Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 87



"Selamat malam semuanya,selamat melepas kerinduan satu sama lain" Kata salah satu alumni yang bertugas sebagai pembawa acara.


"Yang terhormat bapak dan ibu guru,oh ada bapak kepala sekolah juga!" Lanjutnya sambil melambaikan tangan ke arah pak Bobi. "Saya gak akan lama-lama berbicara disini,intinya setelah ini kalian bebas melakukan apa saja.Bercengkrama dengan yang lainnya,apapun terserah asalkan jangan berzinah" Perkataan laki-laki itu langsung mengundang gelak tawa semua orang yang ada disana.


"Apakah bapak mau menambahkan?" Tanya nya kepada pak Bobi dan hanya dijawab gelengan kepala oleh laki-laki berumur itu.


"Yaudah kalau begitu selamat bersenang-senang!!!!"


"Kamu disini dulu ya sama mereka,aku mau kesana dulu samperin yang lain" Kata Bintang.


"Yaudah"


Mereka bertiga yaitu Erika,Ayu dan Novia sedang duduk di salah satu kursi yang tersedia.Tiba-tiba terdengar suara dehaman seorang pria yang berada di dekat mereka.


"Hai pakk!!" Sapa Erika dengan antusias saat melihat pak Rama di belakangnya.


"Hai,apa kabar kalian?" Tanya nya.


"Baik pak,silahkan duduk" Kata Ayu.


"Waah... penampilan kamu beda banget sekarang Erika"


"Iya dong pak,masa mau kayak dulu terus"


"Bintang dan yang lainnya kemana?Biasanya kalian berenam?" Tanya Pak Rama.


"Lagi cari angin pak,biasalah" Sahut Novia.


Mata Erika berbinar-binar saat melihat pak Bobi sedang berjalan melewati mereka.Dengan jiwa usil nya Erika langsung menghentikan pak Bobi dan merayu nya agar mau bergabung dengan mereka.


"Pak..Pak Bobi,apa kabar??" Tanya Erika.


"Ekhemm...Baik"


"Santai aja kali pak,gak usah cuek kayak gitu.Duduk disini aja pak,bareng kita" Ajak Erika.


"Gak apa-apa terimakasih,pada guru sedang menunggu saya disana"


"Disana dimana pak?Orang guru-guru yang lain aja lagi gabung sama anak didiknya" Erika tersenyum palsu. "Udah gak apa-apa,saya tau bapak malu sama saya karena dosa-dosa bapak dulu.Tapi serius kok oak gak apa-apa,ayo sini duduk"


Dengan mental nya Erika menggenggam tangan Pak Bobi dan memaksa nya untuk duduk bergabung bersama mereka.


"Apa kabar pak?" Tanya Ayu kepada Pak Bobi.


"Baik"


"Pak,saya udah punya suami loh pak" Kata Novia.


"Saya tau"


"Bapak gak tanya gitu kapan kita punya momongan"


"Tidak perlu,tidak penting bagi saya"


"Saya juga udah nikah loh pak,Bintang suami saya" Kata Erika.


"Saya juga sudah tau,waktu itu kan saya hadir ke acara pernikahan kalian"


"Bapak juga gak mau tanya sama saya kapan punya momongan?" Tanya Erika.


"Tidak penting bagi saya!" Ucapnya dengan tegas.


"Sayang banget gak penting bagi bapak.Padahal ya pak,saya tuh punya rencana buat sekolahin anak saya disini nanti" Erika berusaha untuk menggoda pak Bobi.


"Apaaa!!!" Teriak nya yang langsung mengundang perhatian dari beberapa siswa yang mendengar nya.


"Bapak seneng kan?" Tanya Erika.


"Sari sekian banyak sekolah di Jakarta,kenapa harus disini?"


"Karena ini sekolah favorit saya.Guru-guru yang ramah,pak Rama yang friendly dan kepala sekolah yang lucu"


Pak Bobi menarik nafas jengah,Sungguh keputusan bodohnya karena mau ikut bergabung bersama mereka.


"Itu masih enam belas tahun yang akan datang kan?Jadi silahkan saja karena mungkin saya sudah berada dalam masa pensiun" Pak Bobi tersenyum senang.


"Haishh sialan,umur bapak sekarang berapa?" Tanya Erika.


"Saya??...Usia saya...empat puluh tahun" Ucap nya.


"Tapi masa jabatan kepala sekolah hanya sampai lima tahun saja"


"Tapi bisa kan ada dua periode lagi,saya usahain deh biar bapak terus terpilih" Kata Erika.


"Meskipun masih ada dua periode lagi,tetap saja saya tidak akan bertemu dengan anak kamu itu"


"Bisa dong,mungkin sebelum bapak pensiun seenggaknya bapak jadi guru mata pelajaran dulu kan selama kurang lebih tiga tahun?Bisa kali pak"


"Cukup!!Pak Rama,saya permisi untuk pamit pulang.Silahkan lanjutkan acara kalian" Ucap Oak Bobi yang langsung berjalan meninggalkan mereka.


"Yaudah kalau begitu bapak juga pamit ya,sampai ketemu lagi nanti"


...•••...


Bintang dan dua yang lainnya sudah kembali duduk bersama mereka.Mereka saling memberikan candaan satu sama lain,semua yang terjadi malam itu terasa seperti di tahun yang lalu sebelum Erika mengenal kejahatan yang benar-benar kejahatan.


"Eh ngomong-ngomong itu Si Zahra kan?Ce'es nya si nenek lampir" Kata Novia sambil melihat ke arah Zahra yang sedang duduk sendirian di meja nya.


"Lah iya.Kok tumben dia sendirian,kemana si Resya nya?" Tanya Ayu.


"Sibuk banget Lo berdua,kangen ya sama Ade?" Tanya Erika.


"Giliran ada ribut Mulu,giliran gak ada di cari-cari terus" Sahut Gibran.


"Eh Zahra!" Panggil Novia,dengan cepat wanita itu langsung menoleh ke arah mereka.


"Kenapa?"


"Kemana sohib Lo?Tumben sendirian"


"Gue juga gak tau,tadi sih ada sama gue tapi tiba-tiba dia izin ke toilet sebentar terus belum balik lagi sampe sekarang" Ucap nya.


"Ohh"


"Balik kali dia,gabut lama-lama disini" Kaya Samuel.


Braakkk!!!!!....


Suara benda jatuh terdengar sangat nyaring di telinga mereka semua.Bukan sembarang benda yang jatuh,melainkan tubuh seorang wanita yang seperti nya jatuh dari lantai paling atas gedung sekolah.


Tentu saja hal itu mengundang kepanikan semua orang yang ada di bawah termasuk para guru.Wanita itu jatuh tergeletak tepat di dekat posisi Zahra yang sedang duduk santai.


Zahra langsung berlari menjauh karena panik di wajah dan pakaian nya terdapat cipratan noda darah dari wanita malang itu.


Bukan hanya Zahra saja.Erika,Samuel dan Ayu juga terkena cipratan cairan berwarna merah kental tersebut tepat di wajah mereka.


Erika dan Bintang hanya terkejut sekilas,setelahnya mereka terlihat biasa saja.Karena penasaran,salah satu pria mendekat ke arah wanita malang itu untuk memastikan siapa dia sebenarnya.


Untuk melihat wajah nya,Pria itu harus membalikkan tubuh korban yang posisinya sedang tengkurap.


Alangkah terkejutnya mereka karena wajah wanita itu sangat berlumuran darah nya sendiri walaupun wajah nya masih bisa dikenali tapi tetap saja hal itu sangat mengerikan.


Erika menatap ke lantai paling atas gedung sekolah.Walaupun sedikit tidak jelas karena malam hari,ia bisa melihat ada seseorang yang sedang berdiri di sana dan kemudian pergi dari tempat nya untuk melarikan diri sebelum ada orang yang mengetahui identitas dirinya.


Refleks,Erika langsung berlari untuk menuju lantai paling atas itu.Tetapi Bintang menghentikan nya dengan cara menarik kembali tangan Erika.


"Mau kemana?" Tanya Bintang.


"Di atas ada orang,aku yakin dia pelaku nya" Kata Erika dengan penuh keyakinan.Perkataan nya itu membuat semua orang langsung melihat ke arah lantai paling atas.


"Jangan,bisa aja dia lagi mancing seseorang buat jadi korbannya lagi" Kata Bintang.


"Panggil Ambulance, cepetan!!!" Teriak Samuel.


Bu Wati yang masih berada di sana langsung menyuruh semua orang yang ada disana untuk segera pulang ke rumah nya masing-masing dan pergi menjauh dari tempat kejadian agar tidak ada korban selanjutnya.


"Lo gak apa-apa?" Suara wanita yang sedang bertanya kepada Zahra.Wanita itu adalah Resya.


"Lo kemana aja?Gue fikir tadi itu Lo"


"Gue habis dari toilet,ini kenapa muka Lo banyak darah kayak gini"


"Itu...Gak tau,anter gue pulang sekarang juga" Ucap Zahra yang terdengar sangat trauma dengan kejadian yang baru saja ia lihat.


Erika mendengar percakapan mereka,ia hanya menyipitkan kedua matanya lalu segera pergi dari tempat kejadian bersama Bintang.