
Keesokan harinya,Erika bangun sangat pagi.Setelah selesai mandi,ia menatap wajah nya di cermin dengan wajah terperangah sambil perlahan menyentuh bagian lebam di wajahnya karena berkelahi dengan copet beberapa waktu lalu.
"Ahh...iya..Seberapa banyak copet sialan itu pukulin gue" Erika meraba raba bagian wajah nya yang lebam.
"Aduhh,bisa bisanya di rumah sebesar ini gue kelaparan" Erika memegang perut dengan kedua tangannya dan berjalan keluar kamar.
Erika dan Bintang keluar kamar bersamaan dan saling menatap sekilas.Erika bingung karena melihat Bintang yang sudah rapih mengenakan setelah jas hitam, Sedangkan Bintang bingung melihat Erika yang sedang memegang perut nya sendiri
"Lo mau kemana?Kok pagi pagi gini udah pake baju rapih aja?" Tanya Erika yang masih memegang erat perut nya karena kelaparan.
"Lo kenapa pegangin perut?Lo sakit?" Tanya Bintang cemas.
"Hei,gue laper" Erika mendekati Bintang. dan berbisik.
"Gimana bisa di rumah sebesar ini gak ada makanan?" Tanya Erika dengan wajah kesalnya.
"Kita jarang makan dirumah" Jawab Bintang singkat.
"Terus Lo mau kemana?" Tanya Erika.
"Ke markas" Kata Bintang sambil merapihkan jas hitam nya.
"Markas?..." Erika berpikir sekejap. "Ahh..Tempat itu" Lanjut nya yang teringat dengan tempat yang pernah ia datangi secara diam diam untuk menemui Bintang.
"Lo mau ikut?" Tanya Bintang.
"Hah...Ngapain gue ikut?" Tanya balik Erika dengan wajah panik.
"Santai aja kali,Lo harus sering sering Dateng ke sana.Lo kan udah terlanjur tau rahasia gue" perlahan Bintang melangkah maju ke arah Erika.
"A-ahh...Iya gue harus sering sering ke sana" Erika menghindar dari Bintang.
"Kalo Lo laper mending ikut,disana ada banyak makanan" Bintang memundurkan langkahnya lagi.
"Ba-banyak makanan?" Tanya Erika dengan antusias.
"Iya,gue kasih waktu 15 menit buat ganti baju" Bintang menatap jam tangan mewah nya.
Erika langsung bergegas masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaiannya.Setelah hampir 15 menit ia kembali keluar dengan memakai celana jeans hitam dan sweater berwana pink.
"Ayo" Erika tersenyum.
"Lo serius mau pake setelan kayak gini?" Tanya Bintang sambil terus menatap Erika dengan tatapan aneh nya.
"Kenapa?Apa yang salah?" Erika memutarkan badannya.
"Danu" Bintang memanggil asisten yang sejak tadi berada di belakang nya bersama Bara.
Bara adalah orang kepercayaan Bintang nomor dua.Jika Alfredo lebih banyak melakukan kegiatan nya di markas,Bara menghabiskan waktu bertugas di rumah Bintang.
"Saya bos" Danu berjalan menghampiri Bintang.
Bintang berbisik kepada Danu,setelah itu Danu langsung mengangguk dan berjalan ke lantai satu untuk mengambil barang yang Bintang minta.Beberapa menit kemudian Danu datang dengan membawa kotak berukuran sedang yang berisi pakaian wanita berwarna serba hitam.
"Ini bos" Danu memberikan kotak tersebut kepada Bintang.
"Pake ini" Bintang memberikan kotak tersebut kepada Erika.
"Apa ini?" Tanya Erika sambil membuka kotak tersebut. "Baju?" Erika menatap Bintang.
"Pake aja atau gue tinggalin sekarang" Bintang berbicara dengan wajah datar.
"Iya iya" dengan cepat Erika langsung masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaiannya lagi.
Beberapa menit kemudian Erika keluar kamar dengan penampilan nya yang sangat berbeda.Kini ia memakai setelan pakaian serba hitam mulai dari celana jeans hitam dengan model sobek di bagian lutut,pakaian hitam yang dibalut dengan sweater oversize berwarna hitam,ditambah lagi dengan kacamata dan masker berwarna hitam sebagai aksesoris pelengkap.
"Ini?" Erika mengangkat kedua tangannya sambil berputar.
"Gue lebih suka Lo berpakaian kayak gini" Bintang menunjuk Erika.
"Hei Bintang,Kalo kayak gini gue ngerasa kaya mata mata tau gak?" Erika mengeluh.
"Ayo,waktu gue banyak ke buang gara gara Lo" Bintang membalikkan badannya bergegas menuju lantai satu dengan menaiki lift.
"Silahkan Nona" Kata Danu.
...•••...
Mereka telah sampai di depan markas mewah milik Bintang.Danu dan Bara membukakan pintu mobil untuk Erika dan Bintang.
Dengan balutan pakaian serba hitam,mereka semua terlihat seperti orang yang akan menghadiri acara pemakaman.
Erika dan Bintang masuk kedalam Markas diikuti dengan beberapa anak buah Bintang di belakang dan dua orang anak buah di depan nya.Mereka berdua terlihat seperti sepasang raja dan ratu yang sedang di kawal oleh beberapa prajurit.
"Kalian kembali ke posisi masing masing" Kata Bintang kepada para anak buahnya.
"siap bos" Mereka kompak.
"Barang nya sudah sampai?" Tanya Bintang.
"Sudah bos,mereka yang pergi ke pelabuhan sudah kembali" Kata Alfredo.
"Barang?Barang apa?" Tanya Erika curiga.
Alfredo hanya menatap Bintang karena ia tidak tahu harus berkata apa.
"Dia sekarang udah jadi bagian dari kita" ucap Bintang kepada Alfredo.
"Apa?A-apa maksud Lo? Perkataan Lo tadi bikin gue merinding" Erika mengusap kedua lengan dan lehernya.
"Lo udah tau rahasia gue,secara gak sengaja Lo juga udah masuk ke dunia hitam ini.Jangan coba coba lari?" Bintang menunjuk Erika.
"Iya ngerti,Jangan tatap gue kayak gitu" Erika menunjuk balik Bintang.
"Ini..." Bintang menunjukkan pistolnya kepada Erika.
"Apa itu?Lo mau ngapain?" Erika beranjak dari duduknya dan bersikap waspada.
"Ini barang yang Lo tanyain tadi" Kata Bintang.
"Kalian kirim pistol?Ke siapa?" Tanya Erika polos.
"Ini bisnis keluarga gue" Bintang meletakkan pistolnya di meja.
"Waaahh... M-maksud lo...Lo lakuin bisnis penjualan senjata?" Tanya Erika sambil perlahan meraih pistol Bintang.
"Jangan pegang" Bintang mengambilnya kembali.
"Kenapa?" Tanya Erika.
"Sekarang Lo belum pantes pegang ini,suatu saat baru gue izinin" Kata Bintang.
"Bahkan gue gak butuh izin dari Lo" Bisik Erika cemberut.
"Oh iya,kenapa Lo sekolah?" Tanya Erika tiba-tiba.
Bintang dan Alfredo langsung saling bertatapan.Bintang memberi isyarat kepada Alfredo untuk pergi meninggalkan ruangan karena mereka berdua akan berbicara santai layaknya seorang teman dekat.
"Kenapa dia keluar?" Tanya Erika kepada Bintang.
"Dia udah selesain tugas nya,mau ngapain lagi disini?" Kata Bintang.
"Lo kenapa sekolah?" Erika mengulang pertanyaan nya.
"Maksud lo?Pertanyaan macam apa itu?" Bintang tertawa. "Lo mau makan?Tadi katanya laper" Lanjut Bintang.
"Lupain dulu,laper nya udah ilang" Erika berpindah duduk di sebelah Bintang.
"Gue rasa Lo Mafia" Kata Erika menatap Bintang.
"Ma-mafia?Apaan si Lo...hahahah" Bintang tertawa layaknya orang bodoh.
"Tembak dua orang sekaligus tanpa ampun?...Penjualan senjata?...Punya banyak anak buah??.. Apa nama nya kalo bukan Mafia?" Erika semakin mendekat kan wajahnya ke arah wajah Bintang.
Bintang hanya menghela nafas sambil memalingkan wajahnya sedangkan Erika perlahan mulai menjauh dari hadapan Bintang dengan wajahnya yang mulai mengerti bahwa Bintang seolah olah mengatakan iya.
"Iya kan?" Tanya Erika tersenyum.
"Hmmm...terus?" Tanya Bintang pasrah.
"Kenapa Lo sekolah?Jadi mafia gak perlu sekolah juga bisa kan?" Tanya Erika yang semakin penasaran.
"Gue sekolah karena gue mau Erika...Lagian gue juga masih muda,jadi gak ada salahnya kan?" Bintang memegang kedua bahu Erika.
"Gitu?" Erika menatap Bintang.
"Iyalah...Lagian mereka gak tau kalau gue mafia.Jadi gak ada salahnya juga kan?" Tanya Bintang lagi.
"Lo sekolah pun jarang masuk,setiap hari selalu bolos.Sekalipun Lo masuk,pasti selalu bikin ulah.Dimana waktu belajarnya?Kapan Lo belajarnya?" Tanya Erika sambil memegang balik kedua bahu Bintang dan menatap tajam kearah nya.
"Ahh...Apa iya?" Tanya Bintang sambil tersenyum.
"Jujur sama gue" Erika semakin mendekatkan wajahnya.
"Arggghh...Iya,iya.Gue kasih tau semuanya ke Lo" Kata Bintang.
"Tanpa ada yang ditutup-tutupin?" Tanya Erika memastikan.
"Iya janji" Bintang menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Erika.
"Oke,Ayo cerita" Erika melunakkan tatapan nya dan melepas genggaman tangannya di bahu Bintang.