
Sesampainya di rumah,Bintang langsung memberikan perintah kepada Alfredo untuk datang ke perusahaan milik pak Tirta dan mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi disana.
Tapi karena rasa penasaran nya juga,Bintang memutuskan untuk ikut bersama Alfredo dan dua lainnya pergi ke sana dan menyaksikan sendiri siapa korban yang tewas.
"Kayaknya aku harus ikut juga deh" Kata Bintang.
"Kami serius mau kesana?" Tanya Erika.
"Iya"
Erika menghembuskan nafas kecilnya dan mengizinkan Bintang untuk pergi ke lokasi kejadian. "Yaudah kalo gitu kamu harus hati-hati"
"Yaudah aku pergi sekarang"
Bintang,Alfredo dan dua orang lainnya langsung pergi meninggalkan Erika untuk bergegas menuju lokasi kejadian tersebut.
Erika duduk di sofa dan menyalakan tv untuk mendapatkan sedikit hiburan,tetapi hampir dari semua stasiun televisi menyiarkan berita tentang kasus pembunuhan pimpinan perusahaan itu.
Karena bosan,Erika kembali mematikan tv dan merebahkan tubuhnya disana.Ia mendengar pintu utama terbuka dan tertutup kembali.Salah satu orang yang berjaga di gerbang utama datang menyapa nya dan memberikan sebuah amplop kertas berwarna coklat kepada Erika.
"Maaf nona,ada yang menitipkan ini untuk nona di gerbang utama" Katanya.
"Siapa?" Tanya Erika.
"Saya tidak tau nona,dia tidak menyebutkan namanya.Tetapi dia mengatakan bahwa nona pasti mengetahui siapa dia"
"Laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan"
Erika termenung sejenak untuk berfikir siapa kira-kira wanita itu. "Yaudah,makasih ya"
"Sama-sama nona,kalau begitu saya akan bertugas kembali"
Erika sedikit mendesis dan menyipitkan matanya untuk menduga-duga siapa wanita tersebut.Daripada terus menerus menduga-duga,Erika langsung membuka amplop coklat tersebut untuk mengetahui apa yang ada didalam nya.
Satu foto mengerikan itu terlihat oleh mata Erika.Foto seorang pria berumur dengan kondisi tubuh yang bersimbah darah disertai dengan tangan wanita yang menunjukkan jari tengah nya kearah kamera, seolah-olah ia sengaja melakukan hal tersebut.
Erika langsung mengingat satu nama dalam ingatannya,ia sangat yakin bahwa orang yang telah membunuh pak Tirta adalah putri kandung nya sendiri.
Erika bisa sangat yakin meskipun hanya melihat jari-jari pelaku nya saja.Ditambah lagi orang yang menitipkan foto itu mengatakan bahwa Erika akan mengetahui siapa dirinya.
Ponsel Erika berbunyi, lagi-lagi dan lagi nomor yang tidak dikenal menghubungi dirinya.Rasa penasaran yang sangat besar membuat Erika langsung menerima panggilan tersebut.
Belum sempat Erika menyapa,Wanita itu langsung tertawa keras seperti sedang mentertawakan kebodohan seseorang.
"Resya." Panggil Erika dengan suara datar nya.
"Resya??" Tanya wanita tersebut seolah-olah sedang bertanya siapa Resya.
"Gak usah kayak orang bego,Dimana Lo sekarang!" Teriaknya.
"Mau ngapain cari gue?Kangen Lo sama gue?"
Tidak ingin kehilangan jejak,Erika langsung berjalan cepat tanpa suara menuju gerbang utama untuk menemui Tori.Selain master penyadapan,Erika juga berharap Tori bisa melakukan pengecekan lokasi keberadaan seseorang lewat nomor ponsel nya.
"Hmm..Gue kangen sama Lo,ayo kita tarung langsung,gak usah kayak gini caranya"
Melihat nona nya sedang berjalan cepat menuju mereka,Tori dan satu yang lain langsung berjalan mendekati Erika dan bertanya apa yang terjadi kepadanya.
Sebelum mereka bertanya,Erika langsung mengangkat jari telunjuk ke bibirnya untum menandakan bahwa mereka tidak boleh mengeluarkan suara sedikitpun.
"Gue gak yakin kali ini Lo bisa menang,gue yang sekarang bukan gue yang dulu" Kata Resya.
Erika sama sekali tidak memperdulikan perkataan Resya,mau bicara apapun dan bagaimanapun Erika sudah tahu bahwa Resya lah pelaku dari kekejian yang menimpa dua manusia tersebut.
Ia menunjukkan nomor Resya kepada Tori tanpa bersuara.Tori yang tidak mengerti hanya mengernyitkan dahi nya,karena ia mengira harus berbicara dengan orang tersebut.
Erika menekan tombol Silent dan langsung memberikan perintah nya kepada pria tersebut.
"Kamu bisa lacak lokasi seseorang lewat nomor hp gak?" Tanya Erika.
"Oke,jangan bicara apapun selama saya masih bicara sama dia.Sekarang juga kamu lacak nomor ini,cepet!" Teriak Erika.
"Baik"
"Kenapa di silent?Lagi susun rencana ya?" Tanya Resya dengan percaya dirinya.
"Yaah ketauan"
"Apa mafia selalu punya rencana buat selesain masalah?Gue gak butuh rencana buat selesain masalah" Ucap nya.
"Ada dua jawaban buat pertanyaan Lo itu.Pertama,Mafia bukan tipe orang bodoh yang suka bertindak semaunya kayak Lo.Kedua,gue gak nanya lo punya rencana atau ngga"
"Hhh..Jangan terlalu bertindak gegabah,Lo gak akan selamanya menang.Kita liat aja,siapa korban berdarah selanjutnya"
Erika benar-benar tidak takut sama sekali dengan kalimat murahan yang wanita itu ucapkan,tanpa aba-aba dan permisi Erika langsung mematikan telpon nya dan menghampiri Tori.
"Gimana?Udah ketemu?" Tanya Erika.
"Sudah,tapi...lokasi nya tidak jauh dari sini"
"Cepet kalian cari dan ikuti terus kemana dia pergi,nanti saya nyusul.Jangan lupa kabarin saya terus ya" Erika langsung berlari masuk kedalam rumah untuk mengganti pakaiannya.
Setelah selesai mengganti pakaian dengan cepat,Erika kembali bergegas menuju mobil nya untuk menemui wanita sialan itu.
Tetapi langkah nya terhenti saat melihat salah satu koleksi pistol milik Bintang yang ia pajang di dekat ruang tamu.
Erika melirik barang antik itu sekilas dan langsung menatap keatas,tepatnya di lantai tiga dimana ruang penyimpanan senjata berada.
Meskipun sudah lama tidak terpakai bukan berarti Bintang mengembalikan atau memusnahkan nya begitu saja.Ia tetap menyimpan semua benda itu dengan sangat baik.
Tanpa berfikir panjang Erika langsung berjalan masuk kedalam lift dan menuju lantai tiga.Setelah pintu lift terbuka,Erika langsung berlari dan menempelkan sidik jari nya untuk membuka pintu ruangan.
Lemari lemari besar berisi senaita terlihat di sekeliling ruangan.Eriak membaca dengan teliti setiap nama dan jenis senjata yang ada di pintu lemari tersebut.
Pistol jenis Revolver dipilihnya,Ia mengambil dua buah pistol tersebut beserta dua kotak peluru dan memasukkan nya kedalam saku jaket yang ia kenakan.
Erika melihat senapan yang ia gunakan sewaktu menembak mati Bu Renita waktu itu.Erika hampir ingin mengambil nya,tetapi hal itu ia urungkan karena merasa belum tepat waktunya.
Kemudian ia kembali berlari menuju lift untuk turun ke lantai satu,bergegas masuk kedalam mobil untuk datang ke lokasi dimana Tori berada.
Sementara itu Bintang dan Alfredo sudah sampai di gedung perusahaan tersebut, mereka melihat banyak nya orang yang sedang berkerumun di halaman gedung tersebut.Sebagian di antaranya adalah staf atau karyawan yang bekerja di sana.
"Kayaknya benar kalau laki-laki itu pak Tirta" Bisik Bintang kepada Alfredo.
Tanpa perintah Bintang, Alfredo berjalan menghampiri salah satu pria berseragam rapih yang sedang termenung di sana.
"Pak,saya mau tanya.Kalau boleh tau siapa nama korban pembunuhan itu?" Tanya Alfredo.
"Pimpinan kami,pak Tirta mas" Ucapnya dengan raut wajah penuh kesedihan.
"Pelakunya?" Tanya Bintang yang ikut berjalan mendekat.
"Pelakunya masih belum ditemukan"
"Terus kenapa orang-orang pada datang kesini?Bukannya korban tewas di apartemen nya?" Tanya Bintang.
"Mereka datang kesini untuk bertanya langsung kepada kami yang tidak tahu apa-apa"
"Yaudah kalau begitu terimakasih" Kata Alfredo saat Bintang sudah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Sama-sama mas"
"Tapi sebelumnya bos,Kenapa tiba-tiba bos peduli dengan kematian Pak Tirta?Bukannya masalah bos dengan dia sudah selesai sejak dua tahun yang lalu?" Tanya Alfredo.
"Saya bukan peduli,sama cuma mau pastikan itu benar-benar pak Tirta atau bukan.Karena saya sudah tau siapa dia,sekarang kita pulang ke rumah"
"Baik bos"