
"Aku mau bawa kamu ke jenjang yang lebih serius" Kata Bintang sambil menggenggam tangan Erika dan menatap wajah cantiknya.
"Waah.." Bisik Erika sambil menundukkan kepalanya karena tidak tahu harus berbuat apa.
"Mau?" Tanya Bintang.
"Tunggu sebentar...Aduh sialan kenapa tiba-tiba gak bisa berkata-kata" Erika memalingkan wajahnya dengan tangan kiri yang terus menepuk-nepuk dada nya karena kesulitan untuk bernafas.
"Liat aku"
Jujur saja sejak mencintai Bintang,Erika sangat kesulitan untuk menatap wajah tampan pria tersebut.
Jika menatap nya sekilas ia tampak terbiasa tetapi jika menatap nya lebih lama dan jauh lebih dekat maka ia merasa sedang berada di ambang kematian nya karena sangat sulit untuk bernafas.
"Bicara aja,aku gak bisa liat wajah kamu lama-lama" Kata Erika hingga membuat Bintang langsung menutup mulutnya karena menahan tawa.
"Ayo kita bangun dari awal sebagai pria dan wanita.Bukan sebagai teman" Kata Bintang. "Kamu mau?"
"Kenapa harus di tanya lagi sih?Gak mungkin aku nolak setelah terus nunggu kamu padahal kemungkinan besar kamu gak akan datang lagi" Teriak Erika yang meluapkan unek-unek dalam hati nya.
"Yaudah,aku pasangin ya" Bintang memakaikan cincin tersebut di jari manis Erika hingga terlihat sangat indah begitu juga sebaliknya Erika memakaikan cincin untuk Bintang.
Erika langsung memeluk Bintang tanpa permintaan pria tersebut,Erika meneteskan air mata nya di pundak Bintang sementara pria tersebut berusaha untuk menenangkan wanita nya.
Erika mulai terbawa oleh emosi nya,di tambah lagi dengan suasana matahari terbenam di tepi pantai yang sangat mendukung adegan romantis mereka hari itu.
Malam hari nya setelah pergi dari pantai indah tersebut,mereka berhenti di salah satu jembatan layang untuk bersinggah dan kembali menikmati pemandangan kota di malam hari sambil meminum minuman hangat mereka.
"Ayo pulang ke Indonesia" Kata Erika tiba-tiba.
"Apa?"
"Ayo kita kembali ke Indonesia"
"Kenapa?"
"Aku lebih suka tinggal di Indonesia walaupun menyedihkan" Erika masih menatap pemandangan tersebut.
"Ayo"
"Kamu setuju?" Erika menatap Bintang.
"Ya"
"Ayo kita pulang secepatnya,Tamara udah nikah beberapa bulan yang lalu.Ayu juga"
"Ayu?"
"Iya ayu"
"Kapan kamu mau pulang ke sana?"
"Secepatnya"
"Kalau gitu...besok?"
"Ayo" Erika menjawab dengan sangat antusias sambil tersenyum lebar.
"Kamu kan kuliah"
"Aku sebenarnya gak mau kuliah,aku lakuin itu cuma buat isi waktu luang aja" Kata Erika.
***
Dua hari kemudian,Erika dan Bintang telah sampai di Bandara internasional Soekarno Hatta.
Kedatangan mereka di sambut hangat oleh Alfredo yang sengaja datang untuk menjemput mereka berdua.
"Alfredo!!" Teriak Erika yang langsung berlari menuju pria tersebut dan memeluknya.
"Udah,jangan lama-lama.Ada istri Alfredo yang nunggu di rumah" Kata Bintang.
"Apa?Kamu udah nikah?"
"Iya"
"Waah,kenapa kamu gak kasih tau saya"
"Karena setiap saya hubungi,nona selalu menolak panggilan saya"
"Ah iya,maaf"
"Yaudah yaudah,udah basa-basi nya.Sekarang naik,biar cepat sampai di rumah" Kata Bintang.
Beberapa jam kemudian,mereka sampai di depan rumah Bintang.Suasans rumah Bintang saat ini sangat berbeda.
Dahulu di setiap gerbang ada yang bertugas membukakan gerbang.Saat turun dari mobil Erika selalu melihat beberapa anak buah Bintang berdiri di dekat pintu masuk dan mengawal nya dari belakang.
"Selamat datang tuan, nyonya" Semua orang yang berkerja di sana berdiri untuk menyambut kedatangan mereka.
"Nyonya? Kedengarannya terlalu tua gak sih?" Bisik Erika kepada Bintang.
"Mulai hari ini kalian bisa panggil dia nyonya muda" Kata Bintang sambil tersenyum.
"Ohh iya baik tuan muda"
"Apa itu?Itu hadiah?" Tanya Erika yang terus memegang tangan Bintang dan bertingkah seperti anak kecil.
"Tunggu dulu,rumah ini bukannya udah jadi milik Alfredo?" Tanya Erika.
"Ya tetapi setelah saya mendapat informasi bahwa bos... maksud saya tuan masih hidup,saya pribadi langsung menolak penawaran itu dan menjadikan rumah ini tetap milik tuan Feliks" Kata Alfredo.
"Bahkan kamu sudah tau kalau satu tahun yang lalu dia masih hidup?" Erika berjalan ke arah Alfredo sambil bertolak pinggang dengan wajah Berandal nya seperti beberapa tahun yang lalu.
"Kan saya sudah katakan,saya selalu mencoba untuk menghubungi tetapi nona selalu menolaknya"
"Aaaa-aishh" Erika kembali duduk sambil menutup wajah nya karena ia pasti sangat menyesal telah menolak semua panggilan yang datang kepadanya saat itu.
"Udah,udah.Gak usah di sesali,udah lewat juga"
"Kamu bisa bicara kayak gitu,tapi aku gak bisa.Kamu harus tau betapa bodoh nya aku yang udah sia-siain waktu selama satu tahun cuma buat hal-hal bodoh.Aahh mau banget kalo harus diingat lagi"
"Makanya gak usah di inget-inget lagi"
"Permisi tuan muda,nyonya muda.Tadi ada orang yang datang memberikan ini untuk tuan dan nyonya muda" Bibi memberikan sebuah amplop yang ternyata berisi sebuah surat undangan yang berikan oleh Novia untuk mereka berdua.
"Novia?Dia mau nikah sama siapa?" Tanya Erika yang penasaran.
"Gibran?" Kata Bintang.
"Gibran???!!" Teriak Erika terkejut. "M-mereka nikah???" Teriak Erika dan hanya dibalas anggukan oleh Bintang.
"Aaaaaaaa.Yaampun,yaampun,yaampun...serius mereka nikah?" Erika terus meloncat kegirangan sambil menutup wajahnya karena terlalu berbahagia mendengar kedua sahabatnya menikah dan akan menjadi sepasang suami istri.
"Kalau boleh tau kalian kapan mau menyusul?" Tanya Alfredo tiba-tiba hingga membuat suasana menjadi sangat hening.
"Tutup mulutmu,jangan sombong karena sudah menikah" Gerutu Erika kepada pria tersebut dengan wajah garang nya.
"Ah ya,maafkan saya" Ucap Alfredo setengah senyum sambil menatap Bintang yang sedang tersenyum juga.
"Erika!!!Bintang!!!" Teriak seorang wanita dari arah pintu utama.
"Kayak kenal" Bisik Erika.
"Nona Tamara"
"Tamara!!!!" Teriak Erika yang langsung berlari ke arah Tamara dan memeluknya.
"Apa kabar?" Tanya Tamara.
"Baik.Ini siapa?"
"Ini suami gue"
"Oh,maaf.Hai Erika"
"Saya Farel"
Mereka mengobrol asik hingga malam hari,setelah merasa puas tertawa karena cerita yang di sampaikan oleh satu sama lain mereka memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan hari ini dan melanjutkan nya di hari lain.
***
Lima hari kemudian adalah hari resepsi pernikahan Novia dan Gibran.Di pagi hari nya Erika dan Bintang sudah bersiap-siap dengan warna pakaian yang sama.
"Gimana?Udah rapih belum?" Tanya Erika kepada Bintang yang sudah menunggu nya di rumah Erika.
"Udah udah"
"Masa sih?"
"Kami dua jam siap-siap ngapain aja?Kenapa masih nanya lagi?" Tanya Bintang yang sudah merebahkan tubuhnya sejak tadi karena bosan menunggu Erika yang hampir dua jam tidak kunjung menemuinya.
"Ya kan minta pendapatnya nya aja"
"Pendapat apa?"
"Ishh,tau ah.Udah ayo berangkat sekarang" Erika mengambil tas nya dan berjalan mendahului Bintang.
Kenapa cowok yang satu ini gak ada peka-peka nya.
Gerutu Erika dengan wajah nya yang ditekuk.
"Aku bisa denger loh!" Teriak Bintang sambil melemparkan 'smirk'.Siapapun wanita pasti tidak akan tahan melihat ekspresi Bintang termasuk Erika.