
" Kau habis minum - minum?" tanya Shi Woon menatap lekat wajah cantik Emily.
Emily mengangguk seraya tersenyum.
" Kau masih mabuk, ayo.. kau harus istirahat." ucap Shi Woon kemudian.
Menggeleng dengan cepat, Emily menolak dengan senyuman diwajahnya.
" Aku ingin meminta tolong." ucapnya.
Shi Woon terdiam, mengamati wanita didepannya yang kemudian merogo tas dan mengeluarkan sesuatu yang dibungkus kain berwarna pink.
Emily lalu meletakkan kain itu ditelapak tangannya dan membuka bungkusan kain kecil itu.
" Ini plester luka bukan sembarang plester." ucap Emily.
Ia masih dikuasai sedikit alkohol hingga terus berceloteh didepan pria gagah seperti Shi Woon.
Shi Woon terkesiap mendapati plester luka itu. Tentu saja dirinya sangat mengenal plester itu yang diberikan olehnya sendiri untuk Emily empat tahun lalu. Namun bukan hal itu yang menjadi masalah, melainkan plester luka itu yang rupanya masih ada sepanjang empat tahun.
" Seorang pria memberinya untukku, katanya aku harus memakai ini karena bisa jadi ada yang terluka karenanya. Tapi kau tau.. dia yang memberikan plester luka ini tapi, yang membuat aku terluka adalah orang lain."
Raut wajah Emily begitu sendu dengan pandangan terarah pada handsplast ditangannya.
Shi Woon masih terdiam mendengarkan semua ucapan Emily.
" Lucunya.. " Emily menjeda, kembali beralih menatap wajah tampan Shi Woon.
" Aku baru menyadari bahwa orang yang membuatku terluka adalah cinta pertamaku yang sesungguhnya. Dan itu adalah kamu." tambahnya dengan jari telunjuk menyentuh dada bidang Shi Woon.
Deg.
Sontak Shi Woon terkejut. Semua hal tentang Emily sudah diketahui Shi Woon, namun mendengar pengakuan Emily barusan, sudah membuktikan bahwa dirinya melewatkan satu informasi penting dimana ternyata Emily mencintainya.
Sepersekian detik, Emily menyandarkan wajah cantiknya pada dada bidang Shi Woon.
" Aku boleh minta tolong kan?" Emily mengulangi pertanyaannya.
Hening.
" Minta tolonglah." seru Shi Woon setelah terdiam cukup lama.
" Tutup lukaku dengan plester ini." pinta Emily.
" Apa yang ku lakukan sampai membuatmu terluka?" Shi Woon beralih pada pertanyaannya sendiri.
Lama menunggu jawaban dari wanita yang masih menjadikannya sandaran, Shi Woon tak kunjung mendengar Emily menyahut. Perlahan dirinya mengurai jarak, dan menyunggingkan senyum saat menyadari bahwa Emily terlelap begitu saja.
***
Disatu sisi, tampak Oya yang saat ini sedang duduk dibangku depan mini market bersama seorang pria gagah. Ia dan pria itu tengah duduk melamun dengan pikiran masing - masing seraya meneguk bir kaleng.
" Siapa namamu?" tanya Oya pada pria yang duduk disampingnya.
" Kenapa?" tanya pria itu.
" Tidak, aku hanya ingin tau siapa nama laki - laki disampingku yang begitu berani mentraktir minuman dipertemuan pertama." balas Oya kemudian.
Pria itu tak menyahuti ucapan Oya dan malah melirik pada jam casio dipergelangan tangannya.
" lima detik lagi, aku berulang tahun. Kutraktir ini sebagai alasannya." sahut pria itu kemudian.
" Benarkah? Baiklah, cheers!"
Dengan girang Oya mengangkat bir kalengnya hendak bersulam dengan pria gagah disampingnya. Pria itupun membalas dengan senyum tertahan disudut bibirnya.
[ Hallo semua, pembaca Hidden The Love😍. Sekilas info ya, aku buat cerita ini dengan tiga kisah masing - masing "Shi Woon dan Emily, Tentang keluarga Shi Woon serta kisah percintaan Oya. Makanya aku berharap, supaya kalian gak bingung bacanya. Sekian terima kasih. ]