Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 38



"Erika mana?" Tanya Bintang kepada Agus dan Danu yang sedang asik berbincang.


"Itu bos" Danu menunjuk ke arah Erika yang sedang duduk di tangga teras rumah.


"Ngapain dia duduk disitu?" Tanya Bintang.


"Gak tau bos,udah hampir setengah jam sejak dia keluar dari ruangan bos" Kata Danu lagi.


Bintang langsung berjalan menghampiri Erika yang sedang melamun sambil tersenyum sendiri karena mengingat perilaku Bintang yang sangat brutal.


"Erika" Bintang menepuk bahu Erika. "Ngapain duduk disini?Ayo bangun" Bintang mengulurkan tangannya,tetapi Erika tidak menerima uluran tangan tersebut.Ia memilih untuk bangun sendiri.


"Udah selesai?" Tanya Erika.


"Lo kenapa?" Tanya Bintang.


"Gue laper" Erika menepuk pundak Bintang dan langsung masuk ke dalam rumah begitu saja.


"Bos makanannya sudah siap" Kata pelayan laki laki yang sedang menghidangkan makanan nya di meja.


"Waahh...Tau aja saya mau makan" Erika tersenyum dan langsung duduk di kursinya, diikuti oleh Bintang yang duduk di sebelahnya.


"Lo marah sama gue ya?" Tanya Bintang.


"Hah?Marah?Kenapa gue harus marah sama Lo" Erika menjawab ketus sambil memakan makanan nya dengan lahap.


"Ini dunia gue,kehidupan gue.Lo yang masuk kedalam kehidupan gue,bukan gue yang masuk ke dalam kehidupan lo" Kata Bintang menatap Erika.


Erika langsung berhenti mengunyah dan meletakkan sendok garpu nya. "Gue gak ngerti apa maksud Lo" Erika kebingungan dengan perkataan Bintang yang berkelit kelit.


"Lo boleh larang gue buat gak ngelakuin sesuatu,Tapi jangan karang gue buat gak bunuh orang.Lo harus ngerti,gue ini bukan orang baik.Bahkan kedua orang tua gue pun bukan orang baik,Bahkan orang terdahulu di keluarga gue itu juga bukan orang baik" Bintang menatap wajah Erika.


"Kita hidup dikasih takdir yang berbeda beda.Takdir Lo mungkin jadi orang yang lebih baik dari pada gue" Lanjut nya.


Mendengar perkataan Bintang,Erika langsung tersadar akan ayahnya.Ia juga sebenarnya sama seperti Bintang, terlahir dari keluarga yang penuh dengan kejahatan.


"Jangan ngomong kayak gitu,mungkin gue juga gak sebaik yang Lo kira" Kata Erika tersenyum.


"Apa?" Bisik Bintang.


"Engga,lanjut aja makannya"


Tidak bisa lari dari kenyataan jika ayahnya juga sama seperti Bintang dan keluarganya.Erika juga tersadar bahwa mungkin dirinya juga tidak jauh berbeda dengan mereka.


"Nanti malam Lo pulang aja sama Bara" Kata Bintang.


"Terus Lo?" Tanya Erika.


"Gue ada urusan.Jadi,Lo pulang aja.Gak udah ikut" Bintang menatap Erika.


"Kenapa?" Tanya Erika lagi.


"Gue gak mau Lo harus liat apa yang gak seharusnya Lo liat" kata Bintang.


"Gue ikut"


"Kenapa?" Tanya Bintang.


"Lo kan bilang kalau kita kerja sama,gue yakin ini ada kaitannya sama berlian itu kan?" Tanya Balik Erika.


"Tapi..."


"Udah pokoknya gue ikut" Erika memotong perkataan Bintang.


\*\*\*


Malam harinya mereka berdua pergi menuju sebuah gedung tua milik Bintang yang terletak di pusat kota untuk menemui dua anak buahnya dan juga pak Leo,yaitu orang kepercayaan Pak Tirta yang sudah diikuti oleh anak buahnya dari beberapa hari yang lalu.


Gedung tua berlantai tiga puluh yang terbengkalai di pusat kota sengaja di beli Bintang dengan alasan untuk di bangun gedung perusahaan baru.


"Beneran tempat nya disini?" Tanya Erika dengan wajah piasnya sambil menengadah ke atas.


"Iya,ayo" Bintang berjalan mendahului Erika. "Ngapain diem aja,ayo" Lanjutnya yang bingung melihat Erika masih berdiri di depan mobil.


"Kayaknya gue tunggu disini aja deh,Lo aja yang masuk sendiri" Kata Erika.


"Lo yakin mau nunggu disini?...Disini gelap loh,jauh dari keramaian lagi.Nanti kalo ada..."


"Stop...stopp.Yaudah gue ikut sama Lo aja" Erika memotong pembicaraan Bintang dan langsung berlari menghampiri nya.


"Ternyata Lo penakut juga" Bintang mentertawakan Erika.


Erika terus berjalan di belakang sambil memegang kedua pundak Bintang.Bintang hanya tersenyum dengan tingkah Erika yang sangat lucu karena ketakutan.


Mereka berjalan menaiki tangga menuju lantai lima belas.Mereka harus berjalan karena tidak ada lift di sana,secara itu adalah gedung tua yang terbengkalai.


Setelah sampai di lantai lima belas,Erika melihat ada tiga orang laki laki disana.Satu diantara nya yaitu pak Leo sedang berdiri bersandar di tiang gedung dengan seluruh badan yang terikat bersamaan dengan tiang tersebut.


Mulut dan matanya di tutup rapat rapat sehingga ia hanya bisa mendengar.


"Saya mau video call sama Alfredo" Kata Bintang sambil menyerahkan tas yang berisi laptop kepada salah satu anak buah.


"Baik bos".


Tak lama panggilan nya terhubung dengan Alfredo dan tiga orang yang masih ia sandera,yaitu istri dan kedua anak mendiang Pak Han.


"Halo" Sapa Bintang kepada Pak Leo.


Pak Leo tidak bisa mengenali karena Bintang,Erika dan kedua anak buahnya memakai masker wajah dan kacamata hitam andalan mereka.


"Saya Star Moran,bapak pernah dengar tentang keluarga Moran?" Tanya Bintang yang berjalan mendekati Pak Leo.


Mendengar kata Moran,Pak Leo langsung membuka matanya lebar-lebar karena ia tau persis apa yang diinginkan oleh Bintang,dan karena Pak Leo juga tau persis tentang permasalahan antara keluarga bos nya dengan keluarga Bintang.


Bintang membuka penutup mulut pak Leo dengan sangat kasar hingga membuat Pak Leo kesakitan.


"Siapa kalian?" Bisik nya.


"udah saya bilang,Star Moran.Putra tunggal Sergei Moran dan cucu dari mendiang Pablo Moran" Ucap Bintang yang menatap tajam Pak Leo.


"S-saya tidak kenal mereka" Pak Leo terbata bata.


Karena malas terus menerus mendengar kata itu,Bintang langsung membalikan laptop nya dan menunjukan tiga sandera Yang sedang bersama dengan para anak buahnya di Jepang.


"Bapak kenal mereka?" Tanya Bintang.


"Tidak" Pak Leo memang benar benar tidak mengetahui siapa mereka,ia hanya mengetahui pak Han saja.


"Mereka istri dan anak anak mendiang Pak Han" Ucap Bintang dengan santai.


"Me-mendiang?" Tanya Pak Leo gugup.


"Hmmm...gelar Almarhum nya baru aja sekitar tujuh jam yang lalu" Bintang menatap Pak Leo.


"Langsung aja,kasih tau dimana pak Tirta sembunyikan Uang dan berlian milik keluarga Moran?" Tiba tiba Erika ikut masuk kedalam pembicaraan,kali ini dia tidak hanya diam menyaksikan mereka.


Sementara Bintang menatap Erika karena terkejut dengan sikap nya.


"Saya gak tau" Jawab pak Leo tanpa berfikir.


"Kasih tau,Atau mereka bertiga bakal nyusul Pak Han sekarang juga" Kata Bintang mengancam.


"Saya benar-benar tidak tahu" Pak Leo masih mengelak,karena sebenarnya ia tahu dimana keberadaan berlian tersebut.


"Alfredo" Bintang langsung memberikan kode,sedangkan Alfredo dan dua anak buahnya yang lain langsung menodongkan pistol ke arah istri dan kedua anak pak Han.


"Dimana Pak Tirta sembunyiin berlian nya?" Tanya Bintang lagi.


"Saya gak tau!!" Teriak pak Leo.


"Mulai!!!" Teriak Bintang.


Dorr!!!....Dorr!!!....Dorr!!!....


Sekali tembakan sudah membuat mereka bertiga langsung mati di tempat.Sementara Erika langsung memalingkan wajahnya sambil memejamkan matanya juga karena tidak mau melihat kedua anak kecil yang tidak berdosa dibunuh tanpa sebab.


Pak Leo hanya menatap laptop tersebut dengan mata yang berkaca-kaca dan langsung menatap Bintang dengan tajam hingga tubuhnya ikut bergetar.


"Apa yang kamu lakukan?Kamu membunuh anak kecil yang tidak bersalah!!!" Teriak Pak Leo.


"Mereka sudah mati,menurut bapak sekarang giliran siapa?" Tanya Bintang sambil memegang erat bahu pak Leo.


"Dimana pak Tirta sembunyikan Berlian nya?" Tanya Bintang.


"Saya gak tau!!!Saya benar benar tidak tahu!!" Teriaknya.


Bintang terus memberikan pertanyaan yang sama,karena ia tau persis jika Pak Leo sangat mengetahui dimana letak Pak Tirta menyembunyikan semua barang berharganya itu.


"Kasih tau aja dimana" Bintang mulai mengeluarkan pistol kesayangan dan memasukan peluru nya.


"Bunuh saja saya,saya tidak akan memberi tahu apapun kepada kalian" Pak Leo pura pura berpasrah dan memejamkan matanya karena ia mengira bahwa Bintang hanya main main saja mengancamnya.


"Mending bapak kasih tau sekarang juga" Kata Erika yang mulai panik.


"Tidak akan,Tembak saja saya" Pak Leo semakin menantang.


"Bapak fikir saya cuma mengancam?" Tanya Bintang yang langsing menempelkan ujung pistol nya tepat di kening Pak leo.


"Mana mungkin kamu berani membunuh saya" Kata Pak Leo.


"Jawab Sekarang!!Dia gak main main!!!Dia serius!!!" Teriak Erika histeris.


Bintang semakin menekankan ujung pistol nya hingga pak Leo meringis kesakitan dan pelatuk pistol pun telah bintang tarik.


"Jawab sekarang!!!!!" Teriak Erika.


"Di Harapan bangsa!!!" Teriak Pak Leo yang akhirnya mau membuka suara karena sangat takut dengan ancaman Bintang.


"Dimana nya?" Tanya Bintang.


"Di dinding ruangan kepala sekolah" Ucap Pak Leo gemetar.


"Serius?" Tanya Erika yang masih sulit percaya.


"Tadi kalian minta saya jujur,sekarang sudah jujur tapi kalian gak percaya.Apa maunya kalian?" Tanya Pak Leo sedikit kesal.


"Bawa dia ke markas" Kata Bintang kepada kedua anak buahnya.


Mereka berlima langsung pergi menuju Markas dan menempatkan Pak Leo di ruangan bawah tanah.Agar ia tidak bisa melarikan diri dari Bintang.