
Disatu tempat, tepatnya dikedai Hanchu. Tampak Shi Woon dan Emily yang kini tengah duduk berdampingan disatu meja.
Keduanya sudah memesan soju dengan hidangan daging seperti iga panggang dan bulgogi.
Tak lama menunggu, pesanan mereka pun datang. "Wah.. ini terlihat sangat enak." ucap Emily saat pelayan kedai sudah menyajikan daging didepannya.
Shi Woon yang melihat ekspresi wajah kekasihnya, sontak tersenyum.
" Makanlah, aku yang akan traktir." ujar Shi Woon kemudian.
Emily tersenyum sembari mengangguk. Sebelum memakan iga panggang miliknya, ia melirik sekilas pada Shi Woon yang sejak tadi hanya memandanginya saja.
" Yakk, berhenti menatapku, dan makanlah juga." cerocos Emily seraya meniup daging didepannya yang masih panas.
" Baiklah, mari makan." Shi Woon segera meraih sumpitnya dan ikut menikmati daging panas diatas meja.
" Hei, aku tidak pernah melihatmu pulang kerumahmu, apa kau tidak rindu dengan Ibumu?" tanya Emily disela-sela kegiatan makannya.
" Ibuku sudah meninggal." jawab Shi Woon.
Mendengar ucapan Shi Woon, Emily seketika merasa tak enak sebab tanpa sengaja mengundang sedih dalam kebersamaan mereka saat ini.
" Maafkan aku." ucapnya kemudian.
" Tidak apa-apa." sahut Shi Woon sembari menyantap daging panas didepannya.
" Humm.. jika minum bersama soju sepertinya dagingnya terasa lebih enak." tambahnya menuang soju kedalam gelasnya.
" Tunggu.." Shi Woon membuat gerakan tangan Emily terhenti. Kekasihnya itu terlihat bingung karena tidak mengerti maksudnya.
" Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Emily merasa heran karena Shi Woon menghentikan kegiatannya.
" Jangan menuang sendiri soju kedalam gelasmu jika ada orang selain kamu. Karena itu sangat buruk, kau bisa tidak bertemu dengan jodohmu." tutur Shi Woon.
" Hah?" Emily melongo mendengarkan pernyataan Shi Woon. Sepersekian detik kemudian "hahaha." tawa Emily pecah membuat Shi Woon mengernyit heran.
" Yakk.. dari mana kau mendengar itu. Kau itu kolot sekali, mempercayai mitos seperti itu. Dengarlah, soal jodoh itu sudah diatur Tuhan. Kau tidak perlu khawatir lagi." jelas Emily setelah menghentikan gelak tawanya.
Shi Woon yang hanya diam menyimak apa yang dikatakan Emily lagi-lagi tak bisa berkata sebab semua yang didengarnya memang benar. Hanya saja Shi Woon merasa tak enak bila tidak memberitau kekasihnya.
" Cih, kau itu ya! Baiklah, lakukan sesukamu." ucapnya memilih mengalah.
" Oh ya.. pasti Ayahmu adalah orang kaya. Buktinya dia bisa menyekolahkanmu sampai menjadi dokter." seru Emily.
" Ah, tidak juga. Ayahku dulu hanya pegawai biasa." tutur Shi Woon seadanya.
" Benarkah? Lalu kenapa dia bisa menjadi kaya? Apa karena menikah dengan Ibumu?" tanya Emily seraya menikmati daging didepannya.
" Tidak juga." jawab Shi Woon yang terlihat ragu dalam ucapannya sendiri.
Emily mengernyit, menatap intens kekasihnya.
" Itu.. itu karena Ayahku menikah dengan Ibu pertamaku."
Pengakuan Shi Woon sontak membuat Emily terbelalak. Wanita itu tak lagi memperdulikan hidangan dagingnya dan memilih mendengarkan cerita dari kekasihnya.
" Jadi Ayahmu menikah dua kali?" tanya Emily tampak penasaran.
" Tidak.. dia menikah tiga kali." jawab Shi Woon dengan jujur.
" Hah!" lagi-lagi Emily dibuat terkejut.
" Wah, Ayahmu seperti raja di jaman joseon. Punya banyak istri, tapi ratunya hanya satu. Lalu bagaimana didalam keluargamu, siapa ratunya?" seloroh Emily tampak bersemangat mengorek kisah keluarga kekasihnya.
" Ibuku." Shi Woon tersenyum lembut.
" Wah, benarkah? Lalu bagaimana dengan istri pertama Ayahmu, apakah kau punya saudara tiri?" tanya Emily lagi.
" Humm, aku punya." Shi Woon mengangguk seraya tersenyum tipis.
" Yakk, jangan sedih. Mungkin Ayahmu punya alasan dengan itu." hibur Emily, meraih tangan Shi Woon dan menggenggamnya dengan erat.
" Ah, benar.. jadi apakah wanita yang bertamu pagi itu adalah Ibu tirimu?" tanyanya dengan rasa penasaran yang membuncah, mengingat kembali pertemuannya dengan sosok wanita dewasa didepan pintu rumah.
" Humm.. dia Ibu kami." jawab Shi Woon seadanya.
" Ibu kami?" menautkan kedua alisnya, Emily tampak tidak mengerti arti ucapan Shi Woon. "Memangnya berapa saudarimu?"
" Aku hanya punya satu Kakak. Tapi, Ayah kami mengangkat satu anak lagi. Dia adalah Shin Ho." ujar Shi Woon.
" Benarkah?" Emily terkejut lagi, ia baru mengetahui bahwa kedua pria gagah yang pernah menaruh hati padanya ternyata bukan hanya sebatas teman melainkan dua saudara.
" Iya, maaf.. kau pasti terkejutkan." ucap Shi Woon.
" Tidak apa-apa.. hanya saja aku baru tau kalau dia adalah saudarimu." tutur Emily.
Shi Woon yang mendengar ucapan Emily hanya tersenyum simpul. Ia kembali teringat pada sosok Shin Hoo yang pernah menjadi saudari angkatnya.
" Shin Hoo.. dia adalah saudari angkatku. Saat usianya tujuh tahun, Ayah kami mengumumkan pada publik bahwa keluarga besar Choi memiliki keluarga baru yaitu Shin Hoo. Tapi saat Shin Ho sudah lulus SMA dan melanjutkan kuliah, Ayah kami tiba-tiba saja mengatakan lagi pada media bahwa Shin Ho bukanlah anak angkat, dia hanya dianggap keluarga saja." jelas Shi Woon.
" Kenapa begitu?"
Emily terbawa suasana, terus menanyai Shi Woon lebih dalam hingga sesaat dirinya lupa pada masalah sendiri yang membuatnya harus keluar dilarut malam ini.
" Entahlah. Mungkin Ayahku hanya tidak ingin jika media berfikir negatif tentang Shin Hoo." Shi Woon memberi jawaban sesuai dengan apa yang diketahui saja.
Emily mengangguk. "Oh, apa kau baru saja menerima bayaranmu dari rumah sakit?" tanyanya mengganti topik pembicaraan. Ia mengamati kekasihnya yang sangat lahap menyantap daging.
Mendengar penuturan Emily, Shi Woon dibuat bingung. Pria itu tak mengerti arah pembicaraan kekasihnya.
" Maksudnya?" tanyanya dengan kening mengerut.
" Bukankah kau bekerja dirumah sakit?" tanya balik Emily yang juga merasa bingung mendapati ekspresi wajah yang ditunjukkan Shi Woon.
" Humm.. " hanya menjawab dengan anggukan kecil, namun sejujurnya Shi Woon masih dilanda kebingungan.
" Nah, itulah pertanyaanku. Kau bekerja dirumah sakit, berarti kau digaji. Aku tadi bertanya, apakah kau sudah menerima gaji hari ini sampai kau mentraktirku malam ini." jelas Emily lalu meneguk habis soju didalam gelasnya.
" Ah.. itu maksudmu.." Shi Woon tersenyum simpul saat dirinya baru mengetahui jelas maksud dari ucapan sang kekasih.
" Bagaimana selama kau bekerja disana? Apa gelarmu dirumah sakit? Apa gajimu banyak?" serentetan tanya meluncur dari bibir tipis wanita berambut hitam itu. Ia menatap lekat wajah Shi Woon, menunggu jawaban dari pria didepannya.
" Itu.. " Shi Woon terlihat ragu mengucapkan fakta sebenarnya. Dia baru sadar bahwa selama ini memang Emily belum mengetahui identitas aslinya.
" Wah, apa kau benar kepala rumah sakit?" Emily yang tak sabar kembali berbicara membuat Shi Woon terdiam.
Melihat Shi Woon diam saja, Emily pun menghela nafas. Ia beranggapan bahwa ucapannya memang benar.
" Pantas saja gajimu banyak. Kau bahkan mampu membeli gedung tempat tinggalku." serunya yang kemudian menuang kembali soju kedalam gelasnya, dan meneguknya sedikit demi sedikit.
" Bukan begitu.. " jeda Shi Woon terlihat berfikir sejenak.
" Aku.. aku adalah pemilik rumah sakit Choi Sun."
Piurrr..
Soju yang diteguk Emily, dan sudah hampir tertelan, keluar kembali saat Shi Woon menyelesaikan ucapannya. Wanita cantik itu tak tanggung-tanggung mengembalikan soju di mulutnya kedalam gelas.
Wajahnya seakan ditekuk, bola matanya membulat sempurna. Sesaat ia terdiam seribu bahasa, tak mampu berucap sepatah kata.
Hening menyergap, keduanya terdiam.
" Ada apa?" suara lembut Shi Woon akhirnya menyadarkan Emily dari keterkejutannya. Buru-buru wanita itu meletakkan gelasnya dan memperbaiki posisi duduknya.
" Kau.. kau pemiliknya?" Emily tergagap, masih belum mempercayai apa yang baru didengarnya.
" Iya, aku pemiliknya. Sebenarnya itu juga baru karena Ayahku memberikannya saat di perjamuan minggu lalu." jelas Shi Woon merasa tak enak sebab seolah dirinya menipu kekasih sendiri dengan tidak berterus-terang mengenai identitasnya.
" Hebat." hanya satu kata yang keluar dari bibir mungil Emily.