
"Sini aku bersihin muka kamu" Kata Bintang sambil memegang selembar tisu basah yang tersedia di dalam mobilnya.
Erika langsung menoleh ke arah Bintang. "Tadi aku beneran liat ada orang di lantai paling atas.Kamu percaya kan sama aku?" Tanya Erika.
"Iya aku percaya,tapi gak usah di pikirin lagi ya"
Meskipun kejadian itu terlihat seperti tidak ada pelaku,tetapi tetap saja Erika sudah menaruh rasa curiga kepada seseorang.Ia beluk bisa mengatakan nya karena belum mengetahui kebenaran yang sebenarnya.
Sesampai nya di kamar, Bintang dan Erika langsung membersihkan seluruh badan mereka agar bisa beristirahat dengan nyaman.
Ponsel Bintang berbunyi,ia mendapat panggilan dari Alfredo yang ingin menanyakan kembali kapan acara meeting itu akan dilaksanakan. "Besok pagi"
"Baik bos,kalau begitu akan saya persiapkan sekarang juga"
"Besok kamu jadi ikut?" Tanya Bintang.
"Jadi" Erika mengangguk antusias.
"Yaudah kalau gitu sekarang tidur,biar besok gak kesiangan" Dengan sikap lembutnya Bintang mengelus-elus rambut Erika hingga wanita itu tertidur nyenyak di dekatnya.
...•••...
Di Pagi harinya mereka sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor dengan setelan Jas rapih yang mereka kenakan.
"Udah selesai?" Tanya Bintang.
"Udah"
"Yaudah kalo gitu kita berangkat sekarang" Bintang mengangkat tangan kanannya agar Erika mendekat dan ia bisa merangkul tubuh yang lebih kecil darinya itu.
Ternyata ada Alfredo yang sedang duduk di ruang tamu menunggu Bos dan istrinya itu.Alfredo datang bersama pengawal lain yang berjumlah sekitar lima belas orang dengan total mobil yang di kendarai berjumlah empat mobil mewah.
"Kita berangkat sekarang" Kata Bintang kepada Alfredo.
"Silahkan Bos" Alfredo mempersilahkan pasutri itu untuk berjalan terlebih dahulu sementara ia berjalan di belakang mereka.
Pintu rumah mereka terbuka secara otomatis,tetapi bisa dengan cara manual jika diinginkan.
Saat pintu utama terbuka,Beberapa orang yang sudah menunggu diluar langsung menundukkan kepalanya dan ikut berjalan di belakang Bintang dan Erika.
Di temani oleh kacamata hitam mereka, penampilan kedua nya sangat memukau atau Biasa disebut sebagai pasangan badass.
Meskipun dikawal oleh beberapa bodyguard,Bintang tetap ingin mengendarai mobil mewah nya sendiri di temani oleh istri cantiknya.Jadi tugas mereka hanya mengawal dari jarak dekat.
"Tamu acara nya siapa aja?" Tanya Erika.
"Kamu"
"Akusm serius..."
"Banyak sih,nanti kamu liat aja daftar hadir nya disana"
"Kamu kenapa gak pernah bilang sama aku kalau ada rencana mau keluarin senjata terbaru?" Tanya Erika.
"Kan surprise,hadiah buat kamu"
"Surprise?Hadiah?Hadiah apanya?"
"Cih,sok romantis" Gerutu Erika sambil memutar kedua bola matanya.
Bintang mengendarai mobil sport berwarna hitam nya itu dengan kecepatan normal Meskipun normal,tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di sana ditambah lagi jalanan Jakarta yang macet bisa diatasi oleh pengawalan ekstra dari para pengawal tersebut.
Melihat mobil mewah berdatangan,para wartawan yang sudah menunggu lama disana langsung berhamburan keluar ruangan untuk menyambut kedatangan Bintang dan Erika.
Mereka ingin memotret pemilik perusahaan senjata terlebih dahulu lalu mewawancarai nya sejenak sebelum mereka melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalam.
"Selamat pagi Tuan,nona" Sapa pak Wijaya kepada mereka.
"Selamat pagi pak"
"Pak kepala dan yang lainnya sudah menunggu di dalam".
"Yasudah kalau begitu kita mulai sekarang"
Bintang hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam untuk menyelesaikan meeting tersebut.Setelah semua sepakat dengan model yang sudah di contohkan, mereka langsung berjalan keluar ruangan untuk melihat penampakan dari senapan jenis terbaru itu.
Senapan itu sengaja di simpan di dalam lemari kaca yang letaknya berada di tengah-tengah lobi gedung perusahaan.Sehingga siapapun orang yang datang bisa melihat secara langsung bagaimana model senapan terbaru yang akan diluncurkan itu.
Karena Bintang sudah mengatakan bahwa tujuannya adalah sebagai hadiah untuk Erika,wanita itu meminta untuk mengeluarkan senapan tersebut dan mencoba nya terlebih dahulu meskipun tanpa amunisi.
"Keluarin boleh gak?" Tanya Erika. "Aku mah mau tau berat nya kayak gimana" Bisik Erika kepada Bintang.
"Alfredo, tolong keluarkan"
"Baik bos" Dengan cepat Alfredo langsung melaksanakan perintah dari bos kesayangan nya itu.
Dengan sangat berhati-hati, Alfredo menyerahkan senapan itu kepada Erika.Ia berhati-hati bukan karena itu contoh senapan terbaru,tapi karena berat nya yang bisa saja menimpa kaki Erika jika wanita itu tidak berhati-hati.
Dengan percaya dirinya Erika mengarahkan senapan itu ke satu titik dan terus memfokuskan teleskop yang sedang ia atur.
Tapi suara penyiar berita di salah satu stasiun televisi membuat Erika seketika menghentikan aktivitas nya dan perlahan menengok ke arah tv yang sedang menyala tersebut.
"Berita terkini.Seorang pria berumur yang berinisial TA,ditemukan tewas bersimbah darah di salah satu unit apartemen miliknya.Banyak masyarakat terutama para pekerja kantoran mengira bahwa korban adalah seorang pimpinan perusahaan Haneul.Mereka menduga karena sudah hampir tiga hari lamanya korban tidak terlihat hadir di tempatnya bekerja"
Mendengar berita tersebut perlahan Erika menurunkan senapan nya dengan wajah pias,tentu saat mendengar nama perusahaan nya saja fikiran nya langsung tertuju pada satu nama.
"Oh,maaf Nona karena televisi di ruangan ini tidak pernah di matikan.Jadi beberapa staf mungkin melupakan hal ini.Akan saya matikan sekarang juga" Kata salah satu karyawan perempuan yang bertugas di lobi.
Melihat wajah istrinya yang terlihat kebingungan,Bintang langsung mengambil benda yang ada di tangan Erika dan menyuruh Alfredo untuk meletakkan kembali di tempatnya semula.
"Saya rasa cukup untuk hari ini,kita tinggal menunggu bagaimana perkembangan nya saja" Kata Bintang sambil menggenggam erat tangan Erika.
Dengan sigap Alfredo dan yang lainnya langsung mengawal Bintang dan Erika untuk masuk kedalam mobil mereka dan kembali ke rumah.
"Kami denger beritanya kan?Kamu denger kan?" Tanya Erika.
"Iya aku denger"
"Apa mungkin dia..."
"Kamu jangan berfikir yang macem-macem terus, gimana kalau kita ke perusahaan itu sekarang buat buktiin kalau pemikiran kita itu benar atau salah"
"Aku rasa jangan deh,lebih baik kita pulang aja.Lebih bagus juga kalau kamu suruh Alfredo aja untuk cari informasi itu" Kata Erika.
"Yaudah nanti aku suruh Alfredo buat cari tau"