
"Buka" Kata Bintang yang menyuruh Danu untuk membuka pintu gerbang sekolah Harapan bangsa.
Bintang,Danu,Agus dan kelima anak buahnya yang lain datang untuk mengambil berlian di dinding ruangan kepala sekolah sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Pak Leo.
Dengan menggunakan master kunci,mereka berhasil membuka pintu ruangan.Bintang langsung menyapu pandangan nya ke seluruh penjuru ruangan.Mata nya terhenti saat melihat sebuah lukisan besar yang menempel di dinding,ia berjalan mendekati lukisan tersebut dan mengambil lukisan nya.
Senyumnya menyeringai saat melihat sebuah pintu berangkas besar di balik lukisan tersebut.Tanpa menunggu lama salah satu anak buah Bintang langsung membobol berangkas tersebut,senyum penuh kemenangan mereka mulai menipis saat melihat kotak berangkas besar tersebut kosong atau tidak ada isinya sama sekali.Tidak ada berlian disana,bahkan selembar uang pun tidak ada.
"Aishh Leo brengsek" Bisik Bintang kesal. "Beresin lagi semuanya" Bintang langsung berjalan meninggalkan ruangan tersebut, diikuti oleh Agus dan Danu di belakangnya.
***
Bintang sudah sampai di markasnya.Tanpa menunggu Danu membukakan pintu mobil untuknya,Bintang langsung berjalan cepat menuju ruang bawah tanah untuk menemui pak Leo.
Braaakkkkk!!!!!........
Bintang membuka pintu dengan sangat kasar, sementara para anak buahnya hanya berdiri di luar ruangan.
Bintang langsung menyeret Pak Leo ke dinding dan menggenggam erat leher nya hingga pak Leo sedikit kesulitan bernapas.
Tak hanya itu,Bintang juga menodongkan pistol nya tepat di bibir Pak Leo.Mungkin jika Bintang benar benar menembakkan peluru nya pak Leo tidak akan mati,tapi setidaknya pak Leo akan sangat menderita karena rasa sakitnya.
"Ini hukuman buat orang yang suka berbohong" Bintang menatap Pak Leo dengan tatapan iblis nya.
"Apa maksud kamu?Saya tidak berbohong" Kata Pak Leo.
"Uang dan berlian nya gak ada disana" Kata Bintang dengan wajah yang masih tertutup seperti biasanya. "Cepat katakan kemana kalian pindahin berliannya?" Lanjut Bintang.
"Saya beneran gak tau,mungkin pak Tirta pindahin uang dan berliannya tanpa sepengetahuan saya.Ampuni saya,saya benar benar tidak tahu" Pak Leo memohon.
"Apa ini kebohongan lagi?" Tanya Bintang.
"Buat apa saya bohong,buat apa saya rela dibunuh demi pak Tirta?Saya juga sayang sama nyawa diri saya sendiri" Kata Pak Leo lagi.
Bintang langsung menurunkan pistolnya perlahan dan menatap wajah pak Leo sekilas,Lalu ia pergi keluar ruangan begitu saja.
"Lo ngapain kesini?" Tanya Bintang saat melihat Erika datang ke Markas bersama Bara.
"Gue bosen di rumah.Gimana,udah berhasil temuin uang sama berlian nya?" Tanya Erika.
"Uang sama berlian nya gak ada disana,Pak Tirta bergerak lebih cepat daripada dugaan gue" Kata Bintang.
"Terus sekarang Lo mau kemana?" Tanya Erika.
"Gue mau ketemuan dulu sama klien dari Thailand" Kata Bintang.
"Klien?" Tanya Erika.
"Bisnis" Bintang mendekatkan wajahnya ke wajah Erika dan langsung pergi keluar rumah diikuti oleh Agus dan Danu di belakangnya.
"Bisnis apa sih?" Tanya Erika kepada Bara.
Bara hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak mau memberi tahu Erika.
"Haaaaaahh....Terus aja diem" Erika meninggalkan Bara.
Ini tentang Mr.Derrick atau pak Berto,yaitu ayah Erika.
Setelah gagal membawa Naura ke Brazil,dan berpisah dengan Erika serta semua anak buahnya telah dibunuh oleh anak buah Bintang waktu itu.Mr.Derrick dan Pierre langsung pergi kembali ke Selat Malaka hari itu juga karena khawatir jika orang orang yang membawa Naura dan Erika adalah tim dari badan intelijen.
Bahkan mereka tidak menyadari alasan para Intel tersebut tidak membawa mereka.
Tetapi akhirnya Mr.Derrick mengetahui bahwa dalang dibalik orang orang tersebut adalah Bintang.Ia mengetahui semua itu berkat salah satu anak buah bintang yang telah di bunuh karena mengkhianati Bintang tempo hari.
Tentu Mr.Derrick tidak akan diam,suatu saat nanti ia pasti akan datang kepada Bintang untuk membalaskan kematian para anak buahnya.
Dan tak lupa,ia juga akan datang menemui Erika untuk menebus semua kesalahannya di masa lalu.
***
"Bawa dia ke gedung tua di pusat kota" Bintang memberikan perintah kepada anak buahnya yang sedang memata-matai Pak Tirta sejak beberapa hari yang lalu.
Malam itu Erika dan Bintang pergi ke gedung tua tersebut dengan ditemani oleh Agus dan Danu.
Sesampainya di lantai tujuan Erika melihat pak Tirta tidak sendirian,melainkan di temani juga oleh istri tercinta nya yaitu Bu Renita yang ikut di bawa juga.
Malam itu pak Tirta dan Bu Renita berniat akan pergi makan malam berdua setelah selesai melakukan pekerjaan nya,jadi terpaksa ketiga anak buah Bintang harus membawa Bu Renita juga.
"Saya cucu Mr.Pavlo Moran" Kata Bintang sambil berjongkok menatap pak Tirta.
Pak Tirta dan Bu Renita duduk di kursi dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Apa?" Bisik Pak Tirta terkejut.
"Gak mungkin" Kata Bu Renita.
"Saya cuma mau tanya satu kali" Kata Bintang. "Dimana kalian sembunyikan uang dan berlian nya?"
Pak Tirta dan Bu Renita masih tertunduk diam dan tidak merespon pertanyaan Bintang sedikit pun.
Karena Bintang tidak mau memberikan pertanyaan yang kedua kalinya,ia langsung menodongkan pistol nya tepat di kening Pak Tirta.
"Udah saya bilang,saya gak mau ulangi pertanyaan yang sama" Kata Bintang.
Tanpa diduga-duga,Erika langsung membuka masker wajah dan kacamata nya di depan pak Tirta dan Bu Renita.
"Aaahhh...Kebetulan sekali kita bertemu disini,Nyonya Renita" Nada bicara Erika sangat menjengkelkan.
Bu Renita terperangah setengah mati karena terkejut melihat wajah Erika yang berada di samping Mafia menakutkan.
Melihat Erika telah membuka penutup wajahnya,Bintang juga hampir ikut membuka masker nya.Tetapi Erika langsung mencegahnya agar mereka berdua tidak mengetahui identitas Bintang.
Erika justru sangat senang dengan kehadiran Bu Renita di situasi seperti itu.Menurutnya,saat itu adalah kesempatan yang sangat bagus untuk membalaskan dendam nya dengan cara mengancam Bu Renita.
"K-kamu.Kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Bu Renita gelagapan.
"Kenapa ya?" Erika bertanya kepada dirinya sendiri sambil tersenyum licik.
"Kamu kenal sama anak ini?" Tanya Pak Tirta kepada istrinya.
"Saya bukan anak bapak" Kata Erika.
"Saya janji akan kembalikan rumah teman kamu,tapi sebagai imbalannya tolong lepaskan kami dan biarkan kami pergi dari sini" Bu Renita memohon.
"Rumah?...Rumah yang mana ya?" Erika pura pura lupa.
"Saya mohon,saya akan kembalikan rumah itu" Kata Bu Renita lagi sambil menangis.
"Janji?" Tanya Erika sambil tersenyum.
"Janji,saya janji" Bu Renita menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Uuuuu... Kenapa harus diancam dulu baru setuju?" Tanya Erika yang berjalan kebelakang menuju anak buah Bintang dan mengambil pistol yang ada di tangan mereka.
Dengan cepat Erika langsung kembali menuju Bu Renita dan menodongkan pistol tersebut ke arahnya.
"Saya udah gak butuh rumah itu,Orang kaya sialan!" Erika berbicara dengan menggerakkan giginya karena sangat jengkel dengan perilaku Bu Renita yang selalu bertindak semaunya.
"Sebenarnya itu rumah saya,bukan rumah teman saya" Kata Erika.
Mendengar perkataan Erika,Bu Renita langsung membuka matanya lebar-lebar dan bingung harus berkata apa untuk menenangkan hati Erika.
"R-rumah.Rumah apa yang kalian maksud?" Tanya Pak Tirta kepada istrinya.
"Kalaupun kalian balikin rumah saya tetep aja,kalian gak bakal bisa lepas dari dia" Erika menoleh ke arah Bintang.
"Cepet kasih tau dimana berlian nya" Kata Erika kepada Bu Renita.
"Saya gak tau" Bu Renita menundukkan kepalanya.
Erika semakin mendekatkan pistol tersebut ke arah Bu Renita dengan tatapan maut nya.
"Kalian pikir kalian siapa bisa seenaknya memperlakukan kami seperti ini!!" Teriak pak Tirta.
Bintang semakin menekankan ujung pistol nya tepat di kening Pak Tirta.
"Saya mohon bebaskan kami" Bisik Bu Renita.
"Buat apa kita culik kalian kalau akhirnya kita bebasin kalian tanpa mendapatkan apapun" Kata Erika.
Tentu Erika tidak akan menembak kepala Bu Renita,Ia hanya ingin mengancam nya saja agar mereka langsung mengatakan dimana berlian tersebut di sembunyikan.
Karena belum mendapatkan jawaban,Bintang semakin menekan ujung pistol dan menarik pelatuknya hingga membuat Pak Tirta semakin panik.
"Harus berapa banyak lagi orang yang akan saya bunuh karena harus cari tau dimana kalian sembunyikan berlian nya?" Kata Bintang.
"Kayak nya mereka berdua yang terakhir" Timpal Erika.
Seluruh tubuh Pak Tirta dan Bu Renita langsung merinding saat mendengar perkataan Erika.Tetapi anehnya mereka masih tidak mau memberi tahu Bintang dimana uang dan berlian tersebut di sembunyikan.
Bintang menembakkan peluru nya ke atas dan akhirnya pak Tirta langsung berteriak lantang memberi tahu dimana ia menyembunyikan uang dan berlian tersebut.
"Ruang kerja saya!!!!" Teriak pak Tirta.
"Apa?" Tanya Erika.
"Uang dan berlian nya ada di ruang kerja saya" Kata pak Tirta lagi.
"Dimananya?" Tanya Bintang.
"Tepat di bawah meja kerja saya" Kata pak Tirta.
"Di rumah atau di kantor?" Tanya Erika.
"Di kantor" Timpal Bu Renita.
Bintang langsung merogoh seluruh kantong jas dan celana pak Tirta untuk mengambil semua barang pribadi nya terutama ponsel.Begitu juga dengan Erika kepada Bu Renita.
"Bawa mereka ke ruang bawah tanah di markas" Perintah Bintang kepada tiga anak buahnya dan langsung pergi meninggalkan mereka, diikuti oleh Erika di sampingnya.