Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 15



"Lo masuk sekolah hari ini?" Tanya Bintang kepada Erika saat sedang berjalan di lorong kelas.


"Eh,lo" Erika tersenyum. "Hari ini kan ujian,gue harus sekolah" Lanjutnya.


"Waah... semangat!!" Bintang merangkul Erika sambil tertawa.


"Makasih" Kata Erika.


"Jangan sedih ya,kalau Lo kesusahan tenang aja,kan ada gue sama yang lain" Bintang menatap Erika sambil tersenyum.


"Hei,Lo gak pernah bantuin gue.Lo selalu sendiri kalau pergi kemana mana" Erika melepas rangkulan Bintang.


"Ahhh...Maaf.Gue kan ada selalu ada urusan" Bintang mengacak-acak rambut Erika.


"Cihh... Urusan" Erika langsung masuk ke dalam kelas.


Saat memasuki ruang kelasnya,Erika kebingungan karena melihat teman teman nya yang langsung menatap Erika dengan tatapan sendu penuh rasa kasihan.


"Eh,ke-kenapa muka kalian pada kayak gitu" Erika menunjuk teman sekelas nya.


"Sabar ya" Kata Galang dengan ekspresi wajah yang menyedihkan.


"Ini cobaan kehidupan,Lo harus kuat" Kata ketua kelas.


"Hei,ada apa sama kalian?" Kata Erika. "Mereka kenapa?" Tanya Erika kepada Ayu yang sedang mengelus tangan Erika.


Ayu hanya menganggukkan kepalanya.


Resya berjalan menghampiri Erika dengan ekspresi wajah nya yang sedih juga.


"Kenapa Lo?" Tanya Erika kepada Resya.


"Gue emang kesel sama Lo,tapi gue cuma mau bilang Turut berduka cita" Kata Resya.


"Pergi.." Bisik Erika dengan wajah tengil nya.


"Hah?" Resya bingung.


"Pergi..pergi.." Bisik nya lagi.


Resya langsung kembali ke tempat duduknya dengan wajah yang kebingungan.


"Hei teman teman,ada apa sama kalian?Anggap aja gak terjadi apa apa sama gue,jangan kasihani gue kayak gitu lah.Kalau kalian kayak gini gue jadi ngerasa seperti manusia yang paling menyedihkan disini" Erika tersenyum menyeringai.


"Lo gak apa-apa?" Tanya Galang.


"Gak apa-apa lah" Erika tersenyum dan langsung berjalan keluar kelas.


Aishh manusia-manusia sialan .Bisik Erika dengan wajah sinis nya sambil berjalan keluar kelas.


Saat sedang berjalan di lorong kelas, Erika berpapasan dengan pak Rama uang sedang berjalan menuju kelas Erika.Pak Rama langsung menatap Erika dengan tatapan sendu yang memiliki rasa iba kepada Erika.


"Erika" Kata Pak Rama dengan suara yang sangat lembut.


"Mulai deh mulai" Erika memperlihatkan wajah kesalnya.


"Kenapa?" Tanya pak Rama.


"Pak,udah ya.Stop tatap saya dengan tatapan kayak gitu" Erika merengek dengan wajah nya yang kesal bercampur jengkel. "Bapak natap saya seolah olah saya ini gelandang lagi minta di kasihani" Rengek Erika lagi sambil menghentakkan kaki nya ke lantai.


"Ohh,maaf maaf.Bapak janji gak bakal tatap kamu kayak gitu lagi" Pak Rama mengangkat kedua jari tangan nya yang berbentuk v.


"Nah" Wajah Erika kembali tersenyum.


"Kamu mau kemana?Ini kan sudah waktunya memulai ujian" Kata pak Rama.


"Tolong kasih saya waktu lima menit aja pak.Bapak tau kan saya baru aja dapet ujian kehidupan,sekarang saya butuh waktu buat jalanin ujian materi" Kata Erika.


"Ahh...Baiklah" Pak Rama memberi jalan untuk Erika.


"Thank you sir.Lima menit lagi saya kembali ke kelas" Erika mengedipkan sebelah matanya.




Satu Minggu kemudian,Erika dan teman temannya sudah selesai melaksanakan ujian akhir semester ganjil.Sekolah di liburkan selama dua pekan mendatang.



Erika tidak mempunyai tujuan berlibur kemanapun,karena ia merasa semua tujuan nya telah berakhir setelah mama nya pergi meninggalkan Erika untuk selama lamanya.



Erika sudah berniat untuk mengisi waktu liburan nya dengan bekerja seharian di bar.



Saat pulang sekolah di akhir pekan.


Erika dan kelima teman nya sedang berjalan ke arah gerbang untuk pulang ke rumah.Saat mereka sedang saling berbicara,tiba tiba Erika menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenal.




"Halo?" Sapa Erika.



"Selamat siang mba,saya dari pihak rumah sakit Jaya medika" Kata Suster di rumah sakit tempat mama Erika di rawat.



"Oh,iya.Ada apa ya sus?" Tanya Erika.



"Kami ingin menagih semua biaya fasilitas rumah sakit yang telah di berikan kepada pasien meninggal dunia atas nama Tia ayurasti" Kata suster tersebut.



"Sudah satu Minggu berlalu jadi kami menagih nya" Lanjut Suster.



"Oh iya sus,maaf saya benar benar lupa.Saya minta waktu satu Minggu lagi gimana sus,pasti saya bayar" Kata Erika.



"Baik,kami akan memberi waktu lagi selama satu Minggu.Maaf sudah mengganggu waktu nya dan terimakasih" Suster tersebut langsung mematikan telpon nya.



"Kenapa?" Tanya Gibran.



"Hah?...Gak apa apa" Erika tersenyum.



"Beneran?" Tanya Novia.



"Iya bener,yaudah yuk" Erika menarik tangan Samuel dan Ayu.



Mereka berenam Nongkrong di tempat biasanya.Saling bertukar canda satu sama lain,dengan berkumpul seperti itu mereka bisa melupakan semua masalah nya masing masing.Karena diantara mereka berenam ada yang mempunyai masalah dengan keluarganya sendiri.



Seperti Gibran yang tidak pernah betah di rumah karena selalu di banding bandingkan oleh kedua orang tua dengan kakak tirinya yang merupakan siswa terbaik di SMA yang berbeda.



Samuel yang frustasi karena ibu nya lebih mementingkan ayah tiri nya di banding Samuel sebagai anak kandungnya.



Novia yang selalu kesepian di rumah karena kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing sehingga tidak mempunyai banyak waktu untuk Novia sebagai anak tunggal mereka.



Sementara Bintang,mereka tidak tahu apa alasan Bintang bergabung dengan mereka.Karena ia tidak pernah menceritakan tentang kehidupan dan keluarga nya kepada mereka.



Meskipun Gibran, Samuel dan Novia merupakan dari keluarga kalangan atas dan hampir mempunyai segalanya.Tapi ada satu hal yang tidak bisa mereka dapatkan,yaitu kebahagiaan dari anggota keluarga nya sendiri.



Berbeda dengan Ayu dan Novia, meskipun hidup mereka sederhana atau orang orang biasa menyebutnya kalangan bawah.Tapi mereka mempunyai banyak kebahagiaan dari orang tuanya yang tidak bisa di miliki oleh mereka bertiga.



Tetapi sekarang Erika merasa sudah tidak bisa bahagia lagi,Ia merasa sekarang sudah sama seperti ketiga temannya yang tidak bisa mendapatkan kebahagiaan dari orang tuanya masing-masing.



Erika juga mempunyai alasan tersendiri mengapa ia bisa menjadi perempuan yang memiliki perilaku seperti berandal.Alasan yang sudah pasti ia ketahui adalah karena mewarisi salah satu sifat dari ayah nya dan alasan lainnya adalah karena ia ingin meluapkan rasa kesal terhadap ayahnya yang sudah menelantarkan Ia dan mama nya hingga merasakan hidup yang cukup menderita.



Terlebih lagi ia juga merasa sangat terganggu dengan para orang tua siswa kaya raya yang selalu bertindak semaunya kepada siswa kalangan bawah a.



Hal hal itulah yang membuat mental keberanian Erika muncul untuk menjadi siswa berandal selama berada di sekolah menengah.