
Bintang berjalan keluar rumah memakai celana pendek selutut dan Hoodie oversize nya yang berwarna hitam.Ia tidak sempat mengganti celana karena Erika yang tidak mau melihat wajah nya.Lagi pula ia hanya keluar sebentar dengan mengendarai mobil pribadi.
"Ada yang bisa saya bantu bos?" Tanya salah satu pria yang kebetulan hendak melintas di hadapan Bintang.Pria tersebut bernama Indro.
"Dro" panggil Bintang.
"Iya bos"
"Coba liat muka saya baik-baik" Perintah Bintang yang tubuhnya mulai mengahadap Indro sepenuhnya.
"Mana bisa saya bos,gak sopan" Kata Indro.
"Udah buruan"
Indro menatap wajah Bintang sekilas lalu tak lama ia menundukkan kepalanya lagi.
"Saya ganteng atau jelek menurut kamu?" Tanya Bintang.
"Kenapa bos tanya kayak gitu?Sudah jelas bos sangat tampan"
"Kamu gak bohong kan?" Tanya Bintang curiga.
"Engga bos,saya jujur" Indro meyakinkan dengan ekspresi wajahnya yang terlihat serius.
"Ganteng kan?Iya kok orang ganteng,dimana bikin enek nya coba?" Gerutu Bintang sambil berjalan pergi meninggalkan Indro yang masih bingung dengan sikap bos tampan nya itu.
...•••...
Sepanjang jalan Bintang mengendarai mobilnya di jalur kiri dengan kecepatan yang sangat rendah.Pandangan nya terus tertuju pada kios-kios yang ada di pinggir jalan agar ia tidak melewatkan tempat penjualan alat tes kehamilan tersebut.
"Aduh,dimana ya yang jual test...test...test apa sih tadi?" Tanya Bintang kepada dirinya sendiri. "Bodo amat,apa aja deh nama nya terserah.Intinya buat tes kehamilan"
"Bodoh nya gue gak nanya dulu dimana beli nya" Bintang mulai merogoh saku Hoodie nya untuk menghubungi Erika.Tetapi ia lupa membawa ponsel nya yang tertinggal di kamar.
"Aduh sialan!Pake acara lupa bawa hp segala" Omel nya.
Ia memarkirkan mobilnya di depan sebuah kios yang sudah tutup untuk berfikir sejenak kemana ia harus membeli alat ajaib tersebut.
"Masa gue balik lagi cuma buat nanya tempat nya doang sih?Nanti disangka nya gue bukan suami siaga lagi" Oceh Bintang.
Ia terus memainkan rambut berantakan nya itu,lalu mata nya tertuju pada sebuah tempat yang menurutnya toko tersebut menjual barang yang sedang ia cari.
"Itu kali tempat nya ya?Banyak cewek-cewek juga disana,siapa tau mereka lagi berburu alat tes kehamilan" Dengan cepat Bintang langsung memakai kupluk hoodie nya itu sehingga Majah tampan nya tidak begitu terlihat jelas.
Bintang berjalan menyeberangi jalanan yang sedang ramai kendaraan tersebut.Tak butuh waktu lama ia sampai di toko yang ia tuju.
Saat Bintang berdiri di antara para wanita-wanita tersebut, seketika dirinya menjadi pusat perhatian mereka.Entah apa yang ada di fikiran mereka,tetapi Bintang berfikir pasti mereka ingin mentertawakan nya yang hendak membeli alat tes kehamilan.
"Cari apa mas?" Tanya wanita yang merupakan penjual di toko tersebut.
Bintang melirik beberapa wanita yang sedang memperhatikan nya.Sebenarnya ia ragu,tetapi Bintang berusaha untuk menghilangkan keraguan itu demi istri tercinta nya.
Dengan rasa percaya diri tingkat tinggi,Bintang berjalan melewati wanita-wanita tersebut untuk berbicara dengan penjual nya.
"Mbak..." Bisik Bintang.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau beli alat tes kehamilan" Ucap Bintang.
Ia bingung karena penjual tersebut terlihat seperti sedang menahan tawa nya.Sedangkan beberapa wanita tersebut berhasil mendengar perkataan Bintang dan bahkan berani mentertawakan nya.
"Ada kan mbak?" Tanya Bintang.
"Maaf mas,kami tidak menjual alat tes kehamilan.Tetapi kami menjual berbagai macam peralatan untuk membuat kue" Kata wanita tersebut.
"Hah?"
"Silahkan mas berdiri di sana dan lihat papan reklame yang ada.Disana tertulis 'toko peralatan kue' "
"Masa sih?" Tanya Bintang yang mulai merasa malu.
"Selain itu mas juga bisa lihat kan berbagai macam alat pembuatan kue ini?Apa mas juga berminat untuk membelinya?"
Bintang mulai menyadari dan melihat kondisi sekitar.Ia melihat berbagai macam alat untuk membuat kue terpajang di dalam lemari kaca besar tersebut.Tidak hanya itu,ia juga menatap etalase yang ada di hadapannya.
Ia sungguh merasa malu,belum lagi banyak pengunjung yang sedang antre menunggu disana.
Rasanya ia ingin sekali memasukan wajah nya kedalam kantung celana nya jika bisa. "Kalau mas mau membeli alat tes kehamilan,ada apotek di seberang sana"
"Ya-yaudah kalau gitu.Maaf ya mbak,makasih juga" Kata Bintang.
"Sama-sama mas,lain kali lebih teliti untuk membaca ya mas"
"Iya mbak maaf" Tanpa rasa malu nya Bintang mengambil lembaran kertas promosi di atas meja etalase tersebut untuk menutupi wajah nya saat hendak melewati para wanita tersebut.
"Baru nikah ya mas?" Tanya salah satu ibu-ibu.
"Iya nih" Bisik Bintang yang masih nekat menjawab.
Ia kembali menyeberangi jalan dengan keadaan nya yang masih menahan rasa malu.Setelah sampai di depan apotek tersebut, Bintang langsung meremas kertas tersebut dan membuang nya ke dalam tempat sampah dengan kasar karena kesal.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya wanita yang berprofesi sebagai kasir apotek tersebut.
"Emm...Disini jual alat tes kehamilan kan mbak?Apa namanya,eeee...test-test.."
"Testpack pak" Kata wanita tersebut sambil tersenyum kecil.
"Nah iya itu,ada kan?"
"Iya"
"Ada tiga jenis,bapak mau yang mana?" Tanya wanita tersebut sambil meletakkan tiga jenis testpack diatas meja kasir tersebut.
Bintang langsung terdiam kebingungan,masalah apa lagi ini? Lagi-lagi ia dibuat kebingungan oleh alat sialan ini.
"E-emang,beda ya mbak? Bukannya sama aja buat tes kehamilan?" Tanya Bintang yang terus menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
"Memang sama tujuan nya untuk itu tetapi yang ini hanya testpack biasa,kalau yang ini ada tempat untuk menampung urine nya,dan yang ini testpack digital" Bintang benar-benar tidak habis pikir lagi dengan benda yang satu ini.Ternyata permasalahan wanita memang benar-benar rumit menurutnya.
"T-tiga tiga nya aja deh saya ambil,semuanya" Bintang sudah tidak mau ambil pusing lagi dan ia memilih untuk membeli ketiga jenis testpack tersebut.
"Semuanya jadi Rp.400.000 ya pak"
"Ini uang nya mbak,makasih ya"
"Terimakasih kembali pak,semoga bapak dan istri akan berlangganan di apotek kami ya pak"
"Aaah iya mudah-mudahan ya mbak kalo saya gak kapok" Ucap Bintang yang langsung bergegas keluar ruangan dengan sangat cepat.
Setelah masuk kedalam mobil, kehidupan nya terasa lega.Ia merasa bahwa oksigen yang ada di dalam mobil jauh lebih baik daripada oksigen yang berkeliaran bebas di luaran sana.
"Untung gue sayang.Gue rasa ini baru awalan deh, besok-besok apa lagi?Daleman?Oh my God!Ngeri banget gue bayangin nya"
...•••...
Tok...tok...tok...
Dengan cepat Bi Rani langsung membuka pintu kamar tersebut.Bintang hanya mengintip ke dalam kamar tanpa memperlihatkan seluruh tubuhnya karena takut Erika akan mengoceh lagi kepada nya.
"Nona lagi di kamar mandi tuan" Kata Bi Rani.
"Muntah lagi?"
"Iya"
"Yaudah nih bi barang nya"
Bintang langsung menutup pintu kamar saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.Ia tidak mau jika istrinya harus muntah lagi karena melihat wajah tampan nya itu.
"Siapa bi?" Tanya Erika.
"Tuan.Nona,ini testpack nya silahkan di coba" Bi Rani tersenyum lebar.
"Kok banyak banget??" Tanya Erika.
"Mungkin tuan Bingung harus membeli yang seperti apa"
"Menurut bibi pake yang mana?"
"Yang ini saja nona" Bi Rani memberikan testpack jenis digital kepada Erika dan dengan cepat wanita itu langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Bintang masih berdiri di depan pintu kamar untuk menunggu bagaimana hasilnya.Lima menit kemudian Erika telah selesai mengetes, terdengarlah suara teriakan kedua wanita itu yang terdengar sangat bahagia dengan hasil yang di dapat.
"Bintang!!!!Aku hamiilll!!!" Teriak Erika.
Dengan cepat Bintang langsung membuka pintu dan berlari ke arah Erika serta memeluknya dengan sangat erat.
"Beneran?" Tanya Bintang.
"Ini liat,garis dua jelas banget!!!" Ucap Erika.
"Yaampun Alhamdulillah" Bintang kembali memeluk Erika lagi.
"Bibi,gak mau peluk aku emang nya?" Tanya Erika sambil merentangkan kedua tangan.
"Boleh non?"
"Boleh dong Biii"
Mereka masih tersenyum bahagia,tetapi tak lama Erika mulai merasakan sesuatu dengan perutnya saat tidak sengaja menatap wajah Bintang.
"K-kenapa?Apa yang salah?" Tanya Bintang.
"Keluar" Ucap Erika dengan wajah datarnya.
"Ck!Aku lagi seneng nih,masa kamu usir aku sih?" Rengek Bintang. "Biarin aku disini sebentar dong,aku pengen ngobrol sama Bintang junior masa gak boleh?"
Erika mengambil masker dan kacamata hitam di laci lalu memakai kan nya di wajah Bintang. "Pake ini kalo kamu masih mau si sini"
"Yaampun Erika,kamu tega banget sama aku"
"Bintang,kamu ngertiin aku dong.Aku tuh gak ngada-ngada.Aku beneran mual kalo liat muka kamu"
Bintang mendengus kesal. "**,puas kamu.Sekarang mama lebih sayang sama kamu daripada sama papa"
"Udah jangan kebanyakan ngomong,lake sekarang gak?atau kamu keluar"
"I-iya iya nih dipake sekarang,mama Erika yang cantiiik"
"Yasudah kalau begitu bibi permisi dulu ya tuan,nona.Selamat untuk kehamilan nya"
"Eh iya bi,makasih ya Bi"
"Sama-sama non”