Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 83



Kedai Hansu, adalah kedai khusus yang selalu didatangi oleh pekerja rumah sakit. Selain tempatnya yang nyaman, kedai itu juga dekat dari rumah sakit Choi Sun.


Tak membuang waktu lama, mereka segera masuk kedalam kedai dan memesan beberapa botol soju, bir, dan daging.


Seraya menunggu pesanan, mereka kembali melanjutkan perbincangan sementara Oya hanya diam menyimak tanpa menanggapi.


****


" Hei, apa pendapat kalian tentang hubungan Dokter Woon dengan pacarnya?" tanya Na- Heol pada ketiga temannya.


" Menurutku.. " Kim- Jeon tampak berfikir sejenak, begitu juga dengan Jan- Seung. Sedangkan Oya, ia diam-diam menunggu tanggapan dari temannya mengenai adiknya.


" Menurutku.. mereka serasi saja. Lagipula wanita itu cantik, kelihatan dari postur tubuhnya."


" Iya, benar."


Helaan nafas lega terdengar jelas dari Oya. Jawaban Kim- Jeon dan Jan- Seung sangat membuatnya senang karena ia sekarang tau bahwa tidak semua penduduk seoul tak menyukai adiknya.


" Benarkan, aku juga berfikir begitu. Tapi orang lain pada heboh." celetuk Na- Heol yang setuju akan pendapat temannya.


" Iya.. menurutku juga begitu. Mereka serasi." ucap Oya yang tanpa sadar mendapatkan tatapan aneh dari ketiga temannya.


" Yakk.. aku tadi melihat Dokter Shin Ho. Dia semakin tampan." celetuk Jan- Seung, mengganti topik pembicaraan. Ia kini mengingat kembali pertemuannya dengan Shin Ho disepanjang koridor rumah sakit.


" Benarkah?" tanya Na- Heol yang dijawab anggukan kecil oleh Jan- Seung.


" Lalu apa yang dilakukannya tadi?" tanya Na- Heol lagi. Begitulah sosok Na- Heol, ia sangat mengagumi Shin Ho hingga setiap kali mendengar nama pria tampan itu maka dirinya tidak akan berhenti bertanya lebih dalam.


" Pesanan empat perawat cantik sudah tiba."


Jan- Seung yang tadi hendak menjawab pertanyaan Na- Heol kini dijeda saat wanita paruh baya yang tersenyum lebar, datang membawa nampan berisikan pesanan para perawat cantik itu.


" Nikmatilah." seru wanita paruh baya itu dengan sangat ramah.


" Terima kasih, Bibi. Kami akan menikmatinya." sahut Jan- Seung tak kalah ramah.


Wanita paruh baya itu lalu segera pergi, meninggalkan meja keempat wanita cantik itu.


" Aku melihatnya masuk kedalam ruangan Dokter Woon." jawab Jan- Seung yang baru mendapat kesempatan untuk memberi jawaban pada temannya seraya mulai menuang soju kedalam gelasnya.


" Wah, Dokter Woon dan Dokter Shin Ho benar-benar akrab, ya." ucap Na- Heol.


" Yakk, tentu saja dia akrab. Kau tidak tau ya.. katanya mereka itu pernah menjadi saudara angkat." sahut Kim- Jeon.


" Benarkah? Kenapa aku bisa tidak tau?" Na Heol terkejut, menautkan kedua alisnya dengan pandangan terarah pada Kim- Jeon. Sedangkan Oya yang sejak tadi menjadi pendengar, kini mulai bereaksi saat mendengar nama Shin Ho disebut.


" Dari mana kau tau?" Jan- Seung mengajukan tanya setelah menarik diri dari keterkejutannya.


" Aish, kalian tidak kenal aku? Kakekku dulu Dokter senior dirumah sakit Choi Sun, dan dia adalah sepupu Tuan Choi. Jadi aku tentu mendapat berita dari Kakekku." cerocos Kim- Jeon dengan gaya ciri khasnya yang selalu membuatnya terlihat angkuh.


" Benarkah?" Jan- Seung dan Na- Heol serentak bersuara. Ia melongo mendengarkan penuturan temannya karena memang mereka belum mengenal baik sosok Kim- Jeon.


" Apakah mereka sungguh bersaudara?"


Suara lembut Oya yang menengahi, sontak membuat ketiga perawat cantik itu menatap kearah yang sama.


" Wah, ternyata Oya sudah.. "


Plak..


Na- Heol yang hendak berbicara, seketika terdiam saat Kim- Jeon yang tanpa aba-aba menapok bibir tipisnya.


" Yakk.. jangan bicara aneh. Untung hari ini dia lunak, tidak seperti biasa." bisik Kim- Jeon dengan pelan lalu menoleh pada Oya dan tersenyum manis.


Ia tentu merasa senang karena wanita cantik diseberang mejanya kini mau berbaur. Sejujurnya, dibalik kesuksesan Kim- Jeon menjadi seorang perawat senior, ia juga diam-diam menaruh rasa kagum pada sosok Oya. Oya hanyalah pendatang di Korea, namun attitudenya sangat baik. Itulah yang membuat Kim- Jeon ingin menjadi teman Oya, namun karena wanita berambut pendek itu sangat tertutup, membuat Kim- Jeon sedikit sulit untuk mendekat. Dan dihari ini, ia mendapat sedikit harapan untuk bisa menjalin pertemanan dengan Oya melalui pembahasan keluarga Choi Sun.


****


" Iya, kalian tau tidak.. Tuan Choi itu hanya keluarga biasa. Yang kaya itu adalah keluarga istrinya." ucap Kim- Jeon.


" Wah, benarkah? Apakah itu sebabnya Tuan Choi menikahi istri mudanya yang saat ini?" tanya Na- Heol.


" Iya, apakah itu benar." timpal Jan- Seung.


" Tentu saja. Tuan Choi itu dulu hanya karyawan magang di perusahaan pusat. Perusahaan Kimhee Group yang saat ini namanya diganti menjadi CS Group. Lalu perusahan itu diwariskan pada cucu pertama keluarga besar Kim dan Choi." jelas Kim- Jeon.


" Dari mana kau tau?" Oya tanpa sadar mulai ikut arus dengan teman-temannya. Hilang sudah sosok Oya yang selama ini pendiam dan terkenal tak peduli pada hal sekitarnya.


" Kakekku waktu itu masih diundang diacara perjamuan yang diadakan Tuan Choi dihalaman rumahnya." jawab Kim- Jeon.


" Lalu apa lagi, cepatlah cerita." Jan- Seung dan Na- Heol tampak bersemangat dengan pembahasan mengenai keluarga pria tampan yang mereka kagumi.


" Yeah, kalian tau.. Tuan Choi itu sangat beruntung. Setelah dia menikahi putri pertama dari keluarga konglomerat yaitu Tuan Kim.. aset keluarga Tuan Kim langsung diwariskan pada Tuan Choi. Mulai dari perusahaan KimHee Group dan rumah sakit universitas KimHee. Lalu kalian tau, setelah Tuan Choi menerima semua itu, dia mengganti semua dengan namanya. KimHee Group jadi CS Group dan rumah sakit universitas KimHee, jadi rumah sakit universitas Choi Sun." jelas Kim- Jeon panjang lebar sembari memakan satu demi satu bulgogi panggang didepannya.


" Yah.. tapi kenapa Tuan Kim mau saja mewariskan semua kekayaannya? Kan dia punya satu putri bungsu lagi." ucap Jan- Seung mengingat silsilah keluarga Kim yang sangat berpengaruh di Korea.


" Katanya putri bungsu Tuan Kim itu hamil diluar nikah. Tapi publik tidak tau sampai sekarang. Itu sebabnya Tuan Kim tidak ingin memberikan sepeser pun hartanya untuk siputri bungsu. Apalagi Nyonya Yoo memang kesayangan Tuan Kim." tutur Kim- Jeon.


" Lalu dimana anaknya itu sekarang." tanya Na- Heol. Sedangkan Oya sejak tadi semakin dibuat penasaran dengan cerita temannya.


" Anaknya hilang. Kalian tau.. surat kabar yang ada digudang rumah sakit itu. Surat kabar yang berusia tiga puluh tahun, disitu ada berita Nyonya Young. Disurat kabar itu katanya dia kecelakaan, tapi sebenarnya orang suruhan Tuan Choi yang sengaja menabraknya agar bayi itu gugur dan tidak membuat malu keluarga besar mereka."


" Gila."


Serentak Oya, Na- Heol, dan Jan- Seung berucap kata yang sama. Mereka tidak menduga bahwa sosok Tuan Choi yang dikenal sangat dermawan dan murah hati ternyata sangat buruk.


" Kalian jangan sampai memberitahu siapapun. Karena Tuan Choi dan Kakekku itu sudah seperti sahabat, jadi Tuan Choi selalu memberitahu kakekku tentang rahasianya." pesan Kim- Jeon sebelum meneguk kembali soju digelasnya.


" Lalu bagaimana bisa istri pertama Tuan Choi meninggal?" setelah lama menahan diri, Oya akhirnya memberanikan diri untuk mengajukan tanya. Pertanyaan yang sejak tadi ingin diketahui kejelasannya.


Kim- Jeon tampak berfikir sejenak. "Itu karena Nyonya Yoo sebenarnya mengidap penyakit jantung. Dan karena Nyonya Yoo adalah anak kesayangan Tuan Kim, jadi Tuan Kim rela memberikan hartanya untuk Tuan Choi agar menantunya itu mengurus Nyonya Yoo sampai pulih."


" Tapi Nyonya Yoo tidak sembuh, dia meninggal. Lalu apa yang terjadi?" tanya Oya.


" Entahlah.. semua orang bingung pada bagian itu. Kalian tau, kematian Nyonya Yoo sangat misterius. Awalnya dia penyakit jantung, jadi dia selalu melakukan operasi di rumah sakitnya sendiri. Tapi kalian tau.. hari itu, tiba-tiba ada laki-laki yang dengan siap mendonorkan jantungnya untuk Nyonya Yoo. Dan anehnya, Tuan Choi menerima pendonornya, lalu setelah itu Nyonya Yoo benar dioperasi dan yang menangani adalah Kakekku. Tapi yang lebih aneh, setelah itu Nyonya Yoo benar-benar sehat, dia sembuh bahkan sempat berkunjung kerumah sakit dengan pengawalnya. Tapi setelah satu minggu kemudian, media menerima kabar dari Tuan Choi kalau Nyonya Yoo meninggal." celoteh Kim- Jeon yang mulai terlihat mabuk imbas dari tiga botol soju yang dihabiskannya.


" Tuan Choi benar-benar punya rahasia besar." Jan- Seung yang juga mulai mabuk, menyahut. Namun tetap saja wanita itu meneguk sojunya.


" Selain rahasia, dia juga punya banyak istri. Lalu bagaimana dengan istri keduanya?" tanya Na- Heol.


" Istri kedua Tuan Choi itu adalah ibu kandung Dokter Woon. Katanya Nyonya Shin Ha meninggal karena dia kritis setelah melahirkan. Kandungannya memang lemah kata Kakekku." ucap Kim- Jeon.


" Ohhh... " Jan- Seung dan Na- Heol serentak berohoria setelah Kim- Jeon menyelesaikan ucapannya.


" Lalu bagaimana nasib pendonor itu?" Oya yang hanya meminum sedikit soju, tak merasa mabuk hingga masih bisa mengontrol diri daripada teman-temannya.


" Cih, pendonor itu menurutku sangat bodoh." ucap Kim- Jeon tersenyum getir.


" Kenapa?" tanya Oya lagi.


" Dia itu punya anak. Kakekku bilang, anaknya datang kerumah sakit waktu itu saat jantung Ayahnya akan diambil dan dipindahkan pada Nyonya Yoo. Anak laki-laki itu terlihat sangat menyedihkan." ucap Kim- Jeon.


" Mungkinkah anak laki-laki itu adalah Dokter Shin Hoo yang diangkat menjadi anak Tuan Choi." Na- Heol yang asal bicara menyahut tanpa menyadari kalimat yang diucapkannya.


" Yakk.. omong kosong apa yang kau katakan. Kata kakekku orang tua Dokter Shin Hoo masih hidup. Dia diluar negeri." Kim- Jeon dengan cepat membantah ucapan temannya, membuat Na- Heol terdiam.


" Jika orang tua Shin Hoo masih hidup, kenapa Tuan Choi mau saja membuatnya jadi anak angkat?" Oya tampak kebingungan mendengar ucapan temannya barusan.


" Itu karena Dokter Shin Hoo berasal dari keluarga yang sangat miskin. Orang tuanya menjadi sukarelawan diluar negeri." jelas Kim- Jeon.


" Huekk.. "


Perbincangan panjang mereka akhirnya terhenti saat terdengar suara aneh dari Jan- Seung. Rupanya wanita dengan rambut sebahu itu sudah meneguk banyak alkohol yang kini menghuni lambungnya.


" Jan- Seung, jangan muntah disini. Ayo kita keluar dulu." cegah Oya yang dengan sigap menghampiri temannya, dan membantu Jan- Seung beranjak dari kursi.


" Oya, sepertinya ada yang ingin keluar." Jan- Seung meracau tak karuan seraya melangkah keluar dari kedai dengan dibantu oleh Oya.


Setibanya diluar, Jan- Seung dengan puas mengeluarkan isi perutnya. Oya tak merasa jijik, namun ia justru merasa kasihan pada temannya.


" Aku akan mengambilkanmu minum. Tunggulah." seru Oya segera berlari kedalam kedai.


Namun tiba didalam sana, ia dibuat terkejut saat Kim- Jeon juga sudah tak sadarkan diri diatas meja.


" Hey, Oya.. tolong antar Kim- Jeon ke apartemennya. Aku akan mengantar Jan- Seung saja." ucap Na- Heol yang masih memiliki kesadaran penuh sebab tak meminum banyak alkohol.


Oya mengangguk dan segera menghampiri Kim- Jeon, membantu wanita itu berdiri dari duduknya.


" Oya, tunggu. Aku akan menulis alamat Kim- Jeon." tutur Na- Heol lagi. Buru-buru ia meraih tasnya dan mencari pulpennya.


" Yah, aku tidak punya kertas." Na- Heol tersadar saat dirinya hendak menulis alamat Kim- Jeon.


" Huekk, huekk." Kim- Jeon setengah sadar, hendak memuntahkan isi perutnya. Refleks Oya menoleh dan terlihat panik. Ia tentu akan merasa tak enak bila temannya mengotori tempat orang lain.


" Tulis saja ditanganku. Aku harus membawa Kim- Jeon keluar." panik Oya mengulurkan tangannya. Na- Heol pun segera menulis alamat Kim- Jeon ditelapak tangan Oya.


" Air, aku butuh air." lirih Kim- Jeon hendak beranjak, namun Oya dengan sigap membantunya agar tak jatuh.


" Iya, aku akan memberimu air. Tapi kita keluar dulu." seru Oya segera memapah tubuh temannya.