
Erika masih dalam perjalanan menuju rumah sakit, sementara Bintang sudah sampai di hotel dan berlari menuju kamar inap nya.
Ia tidak mendapati istrinya di sana,hanya tersisa beberapa orang Yangs Edang berkerumun untuk melihat situasi di tempat kejadian.
"Istri saya mana?Istri saya dimana??" Tanya Bintang kepada salah satu staf hotel pria.
"Istri mas...Wanita yang menginap di kamar ini?" Tanya Pria tersebut.
"Iya,dia istri saya.Tadi saya keluar sebentar karena ada urusan"
"Korban sudah di bawa ke rumah sakit terdekat"
"Korban?" Tanya Bintang bingung.
"Istri bapak,wanita yang menginap di kamar ini berstatus korban"
"Rumah sakit terdekat dimana??!!" Teriaknya.
"Rumah sakit Mutiara" kata pria tersebut.
Tanpa menunggu lama Bintang langsung berlari menuju lantai satu untuk datang menemui Erika.
Sesampainya Erika di rumah sakit,ia langsung di bawa ke ruang UGD untuk melakukan tindak operasi di bagian tangannya yang terluka parah.
Kondisi Erika masih setengah sadar,matanya masih bisa melihat beberapa dokter dan suster serta ketiga temannya yang terlihat panik sambil terus mendorong brankar yang sedang ia gunakan.
Erika dan dokter memasuki ruang UGD, sementara Ayu,Novia dan Naura menunggu di luar dengan perasaan yang tidak karuan.
Saat operasi akan berlangsung,Erika sudah tidak sadarkan diri dengan wajah nya yang sangat pucat akibat sudah kehilangan banyak darah.
Bintang sampai di depan ruangan tersebut dengan wajah dan pakaian nya yang berantakan.Ia terus bertanya-tanya kepada ketiga wanita itu tentang bagaimana kondisi terkini Erika,apakah dia baik-baik saja atau tidak.
Suster keluar ruangan untuk bertanya apakah ada diantara mereka yang memiliki golongan darah yang sama dengan Erika.Meskipun mereka mempunyai stok kantung darah yang banyak,tetap saja mereka harus bertanya terlebih dahulu kepada keluarga pasien.
"Darah saya sama dok" Kata Bintang.
"Maaf,bapak??" Tanya Suster.
"Saya suaminya"
"Kalau begitu mari ikut saya"
Bintang benar-benar dibuat kaget saat melihat kondisi Erika yang cukup memprihatinkan.Dilihat dari pakaian dan tubuhnya yang bersimbah darah,belum lagi ia khawatir dengan kondisi bayi yang ada di dalam kandungan Erika.
"Dok,istri saya lagi hamil.Apa kandungan nya akan baik-baik saja?" tanya Bintang.
"Sedang hamil?" Tanya dokter dengan wajah terkejut nya.
"Iya dok"
"Hamil muda?" Tanya Dokter.
"Iya dok"
Dokter dan suster saling menatap satu sama lain dengan tatapan kekhawatiran mereka.Dokter tersebut menganggukkan kepalanya kepada suster tersebut dengan penuh keyakinan bahwa semuanya akan berjalan dengan baik.
Mereka memulai operasi bersamaan dengan Bintang yang berbaring tak jauh dari Erika untuk mendonorkan darah nya.
Operasi berjalan selama 30 menit,tetapi Erika masih belum sadar karena obat bius tersebut.Bintang diminta untuk datang menemui dokter di ruangan nya.Hanya dia sendiri,tidak boleh bersama dengan yang lain.
"Ada hal yang ingin saya bicarakan" Kata dokter yang menangani Erika tadi.
"Kenapa dok"
"Perkenalkan ini dokter Helmi, beliau adalah spesialis dokter kandungan"
"Halo dok" Sapa Bintang.
"Jadi begini,saya ingin membicarakan perihal tentang obat bius dan kehamilan istri bapak"
"Kenapa istri saya dok?" Tanya Bintang.
"Biar saya yang menjelaskan,tadi dokter sudah menceritakan semuanya kepada saya.Beliau tidak mengetahui bahwa istri bapak sedang hamil muda,maka beliau memberikan bius total kepada istri bapak"
"Yang saya khawatir kan disini adalah tentang janin yang ada di dalam kandungan nya"
"Menurut beberapa ahli dan pengetahuan saya,akan terjadi kecacatan pada bayi saat lahir jika seorang ibu hamil menggunakan obat bius pada usia kehamilan trimester pertama.Apapun jenis obat bius nya"
"Betul sekali.Tapi bapak tidak perlu khawatir karena dugaan itu kebenaran nya hanya tujuh dari 10 persen.Kami hanya khawatir saja, begitupun dengan beliau yang tidak mengetahui bahwa ternyata istri bapak sedang hamil muda"
"Hanya dugaan saja kan dok?" Tanya Bintang.
"Semoga bayi bapak akan sehat selalu sampai di persalinan nanti"
"Terus gimana kondisi istri saya dok? Baik-baik aja kan dok?" Tanya Bintang.
"Operasi nya berjalan dengan lancar,itu semua berkat ketenangan bapak dalam menghadapi permasalahannya ini.Kita hanya tinggal menunggu pasien sadarkan diri saja,semoga pasien bisa seger sadarkan diri"
"Saya boleh keluar sekarang kan dok?"
"Iya silahkan"
"Kalau begitu terimakasih ya dok"
...•••...
"LEPASIN!!!" Teriak wanita gila itu saat dirinya hendak di masukkan kedalam sel penjara.
"Lo gila?" Tanya Gibran.
"Seharusnya Lo di bawa ke rumah sakit jiwa,bukan kesini" Timpal Samuel.
"Tutup mulut Lo berdua,lepasin gue sekarang juga!!!Biarin gue bunuh cewek Berandal itu dulu baru kalian boleh penjara gue,bunuh kalo mau!!" Teriak nya yang mengundang perhatian para penghuni sel lain.
"Berisik!!!" Teriak salah satu wanita yang merupakan narapidana di sana.
"Nah loh,cocok Lo tinggal disini" Kata Samuel.
"Lo mau nemenin?Sana"
"Ishh...apa?Nemenin dia?Sorry ayang Naura lebih oke dari pada orgil ini" kata Samuel.
"Berisik Lo berdua!Keluarin gue dari sini!!!!"
"Ayo kita ke rumah sakit,jangan terlalu lama di sini nanti kalo betah repot loh" Samuel menarik tangan Gibran dan bergegas meninggalkan tempat tersebut.
"LEPASIN GUE!!!!BIARIN GUE BUNUH JALANG ITU BARU KALIAN BOLEH PENJARAIN GUE,BUNUH BILA PERLU!!!" Teriak nya.
"Lo mau mati?" Tanya narapidana wanita yang berada satu sel dengan nya.
"Gue aku mati kalo udah bunuh jalang itu" ucap nya.
"Tutup mulut Lo atau Lo yang mati" Mendengar perkataan itu Resya langsung menutup mulutnya dengan perasaan yang tidak karuan.
Seperti nya membunuh Erika menurutnya adalah salah satu kewajiban yang harus dilakukan sebelum mati.Seolah olah membunuh Erika adalah pahala terbesar untuk nya.
...•••...
Matahari sudah berada di puncaknya,tetapi Erika masih belum sadarkan diri.Bintang tidak melewatkan malam nya sedikit pun,ia terus menerus menatap wajah Erika dan sesekali melihat pergerakan perut nya untuk memastikan bahwa wanita nya itu masih bernafas dan hidup.
Matanya sudah terlihat sangat lelah,tetapi tidak ada keinginan dalam dirinya untuk tertidur. "Seharusnya aku gak tinggalin kamu malam itu" Bisik Bintang sambil menundukkan kepalanya tepat di samping Erika.
"Maafin aku,aku nyesel banget"
"Bangun Erika,kamu boleh marah sama aku karena aku gak ada di samping kamu tadi malam"
"Kamu harus tetep hidup buat aku dan anak kita"
"Jangan kasih aku penyesalan,bangun Erika" Rengek nya yang terus mendusalkan kepala nya di bahu Erika.
Wanita itu benar-benar tidak peduli dengan apa yang Bintang katakan,ia masih berfokus untuk segera terbangun dari mimpi panjang nya itu.
Bintang mendekatkan telinganya ke perut Erika seolah-olah ingin mendengar kan kehidupan di dalam sana. "Kamu baik-baik aja kan?Papa tau kamu anak kuat" Bisik nya yang kemudian mencium perut Erika.
"Ayo bangun" Rengek nya lagi.
Bintang melihat pergerakan di jari tangan Erika sekilas,entah dia salah melihat atau tidak yang pasti ia ingin memastikan nya satu kali lagi dengan terus berfokus pada jari tangan Erika.
Wanita itu membuka matanya perlahan dan melihat ada satu kepala yang sedang memperhatikan tangannya tanpa menyadari bahwa istrinya itu sudah tersadar.
Erika sangat ingin menarik rambut suaminya dengan sangat kencang,tetapi niat buruk itu ia urungkan karena tangannya tidak mampu untuk melakukan hal tersebut.