Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 33



"Mbak...saya mau ketemu sama Presdir di sini,bisa kan?" Tanya Erika kepada petugas resepsionis.


"Sudah buat janji sebelumnya?" Tanya petugas resepsionis tersebut.


"Belum" Jawab Erika Singkat.


"Kalau belum membuat janji,mbak tidak bisa menemuinya" Kata resepsionis tersebut.


"Ayolah mbak,gak lama kok.Saya perlu bicara sebentar aja" Erika memohon.


"Maaf,tidak bisa mbak" Kata resepsionis tersebut dengan ramah.


"Ada apa ini?" Tanya Bu Renita yang tiba-tiba ada dibelakang Erika.


"Woahh,ini dia" Bisik Erika.


"Selamat siang Bu,Ada tamu yang memaksa untuk bertemu dengan ibu tetapi belum membuat janji terlebih dahulu sebelumnya" Kata Resepsionis tersebut kepada Bu Renita.


"Dia?" Tanya Bu Renita menunjuk Erika.


"Iya Bu" Jawabannya.


"saya perlu bicara sama ibu sebentar" Kata Erika yang masih memakai kacamata dan masker nya.


"Tentang apa?" Tanya Bu Renita lagi.


"Hal penting" Jawab Erika.


"Seperti nya saya gak tertarik sih sama hal yang mau kamu omongin,tapi saya bakal dengerin" Kata Bu Renita sombong.


"Terserah,tapi saya harus bicara" Kata Erika.


"Ikut ke ruangan saya" Bu Renita jalan terlebih dahulu disusul oleh Sekertaris nya dibelakang.



"Kamu tunggu disini saja" Kata Bu Renita kepada sekertaris laki lakinya.



"Iya Bu"



Erika masuk kedalam ruangan bersama Bu Renita,ia melihat betapa mewah nya ruangan tersebut.



"Langsung aja,apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya Bu Renita dengan tatapan angkuhnya.



"Sebelumnya..." Kata Erika



"Tunggu,tunggu...Kamu mau bicara dengan wajah yang tertutup seperti itu?" Bu Renita menunjuk wajah Erika.



"Ohh...A-anu...Saya lagi flu dan mata saya juga lagi iritasi,kalau di buka nanti dua duanya nanti ibu bisa tertular" Kata Erika memberikan alasan.



"Ahhh...Yaudah,yaudah.Langsung aja jangan buang buang waktu" Kata Bu Renita.



"Saya dengar... Perusahaan ibu telah menyita salah satu rumah milik karyawan di perusahaan ini?" Tanya Erika memulai inti pembicaraan.



"Apa urusannya dengan kamu?" Tanya Bu Renita sinis.



"Biar gak buang buang waktu,ibu langsung jawab aja" Kata Erika.



"Iya,kenapa?"



"Kenapa ibu sita rumah itu?" Tanya Erika lagi.



"Karena dia punya banyak hutang sama saya,lagi pula dia sudah tidak bekerja lagi di perusahaan ini" Kata Bu Renita tegas.



"Kenapa langsung disita?Kenapa gak negosiasi dulu sama keluarganya?" Erika terus menerus memberikan pertanyaan.



"Buat apa? Memangnya kalau di negosiasikan terlebih dahulu dia bisa membayarnya?Lagi pula hidup sebatang kara,siapa yang mau membayar nya?" Bu Renita mulai berbicara dengan nada tinggi.



"Dia punya anak,Ibu bisa negosiasi sama anaknya.Saya pikir anak nya pasti bisa lunasi hutang ibunya walaupun nyicil" Erika mendekatkan wajahnya ke arah Bu Renita.



"Nyicil?Sampai kapan harus menyicil hutang sebanyak itu?" Bu Renita membuka matanya lebar-lebar.



"Seharusnya ibu pikirin gimana perasaan anaknya,Ibu nya meninggal dan rumahnya disita.Ibu punya hati nurani kan?Kenapa ibu selalu menindas kalangan bawah?" Erika beranjak dari duduknya dengan emosi.



Melihat tingkah bicara Erika,Bu Renita langsung teringat dengan kejadian terakhir disekolah saat ia berseteru dengan Erika di aula dan ruang kepala sekolah.Melihat postur tubuh dan gaya bicaranya ia langsung membuka masker dan kacamata Erika secara paksa untuk memastikan apakah wanita itu benar-benar Erika atau bukan.



Karena terlalu mendadak, Erika terkejut dan langsung menutup wajah dengan kedua tangannya agar tidak ketahuan Bu Renita.




"Jangan Bu, saya lagi flu nanti ibu bisa tertular" Kata Erika yang mempererat tangannya.



Segala upaya telah dilakukan Bu Renita agar bisa membuka kedua tangan Erika, akhirnya ia bisa melihat wajah siswa perempuan yang selalu berseteru dengan ia dan putri kesayangan nya tersebut.



"Kamu?Ngapain kamu disini?" Bu Renita menatap tajam Erika sambil menunjuk wajahnya.



"A-anu...saya...Bu saya mohon balikin lagi itu,kasihan teman saya gak punya rumah.Pasti dia bisa lunasi hutang ibu nya" Erika memohon.



"Keluar,keluar!" Teriak Bu Renita.



"Saya mohon Bu" Erika merengek.



"Keluar dengan sukarela atau keluar dengan paksaan?" Kata Bu Renita mengancam.



"Plis Bu" Erika masih memohon.



Bu Renita langsung berjalan ke meja kerjanya dan memanggil beberapa satpam yang sedang bertugas.



"Datang ke ruangan saya" Kata Bu Renita.



Tak lama tiga orang satpam datang diikuti oleh Sekertaris Bu Renita di belakang nya.



"Bawa dia keluar,kalian ingat ingat wajahnya dan pastikan dia tidak akan menginjakkan kaki lagi di perusahaan ini" Bu Renita langsung duduk di kursi kerjanya.



"Baik Bu,Ayo keluar" Kata Salah satu satpam yang mulai menarik kedua tangan Erika.



"Saya mohon Bu!" Teriakan Erika mulai menjauh dari ruangan Bu Renita.



Erika di bawa ketiga satpam menuju pintu keluar dengan paksa,Setelah sampai di depan lift Erika langsung meminta ketiga satpam tersebut untuk melepaskan tangannya.



"Lepasin!" Teriak Erika memberontak.



"Kami akan lepaskan setelah anda keluar dari sini" Kata salah satu satpam.



"Lepasin saya bisa sendiri,Emangnya saya buronan apa!" Teriak Erika,ia langsung masuk kedalam lift sendiri tanpa diikuti oleh ketiga satpam tersebut.



"Jangan ikutin saya" Bisik Erika sambil menatap tajam ketiga satpam.



Karena gagal,Erika dengan berat hati keluar dari perusahaan tersebut.Sambil melangkahkan kakinya menuju mobil Bintang, Mulutnya terus menerus mengucapkan bisikan makian untuk Bu Renita.


"Aishh,gila gue.Ngapain juga gue harus Dateng ke sini buat mohon mohon sama si nenek lampir.Udah jelas siapapun orang nya pasti dia gak bakal nge rubah pikiran nya,Apalagi dia tau kalau orang itu gue" Erika memaki.


Erika berhenti melangkah dan berbalik badan menatap gedung perusahaan tersebut sambil mendongakkan kepalanya.


"Hei nenek lampir!Lo pikir Lo siapa bisa ambil rumah orang seenaknya!Gue bakal datang lagi kesini!...Mulai hari ini perang di mulai!" Teriak Erika dan langsung membalikkan badannya lagi untuk berjala menuju mobil Bintang.


Siapa dia?...Bicara sama siapa dia?...Dia udah gak waras ya?"...


Karyawan yang berada di dalam gedung bertanya tanya sambil menatap Erika yang sedang berteriak di luar gedung perusahaan.


"Aishh...Ngapain dia?Ngomong apa si dia?" Bintang bingung melihat Erika yang sedang berbicara sendiri di luar.


"Apapun yang dia omongin,Kalo di lihat-lihat sih udah pasti dia gagal" Kata Bintang.


"Nenek lampir sialan!" Bisik Erika setelah masuk kedalam mobil.


"Kayak nya gaperlu gue tanya berhasil atau ngga" Bintang langsung mengendarai mobilnya untuk keluar dari halaman perusahaan tersebut.


"Issss...isss..issss..." Erika membenturkan kepala nya dengan tas.


"Kenapa gue selalu berurusan sama keluarga nenek lampir itu sih.Dia kan udah kaya,kenapa juga harus banget ambil rumah gue" Kata Erika dengan rambutnya yang sudah berantakan.


"No comment" Kata Bintang singkat.


"Seharusnya gue gak dengerin saran bodoh Lo itu" Erika menunjuk wajah Bintang.


"No comment" Kata Bintang lagi.


"Aishh" Erika membuka lebar kaca mobil dan mengeluarkan kepalanya.


"Nenek lampir sialan!!!!!Tunggu aja,gue pasti Dateng lagi buat balas dendam!!!!" Teriak Erika dengan kepala yang menengadah keluar sedangkan mobil masih terus berjalan di keramaian jalanan kota.