adalah Nyonya Young. Oya yang sedang berpacu dengan waktu hanya melirik sekilas pada Nyonya Young dan mobil mewah yang terparkir tak jauh, setelahnya Ia segera berjalan gontai, menjauh dari gedung.
Nyonya Young pun begitu, hanya sempat melihat sekilas wajah Oya sebelum wanita itu menjauh pergi. Nyonya Young segera menapaki anak tangga yang akan mengantarnya kelantai dua, dan setibanya diatas Ia kembali bertemu dengan sosok wanita muda nan cantik, yakni Emily.
" Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Emily saat melihat Nyonya Young yang hanya berdiam diri diujung tangga.
" Aku mau bertemu dengan Shi Woon." ujar Nyonya Young, menatap lekat wajah cantik natural Emily.
" Apa kau tetangganya?" Nyonya Young mengajukan tanya, tanpa memberi kesempatan untuk Emily bertutur ucap.
" I.. Iya." jawab Emily dengan ragu.
Ceklek.
Disaat Nyonya Young hendak berucap lagi, pintu rumah Shi Woon seketika terbuka membuat kedua wanita itu menoleh seketika. Tampak Shi Woon yang muncul dengan setelan jas serta jaket overcoat yang ditenteng.
Shi Woon yang baru menyadari akan kehadiran Ibu tirinya, terdiam beberapa saat seraya membidik Nyonya Young dengan tatapan tak suka.
" Emily, kau akan membuka toko rotimu kan?"
Shi Woon seakan memberi kode pada Emily agar wanita dewasa itu meninggalkannya berdua bersama Nyonya Young.
" Ah, iya. Aku pergi dulu." balas Emily dengan kikuk.
Emily pun segera berlalu menuruni tangga dengan tertatih - tatih.
" Kenapa kau kesini?" tanya Shi Woon dengan dingin.
" Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk menghadiri acara perjamuan sabtu nanti." jawab Nyonya Young dengan santai seraya memperlihatkan senyuman penuh arti.
" Kau tidak akan mungkin mau membuang waktumu hanya untuk mengatakan hal tadi. Tolong, jangan ikut campur pada hidupku dan jangan menyentuh wanita tadi." tutur Shi Woon dengan datar.
Mendengar ucapan anak tirinya, Nyonya Young tersenyum tipis. Ia lalu menarik tangannya agar terlepas dari Shi Woon.
" Tebakanku benar, kau mencintai wanita itu." ucap Nyonya Young.
" Untuk pertama kalinya kau meminta tolong padaku hanya karena wanita itu. Bukankah itu berarti wanita yang tadi sangat berarti untukmu kan." seringai Nyonya Young terlihat jelas.
Ia mengamati gurat wajah anak tirinya yang begitu datar, seolah tak suka pada kehadirannya.
" Kau pikir aku punya waktu untuk mengurusi wanita biasa seperti dia? Kurasa aku terlalu sibuk jika harus mencampuri hidupmu dan wanita itu." lanjut Nyonya Young dan hendak berlalu, namun Ia kembali menoleh sebelum kaki jenjangnya yang dibalut hils menapaki anak tangga.
" Jikapun aku mau.. aku akan memakai uangku untuk mengusik wanitamu." tambahnya dengan seringai licik dan segera berlalu menuruni anak tangga.
Shi Woon terdiam, Ia hanya mampu melihat Ibu tirinya yang perlahan menjauh.
*****
Disaat akan masuk kedalam mobilnya, Nyonya Young tak sengaja melihat Emily dari kejauhan. Emily yang tengah berberes didalam toko rotinya, diamati begitu intens oleh Nyonya Young.
" Rupanya kau.. kau wanita yang membuat Shi Woon keluar dari rumah." gumamnya dengan seringai licik, setelahnya Ia segera masuk kedalam mobil.
...🌸🌸🌸...
The Psychological Therapy, Seoul.
Masih dengan pikiran yang sama, masih dengan hati yang berkecamuk, Shin Ho belum bisa melupakan peristiwa malam itu, dimana Ia baru mengetahui bahwa dirinya dan sang sahabat ternyata mencintai wanita yang sama.