Friendship And Love Story

Friendship And Love Story
WEDDING RENO (1)



Jangan lupa like, komen dan vote ya guys, jangan silent readers please 🙏🙏


tolong tinggalin jejaknya ya 😍🥰


...** selamat membaca **...


Beberapa hari berlalu


Kini tibalah hari yang di tunggu² oleh rara yaitu pernikahan kakaknya dengan calon istrinya, akad nikah akan di adakan sebentar lagi di rumah mempelai perempuan yang tak jauh dari rumahnya kini rara dan sahabat²nya sedang bersiap² di kamar rara


" gak nyangka ya kak reno sebentar lagi jadi suami orang " ucap nesya sambil memperbaiki pakaiannya


" apa lagi gue " ucap tiara duduk di samping rara


" nanti gue masih bisa manja²an lagi gak ya sama kak reno? gue takut kehilangan kak reno yang sekarang! apa dia nanti lebih sayang sama istrinya di bandingkan gue adiknya sendiri? " ucap rara mendadak murung


" berdo'a aja semoga kak reno gak berubah sikapnya sama lo " ucap tiara sambil menepuk pelan bahu rara


" gue gak tau deh hari ini harus bahagia atau sedih, gue benar² takut kehilangan kak reno apa lagi dia mau pindah dari rumah ini " ucap rara lesu


" dia kakak kandung gue satu²nya yang paling gue sayang melebihi diri gue sendiri, dari kecil gue selalu bergantung sama dia kalian tau sendirikan orangtua gue dulu gimana? mereka selalu sibuk dengan pekerjaannya, selama mereka gak ada kak renolah yang mengambil peran mereka selama ini dia juga yang mengurus dan melindungi gue dari apapun sampai gue di titipin ke bunda itu karna kak reno mau pindah keluar negeri, gue kesepian banget gak ada dia walaupun dia jahil, usil dan nyebelin tapi dia gak pernah nyakitin gue " ucap rara mengingat masa lalunya bersama reno


" gue sedih lihat kalian selalu di antar orangtua kalian ke sekolah sedangkan gue gak! walaupun bunda dan kak reno yang selalu ngantar gue itu gak merubah kenyataan kalo orangtua gue itu lebih mentingi pekerjaannya di bandingkan gue, gue sedih dan kecewa sama orangtua gue, gue mau seperti kalian diantar di jemput orangtua, setiap malam gue selalu menangis, kak reno yang selalu menghibur gue, kak reno juga pernah bilang sama gue sekesal²nya gue sama mereka gue gak boleh marah bahkan benci sama mereka karna gak ada mereka gue gak akan lahir ke dunia ini " ucap rara terisak²


" gue mencoba untuk kuat itu karna kak reno dia yang bilang sama gue jangan pernah mengeluh karna kita gak tau kedepannya gimana mungkin ini ujian dari Allah buat kita dan pasti itu ada hikmahnya, gue percaya kata² itu dengan kesabaran akhirnya gue bisa bertemu lagi dengan orangtua gue dan kak reno tapi sekarang gue harus di pisahin lagi dari kakak gue, berat banget buat gue tapi gue harus ngelakuin ini demi kebahagiaan dia " sambung rara


" gue gak tau beban hidup lo seperti ini ra, gue benar² gak nyangka lo begitu kuat, kalo gue jadi lo mungkin gue akan menyerah, mulai hari ini lo gak boleh menyimpan masalah lo sendiri yaa kan udah ada kita, bagi masalah lo sama kita, kita siap kok jadi tempat curhatan lo " ucap nesya sambil menghapus air mata rara


" iya ra kita selalu ada buat lo kok jangan sedih lagi ya nanti kita ikutan mewek nih " ucap faranisa sambil memeluk rara di susul dengan yang lain


" gue bersyukur masih di beri kesempatan bersahabat sama kalian lagi, kalo gak ada kalian di samping gue.. gue gak tau lagi harus gimana, kalian selalu nguatin gue di saat gue sedih seperti ini, makasih ya kalian selalu ada buat gue, semoga gak ada lagi yang misahin persahabatan kita ini kecuali maut yang memisahkan " ucap rara sambil memeluk semua sahabatnya


" aamiin.. " ucap mereka berbarengan


" aaaaa... rara gue jadi terharu deh, udah dong sedih²annya nanti makeup kita malah luntur lagi " canda nesya sambil melepas pelukan mereka


" iya nih dari subuh kita makeup begini sia² dong kalo luntur " canda tiara


" tenang aja mau kalian banjirin kamar gue dengan airmata kalian gak masalah kok makeup ini gak akan luntur " canda rara sambil tertawa kecil


" iya deh yang makeupnya mahal belinya di luar negeri lagi, kita mah bisa apa.. btw makasih buat makeupnya ya raa gue tambah cantik deh pakai makeup lo " canda refina sambil tertawa


" idiihh... PD amat lo " ledek nesya


" guys gue ke kamar kak reno dulu ya, gue mau meluk dia sebelum dia di ambil orang " canda rara dengan senyum terpaksa


" peluk yang erat ya ra, tapi inget jangan buat kak reno sedih " ledek nesya


" kalo itu gue gak janji ya " ucap rara langsung keluar


tok.. tok.. tok.. (rara mengetuk pintu)


" masuk " ucap reno sambil membenarkan rambutnya


" hai kak " sapa rara


" eh kamu dek, kakak kira siapa... tumben ngetuk pintu dulu biasanya langsung masuk aja " canda reno mengingat kebiasaan adiknya itu


" takut ganggu kakak lagi siap² mangkanya rara ketuk dulu, udah gak sabar ya kak ketemu calon istrinya " canda rara dengan senyum terpaksa


" tau aja kamu, kakak lagi nervous nih mana sebentar lagi waktunya " ucap reno gelisah


" rara masuk ya kak? " ucap rara meminta izin sambil duduk di tempat tidur reno


" kamu aneh deh hari ini dek gak biasanya minta izin dulu baru masuk, ada apa? " tanya reno menghampiri rara


" gak papa sih, rara cuma mau dekat kakak aja sebelum kakak jadi milik orang lain " canda rara sambil menahan tangisnya, reno mulai merasakan ada yang aneh dengan adikya itu


" Dek.. coba tatap mata kakak.. kamu kenapa sih sebenarnya dek? " tanya reno dengan lembut sambil memegang dagu rara untuk menghadapnya


" rara gak kenapa² kok kak.. rara.. " ucap rara terputus karena tak sanggup lagi menahan air matanya hingga keluar


" kamu kenapa dek? kok nangis? " tanya reno khawatir sambil menarik rara kedalam pelukannya


" kata mami nanti kakak akan pindah dari sini? apa benar kak? " tanya rara setelah tangisannya mereda


" iya dek " ucap reno sambil mengelus kepala rara


" kenapa kakak pindah? kenapa gak di sini aja sama rara dan mami papi? kakak gak sayang lagi ya sama rara? " tanya rara sambil meneteskan air matanya lagi


" kakak bukannya gak sayang lagi sama kamu dek, kakak sayang banget malah.. kamu perempuan kedua yang kakak sayang setelah mami tapi kakak harus belajar mandiri mulai dari sekarang, kakak gak boleh bergantung sama mami dan papi apalagi sebentar lagi kakak punya tanggung jawab, dengan tinggal di rumah sendiri kakak bisa lebih bertanggung jawab dengan istri dan anak kakak kelak tanpa merepotkan mami dan papi lagi " ucap reno dengan lembut agar rara mengerti posisinya sekarang


" kalo kakak pindah siapa yang ngajakin berantem rara lagi? siapa yang menghibur rara kalo rara lagi nangis? siapa.. siapa.. " ucap rara terisak²


" kamu ini ada² aja, kamu masih bisa nelpon kakak kok, kakak juga tinggalnya gak jauh dari sini kamu bisa main di rumah kakak kapan aja, pintu rumah kakak selalu terbuka buat kamu, kalo kamu mau cerita atau minta sesuatu kamu tinggal bilang sama kakak pasti kakak turutin, kakak juga akan sering main ke sini " ucap reno menenangkan adiknya itu


" apa nanti sikap kakak masih seperti ini atau akan berubah sama rara? " tanya rara dengan mata sembab


" sikap kakak gak akan berubah sama kamu, kamu masih ingatkan perkataan kakak yang dulu? kakak akan selalu begitu sampai kapan pun walaupun kita gak tinggal satu rumah lagi, kakak akan selalu ada buat kamu, kalo kamu kangen dan butuh bantuan kakak, waktu kakak 24 jam buat kamu " ucap reno sambil tersenyum


" makasih ya kak selalu ada buat rara, rara sayang kakak " ucap rara mempererat pelukannya


" kakak juga sayang banget sama kamu adikku tersayang " ucap reno sambil mencium kening rara


" iya apa? " tanya rara kaget sambil berlari menghadap cermin


" mana ada hidung rara merah, makeupnya juga gak luntur, rara masih cantik begini kakak bohongi rara ihh " ucap rara sambil berdiri di depan cermin lalu mencubit perut reno yang sudah berdiri di sampingnya


" aww.. sakit dek.. iya deh kamu cantik bahkan sangat cantik hari ini " ucap reno sambil mengelus perutnya yang di cubit rara


" tumben muji pasti ada maunya nih " canda rara sambil tertawa kecil


" muji salah gak muji salah juga, mau kamu apa sih dek " ucap reno mulai kesal


" jangan marah dong kak rara kan cuman bercanda, btw siapa sih calon istri kakak kok gak pernah dikenalin sama rara, awas aja ya dia yang kemarin datang ke rumah, rara gak setuju! " ucap rara sambil melipat kedua tangannya di dada


" gak kok yang ini pasti kamu setuju, kamu juga udah kenal sama dia " ucap reno sambil menaikkan kedua alisnya


" siapa sih kak? " tanya rara penasaran


" nanti juga kamu akan tau sendiri " ucap reno tersenyum misterius


" siap.. " ucap rara terputus setelah mendengar ketukan pintu


" nanti kamu tau sendiri kok.. keponya di pending dulu ya kakak mau lihat siapa yang ngetuk pintu " ucap reno semakin membuat rara penasaran


" kenapa gak kasih tau sekarang aja ribet amat sih nunggu² nanti " gerutu rara


" lo udah siap kan? semuanya udah nunggu di bawah " ucap alvaro setelah di bukakan pintu


" oke bentar lagi gua turun " ucap reno santai


" kelamaan turun aja langsung, minggir ahh rara mau lewat " ucap rara kesal dan langsung keluar setelah di beri jalan oleh reno dan alvaro


" kenapa tu anak? kok kesal gitu mukanya? lo apain dia? " tanya alvaro heran


" dia ngambek gak gua kasih tau siapa calon istri gua " ucap reno


" lo sih ada² aja main² rahasia²an segala sama adik lo sendiri " ucap alvaro sambil menggeleng² melihat kelakuan reno tak pernah berubah selalu menjahili adiknya


" gue duluan ke bawah ya ren " ucap alvaro kemudian langsung


pergi


...***...


" sebel banget gue sama kak reno tinggal kasih tau aja ribet amat nunggu nanti segala, udah terlanjur kepo juga mending gue nanya mami aja deh " omel rara sambil memasuki kamarnya untuk mengambil tas dan kunci mobilnya


" pada kemana mereka? kok gak kelihatan apa mereka turun duluan ya? " tanya rara tak melihat keberadaan sahabat²nya di dalam kamar


" nanti aja gue cari mereka, sekarang gue harus cari mami, gue masih kepo siapa calon istrinya kak reno! " ucap rara segera keluar dari kamarnya


" mami kemana ya kok gak kelihatan? mana rame lagi di bawah mending gue turun aja deh! " gerutu rara sambil menuruni tangga


" ribet amat nih kebaya masa gue harus angkat dulu biar cepat jalannya, mami ada² aja deh masa beli kebaya yang beginian kan jadi ribet jalannya " omel rara


" kamu kenapa nak ngomel² sendiri? " tanya bunda


" gak papa bun, bunda lihat mami gak? " tanya rara


" itu mami kamu lagi ngobrol sama tamu " ucap bunda sambil menunjuk keberadaan maminya


" makasih ya bun, rara kesana dulu " pamit rara


" iya sayang " jawab bunda


" mami?! " panggil rara menghampiri maminya


" kenapa sayang? " tanya mami


" mami kemana aja sih dari tadi rara cariin? " ucap rara manja sambil memeluk lengan mami


" mami lagi banyak tamu sayang, kenapa emangnya? " tanya balik mami


" rara mau nanya sesuatu ke mami? " ucap rara


" nanya apa sih sayang? " tanya mami


" mami sebenarnya siapa sih calon.. " ucap rara terputus


" renata?! " panggil seseorang


" lisa? " ucap mami kaget


" mami samperin temen mami dulu ya sayang nanti aja tanyanya " ucap mami sambil mengelus kepala rara dan hendak pergi


" tapi mi.. rarakan belum selesai bicara " bantah rara sambil memegang lengan mami


" nanti aja sayang mami mau samperin temen mami dulu, nanti kita sambung lagi ya nak " ucap mami sambil mencium kening rara lalu pergi


" ihh kesel gue lama² gak mami.. gak kak reno.. pada nyebelin semua, gue harus tanya siapa ini?! " gerutu rara sambil menahan kekesalannya


terimakasih udah mau menunggu kelanjutan novel ini ya, like, komen dan votenya 🥰😘