
Dua jam berlalu,dokter dan para perawat sudah selesai melaksanakan tugasnya.Mereka akan memindahkan Bintang ke ruang rawat inap,Bintang harus tetap berada di rumah sakit hingga kondisi nya sangat membaik.
"Dok,dia baik-baik aja kan?" Tanya Erika yang langsung beranjak dari tempat duduk nya.
"Alhamdulillah operasi nya berjalan dengan lancar.Kami berhasil mengambil peluru yang bersarang di dada sebelah kiri nya.Awalnya saya sangat khawatir jika pasien akan mengalami gagal jantung,tapi ternyata peluru tersebut tidak mengenai jantung nya" Kata Dokter.
"Huuuhhfftt...Lega saya denger nya" Kata Tamara.
"Kalau begitu kami harus segera membawa pasien ke ruangan inapnya agar pasien bisa mendapatkan perawatan lebih lanjut"
"Oh iya dok,kita boleh ikut kan?" Tanya Erika
"Tentu saja"
Bintang mendapatkan ruang inap yang cukup mewah untuk kalangan atas atau biasa disebut ruang inap VVIP.
"Saat kami akan melakukan operasi pasien sudah sempat tersadar,tetapi karena syarat melakukan tindakan operasi maka kami harus memberikan obat bius kepadanya"
"Ohh iya" Erika tersenyum.
"Kalau begitu kami permisi,jika pasien membutuhkan bantuan segera hubungi kami" Kata Dokter.
"Baik dok, terimakasih"
"Bos" Kata Alfredo.
"Ya?"
"Karena kondisi bos Bintang sudah sedikit membaik,saya harus pergi sekarang untuk membantu Pierre dan yang lainnya" Kata Alfredo.
"Oh iya,kamu harus bantu mereka"
"Jika bos membutuhkan bantuan segera hubungi saya"
"Iya, terimakasih"
"Kok gue laper banget ya" Tamara mulai mengeluh. "Lo laper gak?"
"Siapa?...Gue?" Tanya Erika.
"Ya iyalah Lo"
"Gue laper sih"
"Gimana kalo gue keluar
sebentar buat beli makanan?"
"Boleh tuh,jangan lupa beliin gue"
"Oke,lo diem disini" Kata Tamara yang langsung berjalan keluar ruangan.
"Aishh...ternyata gue masih pake baju tidur" Gerutu Erika sambil menatap piyama yang sedang ia pakai.
Saat ia sedang asik bergerutu,tak sengaja Erika melihat Bintang yang sedang berbaring di samping nya.Erika lupa bahwa ia sedang menjaga Bintang yang masih belum sadarkan diri.
"Kenapa Lo lakuin itu?" Tanya Erika. "Lo gak akan ada disini kalau gak lakuin hal itu"
"Huufftt...Gua gak tau,Lo emang sengaja karena refleks atau lo emang gak tau kalau gue pake baju anti peluru?"
"Apapun itu alasan nya,ayo cepet bangun.Lo keliatan lemah tau gak kalo kayak gini.Gue tau Lo paling gak suka kalo dibilang lemah" Erika terus mengoceh tanpa ada respon apapun dari Bintang. "Dasar lemah,lemah"
"Aaaa bete banget sumpah" Erika menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang diletakkan di atas perut Bintang.
"Bangun...Gue bakal ngoceh terus sampai Lo bangun" Bisik Erika yang masih tertunduk dengan mata yang terpejam.
"Aaahhh...Lo pura pura tidur kan? Sebenernya Lo udah sadar kan?" Tanya Erika yang langsung mengangkat kepalanya kembali.
Karena masih belum percaya,Erika mendekatkan tubuhnya ke arah Bintang dan melihat wajah pria tersebut dari jarak yang sangat dekat.
Erika membuka mata Bintang dengan tangannya,tetapi ia sadar jika Bintang masih belum sadarkan diri.
Karena benar-benar merasa bosan Erika langsung berjalan menuju sofa yang berada didekat nya dan merebahkan tubuh sekejap.
Mendengar suara pintu yang terbuka,Erika langsung beranjak dari tidurnya dan kembali duduk.
"Cepet banget Lo" Kata Erika.
"Ngapain lama-lama,gue tau Lo udah laper banget kan?"
"Cihh.Sejak kapan Lo jadi sok manis kayak gini?"
"Sejak hari ini dan kayaknya cuma hari ini" Kata Tamara sambil tersenyum lebar.
"Makan yang banyak" Erika berbicara dengan raut wajah kesalnya.
"Menurut Lo dia bakal bangun gak?" Tanya Erika kepada Tamara.
"Ya-ya bangun lah,ada ada aja pertanyaan Lo itu" Kata Tamara dengan ekspresi gugupnya. "Apaan sih ini? Pertanyaan lo barusan bikin suasana canggung,makan makan.Sebentar lagi Bintang pasti sadar" Lanjutnya.
Erika menatap ke arah Bintang sekilas dan langsung berjalan sambil membawa makanan serta minuman yang sedang ia santap.
"Lo mau cobain?Ini rasanya enak,gue yakin Lo pasti suka" Kata Erika sambil memberikan sesuap daging kepada Bintang,tetapi masih tidak ada respon apapun.
"Lo gak mau?Atau lu mau ini?Ini minuman soda sih,tapi kalo Lo mau gak apa-apa minum aja" Erika memberikan minumannya,tetapi masih tidak ada respon karena Bintang belum sadarkan diri.
"Lo gak mau juga?Yaudah" Erika berjalan kembali menuju sofa untuk melanjutkan makan malamnya bersama Tamara.
Tamara yang melihat tingkah Erika hanya terdiam dengan mulut menganga yang terisi makanan. "Apa kepala Lo baik-baik aja?"
Erika langsung menggenggam kepalanya dan meraba seluruh bagian kepala karena sedikit bingung dengan pertanyaan Tamara. "Baik-baik aja,kenapa?"
"Masa sih?Gue rasa kepala Lo ke tembak deh" Kata Tamara.
"Baik-baik aja kok"
"Berarti saraf otak lo yang rusak" Tamara menunjuk wajah Erika dengan garpu nya dan langsung melanjutkan makan kembali.
"Udah mending tutup mulut Lo,sekarang gue lagi males banget buat berdebat" Kata Erika.
Setelah selesai makan malam,Tamara langsung tertidur di tempatnya sementara Erika masih asik memainkan ponsel.
"Apa Lo dapet kabar dari Alfredo atau yang lainnya?" Tanya Erika yang masih fokus pada ponselnya, sementara tidak ada jawaban dari Tamara.
"Aishh bisa-bisa nya dia tidur padahal baru banget selesai makan" Gerutu Erika.
Karena tidak tahu harus melakukan apa,Erika berjalan ke arah Bintang dan duduk di kursi yang berada di dekatnya.
"Lo masih belum bangun?" Tanya Erika. "Kalo Lo laper kasih tau gue"
"Gimana pun...Makasih udah berusaha Lindungin gue,Gue tau Lo orang baik.Saking baiknya Lo,gue jadi bingung harus balas Budi pake cara apa?Tapi seenggaknya sekarang Lo harus bangun biar gue bisa balas Budi dengan cara gue sendiri" Kata Erika,Tanpa sadar air mata nya mengalir deras begitu saja di wajah cantik Erika.
"Apa ini?Apa ini keringat?Atau tetesan air hujan?Tapi diluar gak hujan" Erika berusaha untuk tidak menangis dan mengusap air matanya agar tidak terlihat lemah.
"Gue gak nangis ya,jadi Lo jangan berfikir kalo gue ini lemah kayak lo" Erika masih terus memberikan kalimat ejekan kepada Bintang.
"Gue jadi bingung, Sebenarnya Lo ini sahabat gue atau Abang gue?Kenapa gue ngerasa kalo kita ini lebih daripada sahabat" Kata Erika.
"Gue boleh gak sih kurang aja sama Lo sekali aja?" Tanya Erika yang pasti tidak akan ada yang menjawabnya.
"Kata orang kalo di tanya diem aja berarti dia setuju" Lanjutnya.
Erika menoleh ke arah Tamara,ia melihat bahwa wanita tersebut sudah tertidur dengan sangat pulas dengan posisi tidur yang tidak wajar.
Erika beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Tamara.Aneh nya saat sudah tepat berada di hadapan wanita yang sedang tertidur itu,Erika langsung melambaikan tangannya didepan wajah Tamara.
Erika ingin memastikan bahwa wanita tersebut sudah benar-benar tertidur lelap atau belum.Ternyata memang Tamara sudah berada di alam bawah sadar nya.
Erika berjalan kembali menghampiri Bintang dan duduk di kursinya. "Gue harap Lo emang beneran belum sadar"
Cupp...
Dengan keyakinan penuh Erika mengecup pipi Bintang dengan halus,terlihat seperti benar-benar keinginan Erika dari dalam hatinya.