
Semenit setelah perginya Shi Woon dan Emily, Shin Ho langsung melepas pelukannya. Ia juga tak ingin melihat wajah Oya yang masih dalam mode terkejut.
" Maafkan aku." ucap Shin Ho hendak berlalu begitu saja, namun seketika Oya meraih tangannya.
" Ada apa? Kenapa kau dengan mudah memelukku?" tanya Oya dengan intonasi meninggi. Tak senang, Oya justru merasa kesal setelah Shin Ho memeluknya begitu saja. Bagaimana tidak, diusianya yang tiga puluh tahun ini, belum pernah sekalipun dirinya disentuh oleh lelaki selain Ayahnya sendiri, namun justru Shin Ho dengan mudah memeluk, terlebih lagi hal itu dilakukan didepan Emily dan Shi Woon.
" Maafkan aku. Kau pernah mengatakan tidak punya kado untukku saat berulang tahun, jadi anggaplah tadi aku mendapatkan kado itu." Shin Ho tak banyak bertutur ucap dan segera pergi meninggalkan Oya.
Oya menatap jengah melihat Shin Ho yang berbicara dengan enteng. Kesal tentu dirasakan karena kini Ia merasa bahwa Shin Ho seakan mencampakkannya.
Berbeda dengan Shi Woon dan Emily, keduanya kini tengah beradu mulut seperti biasa. Emily baru menyadari bahwa dirinya beberapa menit lalu mengikuti perintah Shi Woon dengan meninggalkan Oya dan Shin Ho yang tengah berpelukan.
" Apa, kau ingin bilang apa, hah?" cerocos Emily ketus.
" Wah, kau wanita yang kasar ya. Tidak bisa lembut sedikit saja." balas Shi Woon.
" Itu karena kau." intonasi Emily semakin meninggi.
" Dengarkan aku, ya. Kau ingin dibawah.. apa kau ingin melihat Kakakmu bermesraan dengan pacarnya. Kau hanya jadi pengganggu bagi mereka." jelas Shi Woon.
" Sudahlah, kau memang selalu kurang kerjaan. Dasar Woon, Woon.. huh." cecar Emily dan segera masuk kedalam rumahnya.
Shi Woon terbelalak saat mendengar kalimat akhir Emily, dimana wanita yang dikaguminya baru saja mengejek namanya dengan nada merendahkan harga dirinya.
" Wah, wanita itu benar - benar tidak ada tandingannya." ujar Shi Woon yang kemudian mengulum senyumnya.
...🌸🌸🌸...
The psychological therapy, Seoul.
" Shin Ho, kau akan diam saja? Kemarin kau bilang ingin membicarakan tentang Nyonya Yoo." tutur Shi Woon pada sahabatnya yang seakan enggan untuk bersuara.
" Kau marah padaku karena semalam aku datang cepat?" lanjut Shi Woon lagi.
" Aku dapat sesuatu dari informanku." ucap Shin Ho beranjak dari kursi tahkta nya dan menghampiri Shi Woon.
Ia lalu menyodorkan selembar kertas yang menunjukkan laporan kesehatan mendiang Nyonya Yoo.
" Sepertinya.. sesuai dugaanmu, Nyonya Yoo sengaja dibunuh. Kebetulan kau masuk, lalu semuanya menjadi beres dengan kesalahan dilimpahkan padamu saat itu." jelas Shin Ho.
Shi Woon mengernyit.
" Berarti dalangnya adalah orang dirumahku sendiri." tutur Shi Woon.
" Entahlah, untuk sekarang hanya itu yang kutahu. Jangan mengatakan apapun pada Ayahmu, biar nanti saat semua bukti sudah rampung baru kita beritahu pada Tuan Choi." ujar Shin Ho yang kemudian berlalu, mendekat pada jendela kaca disamping kursi sofa. Ia kini menikmati pemandangan Seoul disiang hari yang begitu cerah, sembari mengingat kejadian semalam.
" Terima kasih, Shin Ho. Hanya kau yang mendukungku selama ini." terang Shi Woon dengan raut wajah sendu.
Hening.
Shin Ho tak menyahut karena sibuk dengan pikirannya sendiri.
" Baiklah, aku pergi." seru Shi Woon saat merasa sahabatnya dalam mood tidak baik.
" Kau sudah membaca berita?"
Tiba - tiba Shin Ho bersuara, tanpa membalikkan tubuhnya menghadap Shi Woon. Ia masih menatap keluar jendela.
" Tidak. Kenapa?" tanya Shi Woon menautkan kedua alisnya.
" Besok salju pertama turun. Sebaiknya kau beritahu pada wanitamu tentang perasaanmu yang sebenarnya." tutur Shin Ho.
" Benarkah?" Shi Woon terkejut, seakan tak percaya pada informasi yang diberikan oleh Shin Ho.
" Terima kasih sudah memberitahu aku. Aku pergi dulu, Dokter Shin." seloroh Shi Woon kemudian dengan girang dan segera berlalu.