
Saat Erika keluar dari toilet,tidak sengaja ia berpapasan dengan pak Rama.Erika langsung menatap wajah pak Rama yang kebingungan karena melihat nya.
"Kenapa pak?" Tanya Erika.
"I-itu...a-anu" Pak Rama bingung harus berkata apa karena dia merasa kasihan kepada Erika.
"Kenapa pak?" Tanya Erika sambil menyentuh bahu pak Rama.
"Kamu di minta pak Bobi untuk pergi ke ruangan nya" Kata Pak Rama.
"Oh,yaudah saya kesana sekarang" Erika tersenyum.
"Kamu yakin gak apa-apa?" Tanya pak Rama.
"Gak apa-apa pak.Ayo" Kata Erika.
Erika dan pak Rama bergegas pergi menuju ruang kepala sekolah untuk bertemu dengan pak Bobi dan beberapa anggota komite yang merasa tersinggung dengan perkataan Erika.
"Permisi pak" Kata pak Rama.
"Ah,silahkan duduk" Kata pak Bobi kepada Erika dan pak Rama.
"Langsung aja ke intinya karena saya tidak punya banyak waktu" Kata Bu Renita.
"Kalau ibu gak punya banyak waktu,kenapa harus buang buang waktu buat suruh saya duduk di sini" Kata Erika santai.
"Kamu sadar apa yang telah kami lakukan?" Tanya Bu Renita.
"Sadar" Erika menatap Bu Renita.
"Kami gak takut y?" Tanya Bu Renita.
"Apa yang harus saya takutin?" Erika menatap wajah Bu Renita. "Saya cuma menyampaikan pendapat saya tentang hal itu.Kalian para komite bertindak seolah olah sekolah ini di dirikan hanya untuk anak anak kesayangan kalian.Kalau memang itu tujuan kalian,kenapa sejak awal sekolah ini menerima para siswa yang tidak mampu?" Kata Erika tegas.
"Kamu lancang sekali ya" Bu Renita kesal.
"Menurut saya ini bukan sekolah,tapi neraka terdalam bagi mereka para siswa berprestasi kelas bawah" Erika mendekatkan wajah nya ke arah Bu Renita.
"Kamu tidak tahu siapa saya?" Tanya Bu Renita.
"Ibu nya Resya,sekaligus anggota komite yang egois di sekolah ini" Kata Erika.
"Sudah,sudah Erika" Kata pak Bobi berusaha menenangkan keadaan.
Tak lama ponsel Erika berbunyi,ia mendapat panggilan dari nomor yang tidak di kenal.
Kriiingg!!!!!....
Erika masih membiarkan dan tidak mengangkat nya.Saat panggilan yang kedua kalinya,Erika langsung mengangkat telpon nya karena merasa terganggu saat sedang berbicara.
"Halo?" Kata Erika.
"Halo ini saya,suster yang merawat pasien atas nama Tia ayurasti" Kata Suster tersebut.
"Oh iya sus,ada apa?" Tanya Erika dengan mengecilkan volume suaranya.
"Apakah mba bisa datang ke rumah sakit sekarang?" Tanya Suster.
"Kenapa emang nya sus?Mama saya udah sadar?" Tanya Balik Erika.
"Biar saya jelaskan nanti setelah mba sudah tiba di rumah sakit.Saya mohon kepada mba untuk datang sekarang juga" Kata suster memohon.
"Oh,iya sus makasih" Erika menutup telpon nya.
"Pak maaf banget,saya harus pergi sekarang" Kata Erika kepada para guru.
"Kenapa?" Tanya pak Bobi.
"Saya ada keperluan mendadak,ini sangat penting pak" Kata Erika.
"Kamu pikir ini tidak penting?" Tanya Bu Renita.
"Urusan saya lebih penting dari apapun" Erika menatap tajam.
"Saya permisi" Erika langsung keluar ruangan diikuti oleh pak Rama.
"Kenapa Erika?" Tanya pak Rama.
"Pak saya boleh minta bantuan bapak gak?" Tanya Erika.
"Apa itu?" Pak Rama bertanya balik.
"Tolong antar saya ke rumah sakit pak" Kata Erika dengan wajah cemas.
"Kamu sakit?" Tanya pak Rama.
"Bukan saya" Jawab Erika.
"Terus siapa?" Pak Rama bertanya lagi.
"Anterin saya dulu pak.Saya janji nanti bakal saya ceritain ke bapak" Erika memohon.
"Yaudah ayo" Pak Rama dan Erika berlari menuju halaman parkiran sekolah.
Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di Rumah sakit tempat mama Erika di rawat.
Saat Erika hendak berjalan masuk ke dalam,terlihat suster yang menelpon nya sedang berdiri di pintu utama untuk menunggu kedatangan Erika.
"Tadi suster yang telpon saya kan?" Tanya Erika kepada suster tersebut.
"Iya,ayo cepat mba" Suster tersebut langsung berlari ke dalam dengan wajah cemas.
"Kenapa sus?" Tanya Erika sambil berlari di samping suster tersebut, diikuti oleh pak Rama di belakang mereka.
Didalam ruangan sudah ada dokter dan dua orang suster yang sedang menangani mama Erika.Wajah mereka terlihat sangat panik dengan gerakan penanganan yang sangat cepat juga.
Sementara itu Bu Tia mengalami kejang kejang dengan kondisi yang masih belum sadarkan diri.
"Mama!!" Teriak Erika sambil berjalan menghampiri Mama nya yang masih terbaring.
"Mohon jangan mendekat terlebih dahulu,karena pasien masih dalam penanganan" Kata salah satu suster.
"Mama?" Tanya Pak Rama Kepada Suster yang berlari bersama nya.
"Iya, pasien tersebut adalah ibu nya" kata suster.
"Suster apa yang terjadi?" Erika bertanya kepada suster yang menelpon nya.
"Saat itu saya pergi sebentar untuk mengambil cairan infus.Sebelum saya pergi keadaan pasien masih baik baik saja.Tetapi saat saya kembali ke ruangan,saya melihat semua alat bantu pernapasan nya terlepas termasuk selang oksigen" Kata suster tersebut.
"Tidak mungkin jika pasien yang melepaskan nya,sedangkan pasien sendiri belum sadarkan diri sejak dua hari yang lalu" Lanjut suster.
"Berarti ada orang yang sengaja copot semua alat bantu pernapasan mama saya?" Tanya Erika.
"Sepertinya begitu,tapi kami tidak bisa mendapatkan bukti apapun karena saat kami ingin melihat rekaman cctv,kamera rekaman tersebut sudah rusak" Suster melihat ke arah kamera cctv yang sudah hancur.
"Itu pecahan kamera nya,pertanda bahwa memang ada orang yang sengaja melakukan pembunuhan" Lanjut suster lagi.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttt..............
Suara tersebut membuat seluruh aktivitas para dokter terhenti.Seketika wajah mereka berubah menjadi pias dan terperangah.
Sedangkan Erika langsung terkejut dan berlari menuju mama nya yang sudah terkulai sangat lemas.
"Mama!!!!mama!!!" Teriak Erika sambil berusaha kembangkan mama nya.
"Dok,ayo terusin"Kata Erika kepada dokter dengan wajah yang penuh dengan air mata.
"Kenapa dokter diem aja,ayu lanjutin dok.Mama saya masih hidup" Erika terus berusaha membuat mama nya terbangun.
Dokter menyentuh bagian lubang hidung dan leher Bu Tia.Setelah menyentuhnya ia langsung menggelengkan kepalanya sambil tertunduk kecewa.
"Kenapa dok,mama saya masih hidup kan?" Tanya Erika.
"Maaf,tapi kami sudah melakukan yang terbaik untuk mama kamu" Kata dokter dengan suaranya yang penuh penyesalan.
"Hah,gak mungkin dok...Mama saya masih hidup...Mama saya udah janji bakal tetap hidup sampe saya jadi orang sukses nanti" Tangisan Erika pecah di ruangan tersebut,ia tidak sanggup menerima Kenyataan bahwa mama nya sudah tidak ada lagi di dunia ini.
"Erika,kamu harus ikhlas" Pak Rama memeluk erat Erika.
"Pak,mama saya masih hidup" Erika menangis di pelukan pak Rama.
"Maah bangun!!!" Teriak Erika dihadapan Jenazah mama nya.
"Mama udah janji sama aku buat tetap hidup,mama udah janji buat terus ada di samping aku sampai aku berhasil gapai impian aku,bangun mah bangun..." Erika memeluk erat Mama nya dengan air mata yang terus mengalir.
Setelah hampir 30 menit menangis dan berteriak, akhirnya Erika kehabisan energi.Ia terkulai lemas di lantai sambil bersandar di dinding ruangan tersebut dengan pak Rama yang masih duduk di sampingnya sambil mengelus rambut Erika dengan lembut.
"Kamu jangan nangis,mama kamu pasti sedih banget kalau liat kamu nangis kayak gini" Kata pak Rama.
Erika masih tetap diam.
Tak lama terdengar suara keributan dari luar ruangan yang mulai mendekat ke arah pintu masuk.
"Permisi?" Ayu mengetuk pintu kamar.
Seorang suster membukakan pintu tersebut.
"makasih dok" Kata Novia.
Mereka berlima terkejut karena melihat Erika dan pak Rama yang sedang duduk terkulai lemas di lantai dengan mata yang sembab.
"Erika,Lo kenapa?" Tanya Ayu sambil membawakan tas Erika yang tertinggal di sekolah.
"Nyokap Lo kemana?" Tanya Gibran
"Suuutsss...Jangan ajak Erika berbicara dulu.Tanyakan saja sama dokter atau suster" Kata pak Rama dengan nada yang hati hati.
"Sus kenapa?" Bisik Bintang.
"Pasien telah meninggal dunia,sekarang jenazah nya berada di kamar mayat.Saya permisi dulu" Kata suster.
Mereka berlima langsung terperangah dan perlahan menoleh ke arah Erika secara bersamaan.
Ayu dan Novia langsung berjalan menuju Erika dan memeluk nya sedangkan Pak Rama menghindar dan langsung berdiri sambil mengelap air mata nya.
"Ini beneran pak?" Tanya Samuel.
"Kamu pikir ini lucu buat dijadikan bahan candaan" Kata pak Rama.
"Bapak kenapa bisa ada disini?" Tanya Gibran.
"Erika yang meminta saya untuk mengantarkan nya ke sini" Kata pak Rama.
"Lebih baik kalian temani Erika kemanapun ia pergi,jangan biarin dia sendirian terus ngerasa kesepian" Lanjut pak Rama.
"Lo yang sabar ya" Kata Ayu sambil menangis tersedu-sedu,diikuti oleh Novia yang menangis juga.
"Hei,jangan nangis.Kalau kalian nangis kayak gini,gue jadi sedih lagi nih" Kata Erika mencoba agar terlihat kuat dihadapan teman teman nya.
"Sabar ya" Bintang langsung memeluk Erika,Samuel dan Gibran juga.
Saat para lelaki memeluknya,Erika sudah tidak bisa menahan rasa sedih nya lagi.Ia langsung menangis sejadi jadinya karena benar benar merasa sangat kehilangan.