Hidden The Love

Hidden The Love
Episode. 49



" Apa kau menyukai Oya?" tanya Shi Woon.


Shin Ho terdiam, ia tampak berfikir sejenak.


" Entahlah, aku menyukai dia atau tidak.. semua masih buram." jawab Shin Ho.


" Kalau begitu ajak dia berkencan. Setelah kau berkencan dengan dia, maka kau akan tau.. apakah perasaanmu sungguh tulus untuknya atau kau hanya menjadikannya sebagai pelarian karena rasa bersalah." Shi Woon memberi saran, namun Shin Ho tak menanggapi. Dia tercenung, merasa takut jika apa yang dikatakan Shi Woon ternyata benar.


...🌸🌸🌸...


Hari kini sudah malam, tak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tampak Emily saat ini yang tengah membuat adonan roti. Disaat orang lain beristirahat sepulang kerja, ia justru masih sibuk berkutat didapurnya. Terlebih lagi karena ia menerima pesanan dadakan dari seseorang.


Drt.. drt.. drt..


Dering ponsel diatas meja marmer, gesekan antara benda pipih itu dan meja mengusik konsentrasi Emily hingga mau tak mau wanita cantik itu segera meraih ponselnya dan menjawab panggilannya. Tanpa menghentikan kegiatannya, ia juga menempelkan gawai diindera pendengarannya.


" Hallo, ada apa?" tanya Emily dengan cepat, tak ingin berbasa-basi sebab ia tengah dikejar waktu.


" Apa yang kau lakukan? Kenapa kau terdengar buru-buru?" suara berat Shi Woon dari seberang sana, membuat Emily tersadar.


Wanita itu memang tak melihat nama yang tertera dilayar ponsel, dan langsung menjawab panggilannya begitu saja.


" Oh, rupanya itu kau." ucap Emily dengan senyum dibibir tipisnya.


" Aku sedang membuat adonan roti. Aku mendapat pesanan" tambahnya.


" jam segini?" Shi Woon mengernyit dibalik telfon.


" Tidak, hanya saja ini sudah terlalu larut. Dan juga.. siapa yang memesan dijam sembilan malam ini?" celoteh Shi Woon yang sejujurnya tak suka jika wanitanya bekerja hingga larut malam.


" Aku juga tidak tau siapa dia. Sudahlah, aku tutup dulu ya. Aku sangat sibuk." balas Emily segera menutup panggilan tanpa menunggu Shi Woon menyahut.


****


Disatu sisi, ada Shin Ho yang kini tengah berada ditoko bunga. Ia hendak membeli bunga untuk kencan pertamanya dengan Oya.


Ya, dirinya sudah memutuskan untuk mengikuti saran Shi Woon, meski sebenarnya ada keraguan dihati bahwa Oya akan menolaknya. Karena untuk pertama kali Shin Ho akan berkencan, ia menjadi bingung harus memilih bunga apa untuk wanita yang dikaguminya.


" Kau ingin membeli bunga atau hanya ingin melihat-lihat saja?"


Suara renta dari seorang kakek berambut putih, bernama Kwon Juk. Pria paruh baya berusia delapan puluh tahun itu, bersuara karena memang sejak tadi ia hanya memperhatikan Shin Ho yang tampak kebingungan.


" Maaf, Kakek. Aku tidak tau harus memilih bunga yang mana." ujar Shin Ho tersenyum kikuk.


Ia dan Kakek Kwon memang bukanlah orang asing lagi. Shin Ho dan Kakek Kwon sering kali menghabiskan waktu bersama jika senggang, sekedar meminum teh bersama, dan berbincang ringan. Karena memang sejak Shin Ho ditinggal sang Ayah, ia sangat kesepian namun beruntung karena bertemu dengan Tuan Kwon Juk yang kini dianggapnya sebagai Kakek juga.


" Apa kau sudah menemukan belahan jiwamu?" tanya Kakek Kwon.


" Tidak. Aku hanya.. perlu memastikan sesuatu. Apakah aku sungguh menyukainya atau tidak." tutur Shin Ho dengan raut wajah yang redup.


" Apa maksudmu?" Kakek Kwon mendelik pada Shin Ho. Ia tak suka mendengar apa yang barusan pria tampan itu ucapkan.