
Salah seorang pria seperti menyadari akan keberadaan mereka berdua di balik sofa tersebut.Pria tersebut memanggil teman nya yang lain untuk melihat ke sana secara bersamaan agar mereka tidak bisa lari kemanapun.
Tentu saja Erika semakin panik, sementara Bintang berusaha menenangkan sambil terus berfikir untuk mencari cara agar bisa lari dari tempat itu.
Tiba-tiba Bintang melihat ada sebuah sumpit di bawah sofa,tentu saja sumpit tersebut telah digunakan oleh Tamara dan Erika saat mereka makan malam kemarin.
Sebuah ide yang sedikit cemerlang muncul di kepala Bintang,mata nya langsung tertuju ke arah meja.Ia melihat ada bekas makanan yang belum sempat di bersihkan.
Dengan cara merangkak,Bintang mengambil dua buah garpu dan sumpit yang berada di atas meja tersebut dan memberikan nya kepada Erika.
"Pake ini"
"Hah?Apa maksud Lo?" Bisik Erika.
"Gue tau Lo jago bela diri,tapi ini senjata yang kita punya" Kata Bintang. "Lo tau kan harus berbuat apa?"
Belum sempat menjawab Erika langsung terkejut saat mendengar teriakan salah seorang pria Yangs sedang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Tapi Kondisi Lo?"
"Sebenarnya gue baik-baik aja"
"Yaudah gak ada cara lain,dari pada kita mati sebelum William" Erika menarik nafas panjang nya dan langsung memunculkan diri di balik gelapnya ruangan.
"Erika melawan para pria tersebut dengan garpu dan sumpit yang Bintang berikan,begitu juga dengan Bintang"
Mereka terus berkelahi,Erika hampir terkena tusukan pisau di dadanya tetapi Bintang berhasil menyelamatkan Erika dengan mendorong salah seorang teman mereka hingga pria tersebut yang menjadi sasaran.
Mereka langsung bergegas keluar ruangan.Sebelum itu,Erika mendorong ranjang yang digunakan Bintang ke arah mereka sehingga mereka sedikit kesusahan untuk melewatinya.
Bintang terus menggenggam tangan Erika dengan Erat sambil terus berlari dengan sangat cepat agar mereka tidak bisa mengejar keduanya.
Sambil berlari Erika sibuk memainkan ponselnya untuk menghubungi Pierre.
"Halo Pierre!!!" Teriak Erika dengan suara terengah-engah.
"Ya bos"
"Dimana kamu?Cepat bawa yang lain ke rumah sakit.Saya sangat membutuhkan bantuan kalian"
"Apakah bos sedang dalam bahaya?"
"Ya!!Cepat!!" Teriak Erika.
"Di parkiran belakang ada Raja dan yang lainnya sedang berjaga.Saya akan pergi kesana sekarang"
"Parkiran belakang" Bisik Erika kepada Bintang yang terus berlari.
Tentu saja mereka membuat situasi rumah sakit lebih hidup karena suara langkah kaki yang sangat keras.
Beberapa orang termasuk Dokter dan suster berusaha memberhentikan mereka,tetapi tidak bisa.
Bintang dan Erika telah sampai di parkiran belakang rumah sakit.Para anak buah Bintang dan Erika yang melihat bos nya sedang berlari menghindari para kawanan tersebut langsung bergegas keluar dari mobil dengan masing-masing senjata nya.
Malam itu terjadi terjadi baku tembak diantara mereka.Sedangkan Erika dan Bintang langsung melarikan diri dengan dikawal oleh tiga mobil.
Para kawanan tersebut langsung menaiki mobil nya juga dan bergegas mengejar Erika dengan tujuan membunuhnya..
Entah apa yang ada di fikiran Bintang dan Erika,mereka sengaja pergi ke daerah perkebunan yang sepi seperti ingin memancing orang yang akan membunuhnya tersebut.
Mobil Erika dan tiga yang lainnya berhenti meskipun tau bahwa ada mobil para anak buah William di belakangnya.
Belum sempat turun dan menghampiri mobil Bintang,Erika langsung membuka sunroof mobilnya dan memperlihatkan setengah badannya sambil membidikkan senapan yang siap melubangi kepala mereka.
"Pergi" Ucap Erika datar.
"Kenapa kami harus repot-repot mengejar kamu jika akhirnya kami harus pergi"
"Pergi"
"Kemarilah,jangan terus merepotkan kami"
Dooorrrr!!!....
Satu tembakkan peluru mampu melubangi kepala salah satu kawanan tersebut hingga ia mati di tempat.
Bersamaan dengan itu Anak buah Bintang dan Erika tidak hanya diam.Mereka langsung keluar dari mobil dengan senjatanya.
Erika menutup kembali sunroof mobilnya dan ikut turun bersama mereka.
Tidak mau kalah,Bintang juga ikut turun bersama Erika sambil membawa pistol Rusia di tangannya.
"Duduk,jangan banyak tingkah" Kata Erika.
"Gue sangat sehat" Bintan mg menggerakkan badannya dengan semangat.Bintang tidak berbohong,ia memang tidak merasakan sakit sedikit pun dari luka tembaknya.
Saat itu ia hanya berpura-pura agar bisa mendapatkan perlakuan yang sangat baik dari Erika.
Mendengar perkataan Bintang yang terlalu percaya diri,Erika langsung memukul dada bagian kiri Bintang untuk memastikan nya.
"A-a-aaaa...Ya jangan di pukul juga" Bintang langsung menodongkan pistolnya saat melihat ada seorang pria yang sedang berdiri di belakang Erika untuk mengincarnya.
Pertarungan hanya berjalan selama beberapa menit.Erika,Bintang dan para anak buahnya berhasil membantai semua anak buah William yang sedang mengincar Erika malam itu.
Tanpa menunggu lama mereka langsung pergi meninggalkan para mayat tersebut dengan kondisi luka dimana-mana.
"William sialan itu pasti masih punya banyak anak buah yang bakal bikin kita kerepotan" Kata Erika saat mereka sedang menyusuri jalan menuju rumah Bintang.
"Yang perlu kita lakuin sekarang hati-hati"
"Aaaa ada satu hal yang gue lupain" Teriak Erika.
"Apa?"
"Tamara.Dimana dia?Sebelum insiden dia pergi buat beli makanan.Hp nya sengaja ditinggal jadi gak bisa di hubungi"
Bintang langsung menelpon Alfredo untuk meminta bantuannya menemukan Tamara di manapun wanita tersebut berada.
"Gue udah suruh Alfredo dan yang lainnya buat cari Tamara,sekarang kita pulang aja tunggu dia di rumah" Kata Bintang.
***
Setelah mereka sampai di rumah Bintang,Erika langsung berpamitan untuk pulang ke rumah nya dengan diantar oleh Bara dan yang lainnya.
Sepanjang perjalanan dan setelah sampai disana mereka terus berhati-hati karena khawatir jika ada anak buah William yang sedang memantau disana.
Saat Erika dan Bara serta yang lainnya memasuki pintu utama, terdengar suara pelatuk pistol yang sedang di tekan dari arah belakang mereka.
Erika dan yang lainnya langsung menghentikan langkah mereka dan berusaha melihat ke belakang tanpa menengok.
Kelima anak buah Bintang termasuk Bara langsung berbalik arah dan menodongkan pistol mereka.
Terlihat segerombolan orang yang berjumlah sekitar delapan orang.Ke delapan pria tersebut menodongkan senjata mereka juga.Dan ke delapan pria tersebut adalah anak buah William yang datang dari Selat Malaka.
"Turunkan senjata kalian" Kata salah satu pria tersebut.
"Apa yang kalian inginkan sebenarnya?" Tanya Bara.
"Turunkan senjata kalian"
"Kami akan menurunkannya,tetapi kalian harus berjanji untuk tidak menyerang kami"
"Oke"
Bara mengayunkan tangan kepada keempat temannya tanda agar mereka menurunkan senjata masing-masing,sementara Erika masih berdiri di tempatnya tanpa memegang senjata.
"Kami tidak akan menyerang jika kalian mau diajak bernegosiasi" Kata pria tersebut.
"Apa. yang harus di runding kan?" Tanya Bara.
"Wanita itu" Pria tersebut menunjuk ke arah Erika. "Berikan dia kepada kami,maka kalian semua akan selamat dan kami akan mengakhiri semua ini"
"Wanita ini?" Tanya Bara.
"Ya"
"Oh wanita ini..." Perlahan Bara menoleh ke arah Erika,Wanita tersebut langsung menganggukan kepalanya dengan pelan sambil mengeluarkan pistol yang ia simpan di saku celana nya.
"Tembak!" Saat mendengar perintah dari Erika,kelima pria tersebut langsung menembak delapan orang tersebut dengan sangat cepat.Bahkan mereka belum mempunyai persiapan apapun.