
Drt. Drt. Drt.
Panggilan diponsel Shi Woon, membuat perbincangannya dengan sang Ayah terhenti. Pria muda itu segera merogoh saku jasnya dan menerima panggilan tanpa melihat nama sipemanggil.
" Hallo, ada apa?" ucap Shi Woon dengan panggilan yang sedang berlangsung.
" Shi Woon.. ini aku, Oya." balas seseorang diseberang sana dengan gelombang suara bergetar.
Shi Woon menautkan kedua alisnya, setelahnya menjauhkan ponselnya dan melihat nama sipemanggil yang rupanya dari Emily, namun yang berbicara justru adalah orang yang berbeda.
" Humm, kenapa? Dimana Emily?" tanya Shi Woon kemudian.
" Emily dirumah sakit bersamaku, dia kritis. Tolonglah kemari.. dia memanggil namamu sejak tadi."
Deg.
Shi Woon membeku ditempatnya, lututnya seakan bergetar mendengarkan penuturan Oya. Sebuah kabar buruk yang membuat jantungnya seketika bertalu-talu.
Sepersekian detik kemudian, Shi Woon sontak menoleh pada Ayahnya. Tatapannya sangat tajam, membidik sang Ayah dengan intens.
Memutus panggilan diponselnya, ia menghampiri pria paruh baya itu yang juga kini menatapnya dengan datar.
Brakk.
Dengan wajah yang merah padam, Shi Woon menggebrak meja Ayahnya dengan sangat kasar, membuat Tuan Choi terkejut begitupun Pak Han. "Apa yang Ayah lakukan dengan Emily?" bentaknya dengan suara meninggi.
" Apa maksudmu?" Tuan Choi tak mau kalah, ia membalas tatapan tajam putranya.
Drt. Drt. Drt.
Disaat Shi Woon hendak berbicara, ponselnya kembali berdering. Ia melihat nama sipemanggil dilayar gawai pipih itu, yang rupanya panggilan dari Oya hingga mau tak mau Shi Woon segera meninggalkan Ayahnya karena merasa Emily lebih penting saat ini.
Tuan Choi yang ditinggalkan begitu saja masih merasa bingung. Dia hanya mampu menatap punggung putranya yang semakin menjauh dari pandangannya.
" Tuan, apa anda baik-baik saja." Pak Han mendekat pada majikannya.
" Apa anda ingin aku bicara dengan Tuan Shi Woon?" tanya Pak Han.
" Tidak perlu." jawab Tuan Choi dengan santai.
...πΈπΈπΈ...
Rumah Sakit Universitas Choi Sun.
Diruang IGD, tampak Oya yang sejak tadi meneteskan air mata. Rasa takut melandanya, ia merasa khawatir bila kondisi sang adik semakin memburuk.
" Yakk, Hae Sun.. bagaimana bisa Emily seperti ini?" tanya Oya dengan wajah berlinang air mata. Ia berbicara pada pekerja paruh waktu adiknya, tanpa melepaskan tatapannya dari Emily yang terbaring lemah diatas brankar.
" Entahlah, aku juga tidak tau." jawab Hae Sun seadanya karena ia memang tak mengetahui kronologi sebenarnya. Yang diketahui hanyalah saat keluar dari supermarket, ia sudah mendapati Emily terkapar dijalan raya.
Flassback.
Dipagi hari yang cerah, dihari ini Emily memutuskan untuk tidak membuka toko rotinya diawal waktu seperti biasa karena bahan-bahan untuk membuat roti Dokan sudah hampir habis, ia pun memilih berbelanja dengan mengajak pekerja paruh waktunya.
Di supermarket terbesar, kini tampak Emily dan Hae Sun yang tengah berbelanja untuk kebutuhan ditoko.
Selang beberapa jam, setelah selesai memilih semua bahan-bahan roti yang dibutuhkan, Emily dan Hae Sun segera menuju kasir. Namun tiba-tiba Emily meminta Hae Sun menjaga belanjaan sembari menunggu kasir memeriksa setiap barang yang ada didalam keranjang sementara dirinya pamit keluar dari pusat perbelanjaan dengan alasan ingin mengurus sesuatu.
Disaat Hae Sun sudah selesai membayar semua belanjaan, ia segera keluar dari supermarket. Tadinya ia ingin menunggu dihalte bus terdekat, tapi karena melihat kerumunan orang-orang yang begitu ramai, Hae Sun pun penasaran dan memilih melihat kesana.
Saat itu juga Hae Sun terkejut, ia terbelalak dan seketika tak sanggup untuk berbicara. Bagaimana tidak, dibalik kerumunan orang-orang, rupanya ada sosok Emily yang terbaring lemah diatas aspal dengan darah segar disekeliling wanita itu.
Panik menyerang, Hae Sun tak lagi memperdulikan belanjaannya dan buru-buru menghampiri Emily. Ia menggendong tubuh lemah itu dan mencari bantuan untuk kerumah sakit.
Flassback Off
( Sekian dulu untuk hari ini, ya. Selamat membaca readers Hidden The Love.β€οΈπ₯°ππ)