Friendship And Love Story

Friendship And Love Story
TAKUT KEHILANGAN



Untuk berapa hari ini upnya nggak bisa setiap hari ya guys, lagi banyak tugas kuliah soalnya mohon pengertiannya ya 🙏🙏


Terima kasih 😍😘😘


** selamat membaca **


* kamar rara *


" gue nggak rela ngelepasin mereka, gue sayang banget sama mereka kenapa harus seperti ini sih seperti ada jarak di antara kita 😭😭 " ucap rara menangis sambil duduk dilantai bersandar di pintu


" kenapa waktu cepat berlalu sih gue masih butuh mereka di samping gue tapi gue harus gimana lagi udah waktunya mereka seperti ini memikirkan masa depan masing² tapi gue belum siap tanpa mereka.. hidup gue akan terasa hampa tanpa canda dan tawa seperti dulu, mungkin bentar lagi gue akan benar² kehilangan kak reno dan kak alva kakak yang gue sayang dan selalu menjaga gue dari kecil.. cepat atau lambat itu pasti terjadi jika mereka udah menemukan tambatan hatinya lalu menikah gue akan tersingkir dari kehidupan mereka.. jika itu terjadi gue harus gimana?? gue nggak mau berpisah lagi dengan mereka 😭😭 " ucap rara sambil menangis memeluk kakinya sendiri


" apa sebaiknya gue jaga jarak sama mereka biar nanti gue nggak terlalu sedih saat mereka pergi dengan keluarga barunya?? apa ini benar?? gue bingung harus ngapain sekarang gue nggak mau waktu begitu cepat, waktu kak rissa dan kak reno saling pandang gue udah merasa sesak banget tapi gue mencoba bahagia gue nggak mau posisi gue akan terbagi dan mungkin saja terlupakan oleh kak reno " ucap rara meratapi nasibnya yang tak mau kehilangan kakak kandungnya itu


rara menarik nafas dalam² dan menghembuskannya lalu ia mencoba untuk berdiri ia menenangkan hatinya yang galau dengan berendam di bathtub mampu meredamkan emosi dan kesedihannya, setelah cukup lama berendam rara bergegas memakai pakaiannya dan segera turun ke bawah, terlihat reno dan alva sedang tertawa rara teringat dengan kejadian tadi ia mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka, rara menghampiri bunda dan maminya yang sedang memasak di dapur


" mami masak apa? " tanya rara menghampiri maminya


" makanan kesukaan kamu nak " jawab mami


" oh, rara boleh bantu nggak mi? " tanya rara


" tumben kamu mau ke dapur nak? " ucap bunda


" aku mau mencoba masak bun biar bisa seperti bunda dan mami, masakan kalian lezat sekali rara ingin coba memasaknya juga boleh kan bun mi? " ucap rara


" tentu saja kamu boleh mencobanya bunda akan ajarkan kamu bagaimana caranya " ucap bunda semangat


" mami juga akan membantu kamu sayang sampai kamu mahir dalam memasak makanan " ucap mami


" terimakasih ya bun mi kalian ibu terbaik yang rara miliki, rara sayang kalian.. rara beruntung banget punya mami dan bunda yang selalu ada buat rara " ucap rara memeluk mereka berdua


" seharusnya mami yang beruntung punya kamu dan berterimakasih kamu telah hadir di kehidupan kami, selama 6 tahun mami menunggu kamu dan selalu berdoa agar diberi amanah lagi dan akhirnya doa mami terjawab sudah semua, mami bahagia ada kamu di kehidupan kita, maafin mami pernah ninggalin kamu sama bunda seharusnya kamu dapat kasih sayang dari mami dan papi tapi perusahaan kita dalam masalah dan akhirnya mami turun tangan membantu papi kamu yang hampir bangkrut saat itu " ucap mami mengelus pipi rara dan menghapus air matanya


" udah mi jangan di inget lagi rara ngerti kok 😊, bunda.. terimakasih ya udah mau merawat dan sayang sama rara disaat mami dan papi nggak ada " ucap rara


" kamu nggak perlu berterimakasih sayang, bunda juga seneng banget merawat kamu kebetulan bunda nggak punya anak perempuan, bunda pengen dari dulu punya anak perempuan tapi nggak di kasih² yang lahir malah laki² mulu, kebetulan mami kamu nitipin kamu ke bunda bersyukur banget bunda bisa ngerasain punya anak perempuan walaupun cuma sebentar " ucap bunda


" rara sayang banget sama mami dan bunda malaikat tanpa sayap buat rara.. love you mi love you bun " ucap rara sambil mencium pipi mami dan bunda bergantian


" udah ahh bunda jadi melow gini deh " ucap bunda menghapus air matanya


" iya nihh siapa sih yang taruh bawang di sini " canda rara


" ada² aja kamu, yuk masakan lagi gosip mulu " ucap mami bercanda


" rara aja yang motong terongnya mi " ucap rara mengambil pisau dari tangan maminya


" emngnya kamu bisa nak? " tanya mami


" bisa dong mi " ucap rara sombong


" ni bawangnya sekalian di iris ya sayang " ucap bunda


" siap bun " ucap rara sambil memberi hormat


" hati² sayang motongnya nanti kena jari kamu " ucap mami khawatir


" iya mi.. aww " ucap rara sambil memengang jarinya yang terkena pisau


" yaampun sayang baru aja mami bilang " ucap mami langsung menghampiri anaknya


" ikut mami nak cuci dulu tangan kamu " ucap mami memegang tangan rara


" ini obatnya " ucap bunda sambil memberikan kotak P3K kepada mami


" aduh pelan² mi sakit.. " ucap rara meringis


" kamu sih nggak hati² jadi kena kan " ucap mami sambil mengobati luka rara


" sama² sayang mangkanya kamu hati².. mending kamu duduk di depan aja yaa " ucap mami


" nggak ah mi rara masih mau lanjutin masaknya " ucap rara


" tangan kamu kan masih sakit nak " ucap bunda khawatir


" nggak papa kok bun, rara bisa " ucap rara


" yaudah deh tapi kamu hati² ya sayang " ucap bunda


" iya bun " ucap rara sambil tersenyum


akhirnya mereka selesai masak makan malam kini saatnya untuk makan malam bersama


* ruang makan *


" wihh enak² nih kayaknya, tapi ini kok agak lain ya warnanya " ucap reno baru datang


" cicipi dulu biar tau enak apa nggak " ucap bunda


" bun ini apa sih kok warnanya coklat kehitam²an gini " ucap alva mengambil telur goreng buatan rara


" itu telur nak " ucap bunda


" telur kok warnanya gini sih bun " ucap devano


" kematengan masaknya, yaudah makan aja jangan bawel " ucap bunda hati² agar rara tidak sedih


" kok nggak enak gini sih bun rasanya " ucap alvaro mengeluarkan makanan dari mulutnya


" nggak usah di makan kak kalo nggak enak, ganti yang lain aja " ucap rara kesal


" ini juga supnya nggak enak juga rasanya terlalu asin " ucap reno


" kenapa kamu nangis dek? " tanya reno melihat rara mengeluarkan air matanya


" itu semua buatan rara kak, maafin rara ya kalo rasanya gitu, rara emang nggak ada bakat buat masak " ucap rara sedih


" lo sih va bilang gitu jadi sedih kan adek gue " ucap reno menyalahkan alvaro


" kenapa lo nyalahi gue lo juga ikut²an " ucap alva juga menyalahkan reno


" kalian juga sih ngomong nggak di pikir² dulu kasian kan rara dia baru belajar masak tapi kalian malah ngatain " ucap keano


" maaf ya dek kita nggak tau kalo ini masakan kamu " ucap reno


" iya dek masakan kamu nggak terlalu buruk kok rasa nya " ucap alva


" jangan bohong kak tadi kalian pada ngatain masakan aku nggak enak, sekarang udah tau malah bilangnya enak kalian jahat banget sihh " ucap rara menangis


" udah sayang jangan nangis, kita coba lagi ya.. dulu juga bunda nggak bisa masak seumuran kamu tapi bunda belajar terus sampai bunda bisa seperti sekarang " ucap bunda menasehati rara sambil menghapus air matanya


" iya sayang dulu juga mami nggak bisa masak, setelah menikah sama papi kamu mami belajar deh sama bunda buat masak ya hasilnya sama seperti kamu awalnya tapi bunda yakinin mami buat terus belajar dan akhirnya bunda bisa juga, sebelum mencapai yang enak² itu butuh proses sayang nggak bisa langsung instan " ucap mami menasehati putrinya


" udah dong jangan sedih lagi yaa masih banyak kok waktu buat kamu belajar lagi " ucap bunda


" betul tu kata bunda dan mami kamu harus belajar lagi dek, ni masakan kamu kakak aja yang makan " ucap keano terpaksa memakan masakan rara agar dia tak sedih lagi


" enak kok siapa bilang nggak enak.. ni kakak habisin " ucap keano menghabiskan masakan rara


" udah kak jangan di makan lagi nanti kakak sakit perut " ucap rara menghentikan keano


" nggak papa kok dek demi kamu kakak pasti lakuin biar kamu seneng " ucap keano tersenyum


" makasih ya kak rara sayang kakak " ucap rara menghapus air matanya


selesai makan merekapun duduk di ruang tengah dan berbincang² di sana