Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 21



"Aaaarrgghhhh!!!!!!!" Teriak Mr.Derrick yang sangat marah karena tiba tiba ada sekelompok orang yang berhasil menggagalkan rencana nya untuk mendapatkan pundi pundi uang yang sudah menantinya.


"Sudah bereskan mereka semua?" Tanya Mr.Derrick kepada Pierre.Mereka yang ia maksud adalah para anak buahnya yang sudah mati karena dibunuh sekelompok orang tersebut.


"Sudah bos" Pierre menundukkan kepalanya.


"Siapa mereka?Kenapa mereka datang untuk membawa uang(gadis)ku?" Tanya Mr.Derrick dengan penuh amarah.


"Cari tahu siapa mereka,dan cari keberadaan bunga matahari sekarang juga!" Teriak nya.


"Baik bos" Pierre langsung pergi meninggalkan Mr.Derrick yang masih berdiri dengan penuh amarah.



*Tok!tok!tok*!



"Masuk!" Teriak Bintang.



Alfredo masuk kedalam ruangan Bintang di rumahnya,ia menghampiri Bintang sambil membawa sebuah tas yang biasa digunakan oleh orang kantoran.



"Ada berita bagus?" Tanya Bintang yang sedang memakan potongan buah di kursi nya.



"Ya bos" Kata Alfredo sambil mengeluarkan iPad dari tas nya.



"Omset penjualan senjata di bulan ini naik sekitar 85%" Alfredo memperlihatkan grafik kenaikan omset penjualan senjata nya.



"Waah,kerja bagus" Bintang menatap Alfredo sekilas sambil tersenyum.



"Oh iya bos,Kita mendapatkan klien lagi dari Australia.Dia meminta untuk dikirimkan senjata jenis semi otomatis sebanyak 1700 buah" Kata Alfredo.



"Bagus,kirim lah" Bintang memberikan iPad tersebut kepada Alfredo.



"Itu stok terakhir semi otomatis,setelah itu tidak ada lagi" Kata Alfredo.



"Kenapa?tinggal telpon direktur nya" Bintang membentuk jarinya seperti telpon genggam.



"Tapi kan bos yang memegang semua perintah nya" Alfredo tersenyum.



"Ahhh.. benar.Tunggu sebentar" Bintang mengambil ponsel nya dan langsung menghubungi direktur di perusahaan milik nya.



"Halo pak direktur?" Sapa Bintang ramah.



"Aduh,saya merasa tidak enak jika bos memanggil saya seperti itu" Kata pak direktur tersebut yang bernama Wijaya.



"Ah langsung saja,siapkan pistol jenis semi otomatis" Kata Bintang.



"Kalau saya boleh tau,berapa jumlah nya bos?" Tanya direktur Wijaya.



"Sebanyak yang kalian mampu" Jawab Bintang.



"Ahh...Baik bos akan saya siapkan secepatnya" Kata Direktur Wijaya.



"Ya,hubungi saya jika sudah siap" Bintang langsung menutup telponnya.



"Ada lagi?" Tanya Bintang kepada Alfredo.



"Ya bos.Satu menit yang lalu klien dari Australia sudah mentransfer uang sebanyak 12 miliar sebagai tanda jadi pembelian senjata" Wajah Alfredo senang.



"Tanpa negosiasi?" Tanya Bintang.



"Ya bos" Kata Alfredo.



"Kirim barang secepatnya,jangan bikin dia kecewa" Bintang masih menikmati makanannya.



"Kalau begitu saya permisi bos" Alfredo beranjak dari tempat duduk nya.



"Oh tunggu" Bintang tiba-tiba.



"Besok jangan ada yang datang ke sini, siapapun termasuk kau" Bintang menunjuk Alfredo.



"Kenapa bos?" Tanya Alfredo.



"Pokoknya jangan datang" Bintang menatap Alfredo.



"Iya,baik bos" Alfredo menundukkan kepalanya dan pergi keluar ruangan Bintang.



"Bos saya pulang dulu" Erika melambaikan tangan kepada bos nya.


"Hati hati!" Teriak bos.


Saat ia berjalan keluar bar,ia terkejut karena melihat Gibran dan Samuel turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu masuk bar.


"Kalian ngapain disini?" Tanya Erika kepada temannya itu.


"Erika,Lo sendiri ngapain disini?" Tanya Gibran.


Samuel mengendus-endus tubuh Erika karena ia mengira bahwa Erika sudah menikmati minuman beralkohol disana.


"Gak bau alkohol?" Bisik Samuel.


"Emang Lo pikir gue abis minum?" Tanya Erika kepada Samuel.


"Terus Lo ngapain malem malem disini?" Tanya Samuel.


"Huuuftt...Gue kerja disini" Kata Erika pelan.


"Kerja?" Tanya Gibran.


"Iya,gue kerja disini"


"Kok Lo gak pernah cerita sama kita?" Kata Gibran.


"Gue gak mau bebanin kalian" Erika tersenyum.


"Terus Lo berdua ngapain ke sini?" Tanya Erika curiga.


"Samuel tuh ngajak minum" Kata Gibran kesal.


"Aishh...Masuk sana" Kata Erika.


"Lo hati hati di jalan ya" Kata Gibran, Erika hanya menganggukkan kepalanya.


Bukannya pulang,Erika malah ikut masuk kedalam bar mengikuti Gibran dan Samuel.


"Lo ngapain?Lo gak boleh minum,pulang sana" Ucap Gibran kepada Erika.


"Siapa bilang gue mau minum?" Tanya Erika.


"Terus mau ngapain?" Tanya Samuel.


"Gue mau liatin aja kali" Erika tersenyum sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja.


"Aishh perasaan gue ga enak" Gibran langsung menoleh ke arah pelayan untuk memesan minuman.


"Udah berpaa lama Lo kerja di sini?" Tanya Gibran.


"Kurang lebih sekitar tiga mingguan lah" Erika mengernyitkan dahi nya.


"Jadi ini urusan yang Lo bilang?" Tanya Gibran.


"Hemm" Kata Erika mengangguk.


Erika hanya menatap kedua teman laki laki nya yang sedang menikmati minuman beralkohol tersebut.Satu botol berlalu,dua botol berlalu.Ketika mereka sudah benar benar sangat mabuk,Gibran membuka minuman di botol ketiga nya lagi.


"Hei,Udah dua botol" Erika langsung mengambil botol ketiga yang sedang di genggam Gibran.


"Lo udah mabuk Gibran,mana sini kasih gue aja.Gue masih kuat" Kata Samuel dengan suara melantur nya.


"Asihh..Lo juga sama aja" Kata Erima kepada Samuel yang sudah sangat teler.


"Aishh udah gue duga pasti kayak gini.Msreka bikin gue jadi gila" Erika memegang pundak Gibran dan langsung memangg salah satu teman kerja laki lakinya untuk membantu Erika membawa Gibran dan Samuel ke dalam mobil.


"Erika,suruh temen Lo bayar dulu" Kata salah satu pelayan perempuan.


"Ah,iya bentar" Erika langsung merogoh kantong jaket Gibran untuk mencari dompet nya.


"Nih" Erika memberikan langsung memberikan semua uang yang ada di dompet Gibran


"Kebanyakan" Kata pelayanan tersebut.


"Gak apa-apa anggap aja bonus buat lo,Lagi pula dia orang kaya.Jadi tenang aja" Kata Erika sambil merangkul Gibran yang sudah tertidur.


Samuel dan Gibran duduk di belakang, sementara Erika duduk di kursi kemudi kayaknya seorang sopir.


"Gue harus anter mereka kemana?" Tanya Erika kepada dirinya sendiri.


"Gak mungkin kan gue anter kerumah mereka dalam keadaan mabuk kayak gini.Bisa bisa mereka dicoret dari kartu keluarga nanti" Erika kebingungan.


"Apa gue tinggalin disini aja kali ya,nanti juga mereka bangun" Lanjut Erika.


"Tapi gue gak tega.Asihh kenapa juga mereka harus mabuk" Erika menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Oh,atau bawa aja mereka ke rumah gue?" lanjut Erika. "Tapi,kalo ada orang yang salah sangka gimana?" Erika semakin kebingungan.


"Ah bodo amat,ngapain juga gue harus peduliin mereka" Erika langsung menginjak pedal gas dan pergi menuju rumah nya.




Sesampainya Erika di depan halaman rumah,ia langsung membunyikan klakson untuk meminta bantuan Naura agar segera membuka pintu pagar rumah nya.



Naura yang sedang menonton tv terkejut karena mendengar suara klakson mobil,ia langsung beranjak dan berjalan menuju pintu rumah dan mengintip nya di jendela.



"Mobil siapa itu?" Tanya Naura cemas.



"Jangan jangan anak buah nya Mr.Derrick" Naura semakin cemas.



Sementara itu Erika kesal karena Naura tidak segera keluar untuk membukakan pintu pagar nya.Ia langsung turun dari mobil untuk membukanya sendiri.



"Aishh,kenapa dia gak keluar juga sih?Udah tidur kali ya,tapi masa kebo banget" Erika kesal.



"Oh,atau jangan jangan dia pikir ini bukan gue.Makanya dia takut buat keluar rumah.Ahh...Bener sih" Erika langsung turun dari mobil dan membuka pintu pagar rumah nya.



"Ini akuu!!" Teriak Erika yang kembali masuk kedalam mobil.



Karena melihat orang yang mengendarai mobil itu adalah Erika,Naura langsung keluar rumah untuk menghampiri nya.



"Ini mobil siapa?" Tanya Naura.



Erika tidak berbicara apapun,ia langsung membuka pintu belakang untuk memperlihatkan siapa pemilik mobil tersebut.



"Siapa mereka?" Tanya Naura.



"Temen sekolah aku" Jawab Erika. "Ayo bantu aku bawa mereka masuk ke dalem" Lanjutnya.



"Masuk kedalam?" Tanya Naura.



"Iya"



"Tapi kenapa mereka pingsan kayak gini?Badannya juga bau alkohol" Naura menutup hidungnya.



"Udah bawa aja dulu" Erika langsung merangkul Samuel untuk membawanya masuk kedalam rumah.Sementara Naura membawa Gibran.