
" Selamat ulang tahun, dan maaf aku tidak punya kado untukmu." ucap Oya.
" Cih, kenapa minta maaf." Pria itu tersenyum tipis.
" Santai saja. Oh, nikmati minumanmu, aku harus pergi. Ini sudah sangat larut. Terima kasih untuk birnya." Oya beranjak dan tak lupa membawa minuman miliknya.
Pria itu hanya mengangguk pelan, karena sejujurnya Ia tidak ingin ditinggal sendiri dihari ulang tahunnya. Ia terus mengamati Oya yang perlahan melangkah jauh.
" Tunggu." ucapnya membuat langkah kaki Oya terhenti.
Oya menoleh dan menunggu apa yang ingin disampaikan pria gagah itu yang masih duduk dibangku yang sama.
" Ahn Shin Ho. Panggil saja Shin Ho." ujar lelaki itu— menyebut lengkap namanya sendiri.
Oya mengernyit, merasa keherangan. Beberapa menit lalu Ia ingin mengetahui nama pria itu, namun justru pria itu mengalihkan pembicaraan.
Tak ingin memperumit pikiran sendiri, Oya hanya membalas dengan senyuman dan segera berlalu.
•
•
Keesokan paginya, tampak Emily yang baru bangun dari tidur panjangnya. Ia kini bersandar pada headboard dan memegangi kepalanya yang terasa berat. Pandangan matanya beredar menatap sekeliling tempatnya terbangun.
Aneh.
Kata itu yang pertama kali terlintas dibenak Emily. Tatanan perabot rumah itu seakan berbeda dari biasanya.
" Kau sudah bangun?"
Terdengar suara berat seorang pria yang perlahan mendekat. Sontak Emily terperanjak saat melihat jelas siapa orang itu.
" Kenapa kau ada dirumahku?" tanya Emily.
Seperti biasa, saat berbicara dengan Shi Woon maka intonasinya akan meninggi.
" Wah, kau belum sadar ya. Ini rumahku." Shi Woon memototi wanita muda didepannya.
" Kau tidak macam - macam kan?" Emily tampak waspada.
" Sembarang sekali. Aku bukan orang mesum, ya. Lagipula coba ingat - ingat semua yang kau katakan semalam." cerocos Shi Woon meletakkan segelas madu hangat diatas nakas— samping tempat tidur.
Emily terdiam, berusaha mengingat kejadian semalam, dan benar saja— dirinya mengingat semua yang diucapkan pada Shi Woon.
" Aduh, Emily. Bodohnya dirimu." dalam hati Emily merutuki kebodohannya sendiri. Ia diam - diam meremas ujung selimut karena merasa malu sendiri.
" I... Itu hanya.." Emily terbata - bata lalu berfikir sejenak.
" Itu hanya salah paham." lanjutnya dengan cepat— menutupi suaranya yang tampak bergetar karena salah tingkah.
Shi Woon terdiam beberapa saat. Sedangkan Emily, Ia langsung beranjak dan meraih jaket overcoat berwarna cream miliknya.
" Bagaimana jika itu bukan salah paham?"
Langkah kaki Emily terhenti. Wanita muda dengan rambut yang masih teracak sedikit, mematung ditempatnya. Bibirnya terkatup rapat, tak tau harus mengatakan apa.
Sementara Shi Woon, Ia perlahan mendekat pada Emily hingga kini dirinya berdiri dibelakang gadis itu dari jarak tiga senti.
" Semalam kau mabuk, kau tidak ingat apapun yang kita lakukan." bisik Shi Woon.
Mendengar perkataan Shi Woon, Emily sontak menoleh. Namun dirinya terbelalak karena wajah Shi Woon begitu dekat dengannya. Refleks Ia mundur dua langkah hingga jarak tercipta antaranya juga Shi Woon.
" Semalam kita tidak melakukan apapun, ya." ucap Emily dengan ketus.
Shi Woon menyunggingkan senyum tipisnya.
" Berarti kau mengingat apa terjadi semalam, kan. Kau bilang aku..."
Ucapan Shi Woon menggantung saat Emily membekap mulutnya dengan telapak tangan Emily sendiri.
Hening.
Kedua anak manusia itu terdiam. Hingga selang beberapa saat Shi Woon memegang tangan Emily yang masih membekap mulutnya. Tanpa aba - aba dirinya melabuhkan ciuman lembut ditelapak tangan wanita muda itu. Emily seketika mematung, namun setelahnya..