
"Bu pesen minuman,apa aja terserah" Erika memilih untuk pergi ke kantong dari pada kembali ke kelas,karena ia pasti akan emosi lagi jika melihat wajah Resya disana.
Situasi di kantin sangat sepi,tidak ada satupun siswa yang berkeliaran di sana karena pembelajaran masih berlangsung.
"Bu pesan minuman ya" Pak Rama yang mengikuti Erika sejak tadi langsung duduk dihadapan nya.
"Mau minuman apa pak?" Tanya Ibu kantin.
"Eee apa ya,apa aja deh"
"Ada apa sebenarnya Erika?" Tanya Pak Rama dengan menyilangkan kedua tangannya di atas meja.
"Apanya yang ada apa?" Erika bertanya dengan wajah bingung sang sedikit kesal yang masih tersisa.
"Ck!,Kamu saya Resya kenapa berantem?"
"Udahlah pak gak usah dibahas lagi" Erika memalingkan wajahnya malas.
"Saya kan wali kelas kalian berdua,jadi saya harus tau dong apa permasalahan nya" Pak Rama terus berusaha membujuk Erika.
"Udah ya pak,demi apapun saya males banget kalo harus bahas itu lagi" Erika menatap malas pak Rama.
"Yaudah lupain aja pertanyaan bapak yang tadi" Pak Rama memundurkan badan nya lagi.
"Hmm...Bagus"
"Sekarang bapak mau tanya,Gimana cara kamu buat hadapi orang tua Resya besok?" Tanya Pak Rama yang kembali menyilangkan kedua tangannya di atas meja.
"Cara?Ngapain sih pak harus pusing pusing mikirin cara segala" Erika mulai nyolot.
"Ya harus dipikirin dong Erika, kemungkinan besar besok kamu akan dikeluarkan dari sekolah ini" Pak Rama mulai darah tinggi.
"Pesanan datang" Di tengah tengah perselisihan panas Bu kantin mendinginkan nya kembali karena membawa minuman yang sangat menyegarkan untuk menambah stamina mereka yang sedang berdebat.
"Ahh..Iya makasih Bu" Kata Erika.
"Ini kan masih jam pelajaran neng,ko udah di kantin aja?" Tanya Ibu Kantin.
"Gurunya juga ada disini" Erika melirik Pak Rama sebentar dan langsung memutar kedua bola matanya jengkel.
"Udah ya Bu,anggap aja kita berdua gak ada disini.Jadi jangan pedulikan kami" Pak Rama tersenyum seolah olah sedang mengusir Ibu kantin dengan cara yang sangat halus.
"Yaudah.Selamat menikmati"
"Jadi gimana?" Tanya Pak Rama lagi.
"Apanya yang gimana?" Erika mulai sangat jengkel.
"Besok gimana?" Pak Rama berbicara dengan menekankan nada bicaranya.
Sekarang mereka berbincang dengan saling menekankan nada bicaranya dan juga saling jengkel satu sama lain.
Sekarang mereka terlihat bukan seperti seorang siswa dan guru nya,tapi terlihat seperti kedua sahabat yang sudah akrab dari kecil.
"Udah bapak santai aja,saya gak bakal dikeluarin" Kata Erika.
"Kenapa kamu yakin banget?"
"Ya harus yakin lah,Gak ada orang yang meyakinkan saya selain diri saya sendiri" Erika mengaduk-aduk minumannya.
"Kamu jadi orang kenapa terlalu santai banget sih?" Pak Rama mendekatkan wajahnya.
"Dah,gimana kalo kita taruhan aja" Erika mengalihkan pembicaraan.
"Apa?Sekarang taruhan?" Tanya Pak Rama terkejut.
"Kalo besok saya di keluarin,saya bakal traktir bapak makan enak di restoran.Tapi kalo besok saya gak di keluarin,pokoknya gak mau tau nilai saya harus paling besar di mata pelajaran bapak" Erika tersenyum licik.
"Sudah pasti kamu yang akan traktir saya makan enak" Pak Rama sombong.
"Oke,liat aja besok.Dah saya pergi duluan" Erika pergi begitu saja tanpa membayar minumannya.
"Neng bayar dulu!" Teriak Ibu kantin.
"Dibayarin pak Rama,dia baru gajian!" Teriak Erika yang mulai menjauh dari kantin.
***
Saat siswa lain keluar kelas untuk istirahat di kantin,Erika masuk kedalam kelas untuk mengambil tas nya dan pulang kerumah,karena tidak mungkin berdiam di kelas dengan suasana hati yang sangat buruk pasti akan memperparah keadaan.
"Lo mau kemana?" Bintang yang sedang tidur langsung terbangun saat mendengar Erika yang sedang bernyanyi sambil membereskan barang barang nya.
"Gue mau pulang,dadah" Erika melambaikan tangan dan langsung keluar kelas begitu saja.
Erika tidak langsung pulang,ia mampir terlebih dahulu ke salah satu restoran yang berada di dekat sekolah nya.
Saat sedang menikmati makan siangnya,ponsel Erika berbunyi.Ia mendapat panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
Ternyata orang yang menelpon Erika adalah ayah nya.Ia sengaja datang ke Jakarta hanya untuk mengajak Erika bertemu dengannya.
Tentu saja Erika tidak mau,tetapi ayahnya terus memaksa Erika untuk mau bertemu dengan nya walaupun sebentar tidak apa-apa.
Karena terus memaksa, akhirnya Erika mau bertemu dengan ayahnya karena terpaksa.Mereka akan bertemu nanti malam di restoran yang sudah di tentukan oleh ayah Erika.
"Aishh..kenapa tiba tiba dia pengen banget ketemu sama gue" Gerutu Erika setelah menutup panggilan telponnya.
"Dimana lo?" Tanya Bintang saat Erika sudah sampai di rumah.
"Baru nyampe rumah,kenapa?"
"Nanti malem makan diluar bisa?"
"Yaelah pake tumben segala,ayolah" Paksa Bintang.
"Yah, sorry banget gue gak bisa tang.Besok aja gimana" Erika menolak saat ia mengingat bahwa telah membuat janji dengan ayahnya untuk bertemu malam ini.
"Kenapa?"
"Gue udah ada janji"
"Janjian sama siapa?" Tanya Bintang sinis.
"Sama orang lah"
"Cewe cowo?" Bintang mulai menyelidiki.
"Cowo"
"Yaelah udah punya cowo gue ditinggal" Gerutu nya.
"Apaan sih Lo alay banget,baru nemu gue mafia alay" Erika tertawa.
"Serius Lo mau ketemu sama siapa?" Suara Bintang sudah berubah menjadi serius,Erika bisa merasakan itu dan ia mulai berhenti tertawa.
"Gue mau ketemuan sama bokap gue"
"Bokap?Bokap Lo?" Tanya Bintang bingung.
"Masa bokap lo"
"Kok bisa?" Tanya Bintang lagi.
"Aduh nanti deh gue ceritain kalo kita ketemu ya.Udah ah gue mau mandi dulu,daah" Erika langsung menutup telpon nya tanpa persetujuan Bintang.
***
Erika mendatangi restoran yang sudah di tentukan oleh ayahnya.Saat memasuki restoran ia melihat ada seorang pria berumur melambaikan tangan ke arahnya,itu ayahnya.
Erika menghela nafas dengan wajah malas berjalan menghampiri ayahnya dan langsung duduk tanpa menyapa lelaki itu terlebih dahulu.
Menurut Erika situasi saat ini sangat canggung,matanya terus menatap seluruh isi ruangan karena tidak ingin menatap wajah ayahnya.
Sesekali ia memejamkan matanya karena bosan terus melihat benda yang sama.
"Kamu mau pesen apa?" Tanya Ayahnya sambil memberikan buku menu kepada Erika.
"Gak makasih"
"Masa gak makan"
Erika memutar kedua bola matanya. "Minum aja,terserah apa aja" Erika masih memalingkan wajahnya.
"Kamu apa kabar?" Tanya Ayah Erika setelah makanannya sampai di meja..
"Baik"
"Kamu masih sekolah kan?"
"Masih"
"Sekarang usia kamu berapa?"
"Mau 19 bentar lagi"
"Mamah sehat?" Mr.Derrick belum tahu bahwa mantan istrinya sudah meninggal dunia.
Erika menghela nafas jengkel. "Sangat sehat" Erika tersenyum paksa.
"Kamu sekarang tinggal dimana?"
"Di Jakarta intinya"
"Lihat ayah" Kata Mr.Derrick tiba tiba karena bosan melihat putrinya yang terus memalingkan wajah karena enggan menatap nya.
"Gak"
"Lihat sebentar"
"Gak mau"
"Sebentar aja"
Sangat jengkel Erika langsung menatap ayahnya dengan membuka mata lebar lebar karena jengkel. "Udah nih,mau apa lagi?"
"Maafin ayah" Ucapnya lembut.
Erika langsung berhenti membuka matanya lebar-lebar.Tatapan nya mulai kembali seperti semula.Ia menghela nafas pendek dan langsung memutar matanya lagi.
"Ayah mohon maafin ayah" Mr.Derrick memaksa.
"Yaudah"
"Kami serius?" Tanya Nya.
"Tadi katanya minta maaf" Erika darting.
"Thank you Erika!" Ucapnya histeris dan langsung memeluk Erika dengan sangat Erat.
"Ya-yaudah iya iya,aku bisa mati kehabisan oksigen" Ucap Erika.