Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 65



Saat sedang berbicara dengan Erika,Raja dan yang lainnya sedang berada di sebuah rumah tua yang kemungkinan besar rumah tersebut adalah markas sementara milik William.


Raja dan yang lainnya sedang mengepung William yang sedang duduk santai di kursi yang dikelilingi oleh musuh nya.


Tentu saja Raja dan yang lainnya tidak hanya berdiam diri,mereka menodongkan senjata masing-masing kearah kawanan sesama penjahat tersebut.


Tak lama Erika mendapat panggilan dari nomor yang tidak dikenal.Ia sedikit kesal karena lagi-lagi nomor yang menghubungi nya adalah nomor yang tidak dikenal.


Tetapi karena ia mengingat situasi saat ini yang sedang genting-gentingnya,Erika menerima panggilan tersebut karena khawatir panggilan itu dari salah satu anak buahnya yang akan memberikan informasi penting.


"Halo?" Sapa Erika.


"Halo beautiful boss"


"Siapa?Kalau gak penting saya matiin sekarang juga.Satu,dua..."


"Mr.William"


"Apa?"


"Saudara tirimu" Bisik nya.


"Apa ini?Sampah tidak bersaudara dengan bangkai!"


"Sudahlah, bagaimana hadiah nya? Menakjubkan bukan?" Ucap William.


"Hadiah?...Apa maksud Lo?" Erika mulai berbicara dengan wajah penuh kecurigaan.


"Bagaimana bisa lupa?Kamu baru saja mendapatkan nya"


"Dasar brengsek!!" Erika mematikan telpon tersebut. "Tunggu apa lagi!!!Cepat pergi sekarang juga!!!" Teriaknya.


"Raja,buat dia merasakan kesakitan.Tembak dia dibagian manapun selain di daerah fatalnya" Kata Erika.


"Baik bos"


Meskipun William mempunyai mental yang besar,tetapi tetap saja jika dihitung soal jumlah orang yang memihak ia kalah telak.


Raja menargetkan tembakan tepat di lutut sang bos mafia kecil tersebut,disusul dengan anak buah yang lain menembakkan peluru kepada para anak buah William.


"Apa ini?Bahkan kalian semua dulu memuja-muja saya.Kenaoa sekarang kalian seperti ini kepada saya?" Ucap William.


"Kami tidak akan seperti ini jika anda tidak seperti itu" Kata Raja.


"Seperti itu?Apa yang kalian maksud?"


"Membunuh Bos besar dan juga hampir membunuh putri kandung bos besar"


"Ah sial,aku ketahuan" Perkataan William membuat para anak buah Erika dan Bintang semakin geram dan semakin mendekatkan pistol mereka ke arah kawanan tersebut.


"Aaa, bercanda bercanda"


Tak disangka salah satu anak buah William ternyata mempunyai pistol di saku jaketnya.Dengan cepat ia menembakkan peluru tersebut ke arah salah satu anak buah Erika.


Tetapi peluru tersebut mengenai bahu kirinya sebab William beserta anak buahnya mempunyai keterampilan yang sangat buruk dalam menggunakan senjata.


Dengan sigap semua pihak Erika langsung menembakkan peluru mereka ke arah para anak buah William,hingga tidak ada satu diantara mereka yang masih hidup kecuali William.Hanya ia yang tersisa.


"Haishh dasar bodoh.Bahkan kalian mati karena luka tembak di bahu" Bisik William.


"Sudah cepat bunuh saya juga" Teriak William.


"Tunggu saja giliran mu" Kata Raja.


BRAAAKKK!!!!


Suara pintu yang terbuka dengan sangat kencang membuat semua orang yang berada di ruang utama langsung terkejut dan mengalihkan pandangannya,begitu juga dengan William.


Erika berjalan memasuki ruangan tua tersebut dengan wajah nya yang penuh dengar amarah.


"Wah adik perempuan" Sapa William yang dibalas oleh tembakan peluru tepat di lutut kanannya. "Kenapa kamu tembak saya?Saya saudara kamu"


DORRR!!!


Erika membidikkan pistol dan melakukan penembakan kedua tepat di lutut sebelah kirinya hingga membuat William Yang sedang berdiri langsung jatuh tersungkur.


Erika berjalan menghampiri priabyang sedang tersungkur tersebut dan menodongkan pistolnya tepat di kening William.


"Tunggu apa?Ayo cepat tembak"


"Aku terlalu banyak menonton drama sampai-sampai berani menanamkan prinsip menyakiti sebelum membunuh" Kata Erika.


"Aku bukan penjahat sungguhan,aku sampah yang mencoba untuk menjadi penjahat"


Perlahan Erika menarik pelatuk revolver nya dan semakin menekankan hingga William sedikit merintih kesakitan.


DOOORRRR!!!!


Suara tembakkan bergema di dalam ruangan tersebut.William masih memejamkan matanya dengan sangat erat, sementara Erika dan para anak buahnya terkejut karena suara tembakan itu bukan berasal dari revolver milik Erika.Bahkan William masih dalam kondisi hidup.


"Siapa itu?" Tanya Erika.


"Bukan kami"


Erika membalikkan badannya,ia melihat sekelompok pria yang terdiri dari sepuluh orang lebih sedang berdiri di ambang pintu masuk dengan masing-masing orang memiliki pistol dan senjata tajam.


"Siapa kalian!!" Teriak Erika.


Sekelompok pria tersebut menodongkan pistol mereka masing-masing ke arah Erika dan anak buahnya.Dengan cepat mereka pun mengangkat senjata sebagai alat pertahanan.


"Lepaskan bos kami" Kata pria yang berdiridi posisi paling depan.


"Bos?"


"Kamu fikir saya hanya mempunyai mereka saja?" Kata William.


"Kalian fikir saya akan melepaskan dia semudah itu?" kata Erika.


Kini mereka masih dalam posisi saling mengangkat senjata satu sama lain.Erika berjalan ke belakang William dan menodongkan pistol ke arahnya.


Hal tersebut ia lakukan sebagai bentuk negosiasi agar para anak buah William pergi dari tempat tersebut sekarang juga.


"Keluar kalian semua" Ucapnya datar.


"Turunkan senjata mu!!" Teriak pria tersebut.


"Keluar"


DEEGG....


Erika merasa ada sesuatu benda yang berwujud keras menyentuh kepala bagian belakangnya.


Erika hanya terdiam tanpa ekspresi sedikit pun karena ia tahu bahwa benda itu adalah sebuah pistol yang siap melubangi kepalanya.


"Jangan bertingkah" Kata pria tersebut.


"Siapa ini?"


Melihat bos nya sedang di tawan,sebagian anak buah Erika langsung menodongkan pistol nya ke arah sepuluh orang pria yang sedang berdiri di belakang Erika.


Ternyata masih ada banyak anak buah William yang sudah berdiam di sana untuk memantau mereka sejak tadi,bisa dibilang bahwa itu adalah perangkap.


Kini posisi Erika sebagai sandera dan penyandera,menodong dan ditodong.Tidak ada yang bisa ia lakukan selain berdiam diri.


DORR!!...DORR!!...DORR!!...DORR!!...DORR!!...


Terdengar suara tembakan yang sangat ramai,Erika meyakini bahwa penembak tersebut lebih dari satu orang.


Awalnya Erika mengira bahwa mereka yang baru saja datang adalah musuhnya,tetapi ia melihat satu persatu anak buah William yang sedang berdiridi pintu masuk berjatuhan karena luka tembak dibagian dada dan kepalanya.


Erika yakin bahwa mereka adalah kawanannya.Karena melihat teman-temannya yang lain sudah berjatuhan,Pria yang sedang menodong Erika langsung menekan pemicu untuk menembaknya.Tetapi dengan sangat cepat Erika langsung menangkis pistol tersebut hingga peluru mengenai atap ruangan sedangkan pistol yang digunakan terjatuh.


Erika langsung mengambil pistol milik pria tersebut dan menodongkan kembali pistolnya,satu pistol menodong William dan satunya lagi mengarah kepada pria tersebut sehingga sembilan orang anak buah William yang masih hidup tidak bisa berkutik.


"Jangan bertingkah" Erika mengucapkan kembali perkataan yang diucapkan oleh pria tersebut.


"Apa keinginan mu?" Tanya William.


"Kau"


"Aku?"


"Aku ingin kau mati" Kata Erika.


"Ah lakukan dengan cepat" Ucap William.


"Aku ingin kau mati,bukan karena keinginanku tapi karena keinginan mu"


"Apa yang kamu maksud?" Tanya William.


"Aku akan membuat kamu terus memohon kepadaku agar dapat di bunuh dengan cepat"