
Sejujurnya bila ingin serakah, Shin Ho tak ingin melepas Emily begitu saja dan tak pula mau mengikhlaskan perasaannya dengan mudah. Namun karena Shi Woon, Ia mau tak mau mengizinkan sebuah luka menoreh hatinya lagi.
Duduk dikursi kebesarannya, pikirannya hanya tertuju pada sosok sicantik Emily. Wanita yang selama empat tahun ini menemani dirinya saat sedih dan tertawa.
Menghela nafas kasar, Shin Ho mengusap kasar wajahnya dan menyenderkan kepalanya dikursi. Pandangannya tertuju keatas, menatap langit - langit ruangannya. Tak lama matanya terpejam, namun sontak kembali terbuka saat tiba - tiba bayangan Oya melintas dibenaknya. Bayangan saat Ia berjalan gontai dan langsung memeluk tubuh Oya.
" Apa yang aku pikirkan. Kenapa dia yang muncul." lirihnya pada diri sendiri.
Ceklek.
Seketika Shin Ho menoleh saat pintu ruangannya mendadak dibuka tanpa diketuk.
" Hei, kalau mau masuk mengetuk dulu. Aku heran.. kenapa semua seenaknya saja masuk keruanganku tanpa permisi." omel Shin Ho pada orang itu yang tak lain adalah Lii Kyung.
" Kau seperti orang lain saja." Lii Kyung mengerucutkan bibirnya, merasa kesal karena Shin Ho menyambutnya dengan omelan.
" Kenapa lagi kau datang." tanya Shin Ho ketus seraya memperbaiki posisi duduknya.
" Aku bermimpi." Lii Kyung tak banyak bicara dan langsung menghempaskan dirinya disofa. Wajahnya selalu sama tak pernah memancarkan aura kebahagiaan.
" Cih, jika mimpi tentang Hong Sik, sebaiknya kau pulang. Pasti jadwal syutingmu padat, para kru dan sutradara lebih membutuhkanmu. Pergilah." usir Shin Ho dengan wajah datarnya.
" Shin Ho, kali ini berbeda. Ini bukan tentang Hong Sik." bantah Lii Kyung dengan suara lemahnya.
Shin Ho mengernyit.
" Aku bermimpi, ada bunga azalea yang merambat dirumah Hong Sik." ucap Lii Kyung seolah menerawang mimpinya semalam.
" Bunga azalea?" Shin Ho menautkan alisnya.
" Bukankah bunga azalea itu.. bunga cantik tapi beracun. Kenapa itu merambat dirumah Hong Sik." Lii Kyung tengah berfikir dengan wajahnya yang lesu.
Sementara Shin Ho, Ia pun berfikir tentang arti mimpi yang diceritakan Lii Kyung.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pintu membuat keduanya tersadar. Shin Ho segera menyahut, membiarkan perawat diluar sana untuk masuk keruangannya.
" Baiklah, kau boleh keluar." tutur Shin Ho.
Perawat itu pun segera meninggalkan ruangan Shin Ho, sementara Lii Kyung, wanita cantik itu tiba - tiba saja terlelap begitu saja di sofa. Shin Ho yang baru menyadari bahwa sahabatnya tertidur, hanya menggeleng kepala.
Shin Ho lalu beralih pada paket didepannya. Ia membuka paket itu, namun setelahnya keningnya mengerut, merasa bingung saat mendapati isi paket itu yang ternyata adalah sebuah bunga cantik azalea.
Secarik kertas kecil, terdapat diselipan bunga cantik berwarna pink muda itu. Shin Ho mengambil kertas kecil berbentuk sebuah kartu nama dan membacanya.
" Berhati - hatilah, dan semangat. Aku akan membantumu."
Kalimat sederhana, tertulis di kertas kecil itu. Shin Ho yang tidak tau menahu hanya mengangkat kedua bahu, seolah tak peduli pada isi paketnya. Ia lalu segera membereskan mejanya dan membuang paket itu ke tempat sampah yang berada tepat disamping mejanya.
Ia lalu menghampiri Lii Kyung yang dengan tenang terlelap.
" Hei, Lii Kyung. Bangunlah, kau mungkin ada syuting." tutur Shin Ho.
" Humm, nanti saja." balas Lii Kyung dengan suara yang sangat pelan, seakan Ia berbisik. Shin Ho pun hanya menggeleng dan segera berlalu.
Disepanjang langkah kakinya meninggalkan ruangannya, Shin Ho juga tengah menghubungi seseorang melalui ponsel genggamnya. Tak lama Ia menunggu, seseorang diseberang sana menjawab.
" Kau dimana?" tanya Shin Ho tanpa menghentikan langkahnya.
" Ditoko rotiku, kenapa? Ada apa?" jawab seseorang itu yang tak lain adalah Emily.
" Bisakah kita bertemu nanti sore." ucap Shin Ho kemudian.
Hening.
Tak menyahuti ucapan Shin Ho, Emily tengah berfikir, menimbang - nimbang ajakan sahabatnya karena Ia juga harus menemui Shi Woon dimalam hari.
" Entahlah, aku akan kabari." jawab Emily setelah terdiam lama.
" Humm, baiklah. Aku akan mengirim lokasinya nanti, aku ingin menemui seseorang dulu." ujar Shin Ho yang langsung menutup panggilannya begitu saja.