Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 6



Saat jam pulang sekolah tiba,Erika langsung bergegas pulang ke rumah nya.Karena ia juga harus bersiap untuk bekerja di malam hari.


Prakkkkkk!!!!!!!!!!.


Terdengar suara lentingan gelas yang jatuh ke lantai dari dalam rumah Erika.


Erika yang baru sampai pagar rumah,ia langsung terkejut dan berlari masuk ke dalam tanpa membuka sepatu dan mengucapkan salam.


Saat sampai di dalam,ia terkejut karena melihat mama nya yang sedang terkapar di lantai bersamaan dengan pecahan gelas yang bertebaran dimana-mana.


"Mamah!!!" Teriak Erika yang menghampiri mama nya.


"Mama kenapa?" Tanya Erika cemas.


"Ohh,mama baik baik aja" Mama nya menatap Erika dengan tatapan sendu.


"Ayo bangun,aku bantu" Erika membantu mama nya untuk berdiri. "Tangan mama berdarah,ini kaki juga" Lanjut Erika sambil menggenggam kedua tangan mama nya.


"Gak apa-apa Erika" Kata mama nya lagi.


"Gimana bisa mama bilang gak apa-apa" Erika berjalan untuk mengambil kotak P3K.


"Mamah sakit?" Tanya Erika sambil mengobati luka mama nya.


"Gak,mama baik baik aja" Mama nya berbicara dengan suara lembut.


"Kita ke rumah sakit ya" Erika menatap mama nya. "Muka mama pucat,badan mama juga dingin banget" Erika menyentuh dahi dan tangan mama nya untuk memastikan suhu tubuh.


"Mama gak sakit,mama cuma kecapean" Kata mama nya mengelak.


"Mamah pasti terlalu sibuk kerja berat seharian,jadi mama sakit" Erika manatap mama nya. "Maafin aku ya mah" Erika memeluk mama nya.


"Seharusnya ayah kamu yang minta maaf sama kita.Bukan kamu" Mama nya menyentuh kepala Erika dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Aku janji akan berusaha jadi orang sukses dengan banyak uang biar bisa bahagiain mamah,bisa kasih apa yang mamah mau.Jadi aku selalu berdoa sama Tuhan supaya mamah di kasih umur panjang,biar kita bisa berjuang sama sama lewati semua ini" Erika meneteskan air mata di pelukan mama nya.


"Sekarang mama udah sangat bahagia Erika.Tapi mama juga akan tunggu sampai kamu menepati janji.mama akan tetap hidup,dampingi kamu,dan lihat kamu tumbuh menjadi anak yang lebih baik lagi" Mamanya meneteskan air mata dan memeluk Erika dengan sangat kuat.


"Aku pegang janji mamah" Kata Erika yang masih terisak tangis.


***


Malam Hari nya Erika bekerja seperti biasa,ia sudah berganti pakaian dan bersiap untuk melayani para pelanggan yang membutuhkan bantuan nya.


"Kamu bekerja yang baik malam ini,jangan buat kesalahan sedikit pun" Kata pemilik bar.


"Siap bos" Erika hormat kepada pemilik bar tersebut.


"Eishh...saya bukan tiang bendera" Katanya yang langsung pergi meninggalkan Erika.


Satu persatu pelanggan mulai berdatangan,semakin malam bar semakin dipenuhi banyak orang terutama para pekerja kantoran yang ingin melepas lelah nya karena sudah bekerja keras seharian.


"Pelayan!" Teriak salah satu pelanggan yang terlihat sudah berumur.


"Ya,Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Erika. "Pak Feri,pak Bobi?" Tanya Erika terperangah.


Mereka bertiga saling menatap satu sama lain.Pak Bobi dan pak Feri menatap Erika,begitu juga sebaliknya.


Erika terkejut karena dua hal.Pertama,ia terkejut karena pelanggan nya adalah kepala sekolah dan wakil di sekolahnya.Kedua,ia juga terkejut dan terperangah karena mereka mengetahui bahwa Erika bekerja di bar saat malam hari.


"Bapak ngapain di sini?" Tanya Erika berbisik.


"Oh i-ini bar ternyata pak,kita salah masuk.Saya fikir ini restoran biasa" Kata Pak Bobi mengelak.


"Aishh..." Erika menatap kedua guru nya dengan curiga. " Bapak sengaja ke sini karena mau minum kan?Ngaku aja deh" Erika memojokkan mereka berdua.


"Tidak" Kata Pak Feri mengelak.


"Ohh,kamu sendiri ngapain di sini?" Pak Bobi bertanya dengan wajah balik mencurigai.


"Sa-saya..." Erika terbata bata.


"Wah,wah!Lihat pak,dia pakai seragam pelayan disini" Pak Feri memotong perkataan Erika.


"Suuuttss" Erika menundukkan badannya.


"Setiap malam saya kerja jadi pelayan di sini" Bisik Erika yang ikut duduk bergabung dengan kedua gurunya. "Tapi saya gak pernah minum kok pak,serius" Erika meluruskan satu hal sambil mengangkat kedua jarinya seperti pisss.


"Kenapa kamu kerja?" Tanya pak Feri.


"Saya butuh uang.Bagaimana pun saya gak bisa biarin mamah saya kerja keras sendirian demi saya" Erika menundukkan kepalanya.


"Hei,sekarang kamu tidak terlihat seperti berandal" Kata Pak Bobi.


"Ssssttt!!!!" Erika menatap tajam pak Bobi.


"Saya tarik perkataan tadi" Kata pak Bobi langsung.


"Tapi mau apapun alasannya,besok kamu harus menghadap guru konseling untuk menerima hukuman.Karena bagaimana pun seorang pelajar tidak baik dan tidak boleh berkeliaran apa lagi berada di dalam bar" Lanjut Pak Bobi.


"Nah betul itu" Timpal pak Feri.


"Lho,Kalau saya harus menghadap guru konseling.Berarti bapak berdua juga harus menghadap guru konseling dan di hukum bareng saya" Wajah Erika menantang kedua guru nya.


"Maksud kamu?" Tanya pak Feri.


"Bapak masih tanya apa maksud saya?" Erika mengetuk meja dengan jari tangannya.


"Nih ya pak,saya pernah dengar kalimat ini dari seseorang.Guru itu digugu dan ditiru" Kata Erika sambil mendekatkan wajahnya kepada mereka.


"Terus?" Tanya pak Bobi.


"Sebentar saya belum selesai bicara" Erika melirik sinis kepada pak Bobi.


"Lanjutkan lanjutkan" Kata pak Bobi.


"Jadi kalau misalkan nanti saya di tanya sama Bu Tesa,apa alasan saya ada di bar.Saya tinggal jawab aja kalau saya menggugu dan meniru perilaku kepala sekolah dan wakilnya" Erika menunjuk mereka berdua.


"Kamu punya bukti apa?" Pak Feri bertanya dengan wajah menantang.


"Masih tanya bukti?" Erika bertanya. "Ini buktinya,saya melihat dengan mata kepala saya sendiri" Erika membuka matanya lebar-lebar sambil menunjuk nya.


"Hanya itu?Mereka mana mungkin percaya sama siswa berandal kayak kamu" Pak Bobi dan Pak Feri tertawa terbahak-bahak.


"Ohh...Nantang yaaa.."Erika menantang.


"Nih rasain" Mengambil ponsel di saku celananya dan langsung mengambil foto pak Bobi dan pak Feri yang sedang tertawa terbahak-bahak.


"Nah,saya rasa ini sudah sangat sangat cukup" Erika meletakkan ponsel nya di hadapan mereka dengan wajah liciknya.


"Hei,hapus itu" Pak Feri berusaha mengambil ponsel Erika.


"Eits tidak bisa" Erika menghindar.


"Permudah aja deh" Kata Erika tiba tiba.


"Apa maksud kamu?" Tanya Pak Bobi.


"Karena bapak selalu panggil saya berandal.Jadi sekarang saya mau bernegosiasi sama bapak berdua layaknya berandal sungguhan" Erika mengedipkan sebelah matanya.


"Katakan apa mau kamu?" Tanya pak Bobi.


"Gak susah sih,Kita saling jaga rahasia ini, saling menutup mulut" Kata Erika sambil memperagakan mengunci mulutnya.


"let's forget about today's incident" Lanjut Erika sambil menatap pak Bobi.


"Yes alright" Pak Bobi,Erika dan pak Feri berjabat tangan secara bersamaan.


"Pergi" Erika mengayunkan tangannya tanda mengusir.


"Kenapa saya harus pergi?" Tanya pak Bobi.


"Pergi" Kata Erika lagi.


"Aishh.Ayo pergi pergi!" Kata pak Bobi kepada pak Feri.


"Sampai jumpa besok!" Teriak Erika.