
Keesokan hari nya, Jenazah Bu Tia di makam kan.Teman teman sekelas Erika terutama kelima sahabat nya datang menghadiri acara pemakaman,termasuk pak Rama dan Bu Tesa sebagai perwakilan dari para guru di sekolah nya.
Saat proses pemakaman berjalan, Erika tidak meneteskan air mata nya sedikit pun.Ia hanya memasang wajah datar sambil tertunduk dan memejamkan matanya dengan badan yang di rangkul oleh Ayu.
Erika tidak mau terlihat rapuh di hadapan teman teman sekelas nya,ia hanya bisa memperlihatkan rasa sedih di hadapan kelima teman nya tersebut.
Setelah doa bersama,semua orang yang menghadirkan acara pemakaman satu persatu mulai pergi meninggalkan kuburan Bu Tia.
Erika langsung membuka mata dan mengangkat kepala nya yang tertunduk sejak tadi.Ia menoleh ke segala arah untuk memastikan tidak ada orang lain yang masih berada di dekat nya.
Erika sudah merasa aman,ia langsung berjongkok perlahan sambil menutup wajah dengan kedua tangannya dan menangis sejadi jadinya.
Ayu dan Novia langsung memeluk Erika untuk menenangkan nya,sementara ketiga teman lelaki nya hanya melihat Erika dengan wajah sedih sambil meneteskan air mata.
Setelah merasa puas menangis di dekat kuburan mama nya,Erika langsung menghentikan tangisannya dan langsung menyeka air mata di wajah nya.Menarik nafas panjang dan menghembuskan nya.Ia langsung berdiri dengan wajah tersenyum menatap teman temannya.
"Udah yuk pulang" Kata Erika tersenyum.
"Hah?" Samuel yang sedang menangis tiba tiba terkejut dengan wajah terperangah.
"Pulang,gue sadar.Nangis gak bakal bikin Mama hidup lagi" Kata Erika.
"Lo baik baik aja?" Tanya Novia menyentuh bahu Erika.
"Gue baik baik aja,makanya gue ajak kalian pulang" Kata Erika tersenyum.
"Ya-yaudah..Yuk yuk pulang,pulang.Kita anter Erika pulang,pake mobil gue aja" kata Gibran dengan sangat gugup dan terburu-buru.
Setelah sampai di depan rumah Erika,mereka semua turun dari mobil untuk mampir sebentar ke rumah Erika.
"Kalian mau ngapain?" Tanya Erika.
"Masuk lah ke rumah Lo" Kata Ayu.
"Gak usah,kalian pasti capek.Mending kalian pulang aja terus istirahat" Kata Erika kepada teman temannya.
"Mana bisa kita ninggalin Lo dalam keadaan yang kayak gini" Kata Bintang.
"Gak apa-apa kali.Gue kan udah bilang,kalau gue baik baik aja.Lagian gue juga pengen sendiri dulu di rumah" Erika meyakinkan teman temannya.
"Lo gak bakal ngelakuin hal yang macam-macam kan?" Tanya Novia curiga.
"Hei,apa maksud Lo?Gue gak bodoh juga kali" Erika tertawa.
Kelima teman nya hanya menatap Erika dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Ngapain liat gue kaya gitu?" Tanya Erika datar.
"Lo yakin?" Tanya Gibran.
"Gue gak bakal ngelakuin hal bodoh, Masa gak percaya sama gue" Erika berteriak.
"Ahh,oke oke.Kita pulang,yuk pulang" Samuel langsung bergegas masuk ke dalam mobil.
"Tapi ka..." Kata Novia.
"Udah,ayok pulang" Gibran menarik tangan Novia.
Mereka berempat masuk ke dalam mobil untuk pulang ke rumah nya masing-masing.
"Lo yakin mau sendirian?" Tanya Ayu saat mobil Gibran sudah pergi dari halaman rumah Erika.
"Iya" Singkat Erika.
"Yaudah,kalau ada apa-apa atau Lo butuh sesuatu Lo bisa telpon atau Dateng ke ruamh gue.Jangan sungkan sungkan" Kata Ayu memegang kedua bahu Erika.
"Makasih" Erika tersenyum.
"Yaudah gue balik dulu ya" Kata Ayu.
Erika hanya menganggukkan kepala dan langsung menatap rumahnya beberapa saat sambil tersenyum.
Ia langsung membuka layar ponselnya untuk melihat jam yang menunjukkan pukul 13.00.Bukannya masuk kedalam rumah,Erika malah berbalik arah dan pergi berjalan menuju bar tempat ia bekerja.
"Halo bos" Dapa Erika kepada pemilik bar saat ia sudah sampai di sana.
"Eh,kamu gak sekolah?Kenapa ada disini?" Tanya Bos nya.
"Hari ini kan hari Sabtu bos.Sekolah negeri hari Sabtu libur" Erika duduk di salah satu kursi pelanggan.
"Kenapa kamu datang ke sini.Kamu kan kerja di malam hari" Kata Pemilik bar.
"Emang nya saya gak boleh Dateng ke sini siang siang?" Tanya Erika.
"Ya boleh boleh aja,yang bikin saya bingung kenapa kamu pakai baju hitam hitam rapih seperti ini?Kamu sedang melamar pekerjaan di tempat lain?" Tanya bos nya lagi.
"engga" Erika tersenyum sambil menatap pakaiannya.
"Lalu?" Tanya bos.
"Saya abis dari pemakaman mama saya.Mama saya meninggal" Erika menundukkan kepalanya.
"Waah..Maaf daya tidak tahu,saya turut berdukacita" Kata Bos nya dengan wajah yang ikut bersedih.
"Hei bos,jangan sedih gitu.Mama saya udah bahagia di sana" Kata Erika tersenyum.
"Hah?" Erika bingung dan terkejut.
"Sebenarnya kamu gak boleh minum karena masih sekolah,tapi karena kamu mungkin lagi terpuruk saya izinin kamu buat minum.Gratis" Bos nya tersenyum.
"Hari ini saya Dateng ke sini sebagai pelanggan,bukan sebagai pelayan" Kata Erika tersenyum.
"Ya benar" Kata bos nya.
"Karena saya datang sebagai pelanggan,saya mau bicara sesuatu sama bos" Kata Erika sambil melipat kedua tangannya di meja.
"Apa?" Bos nya penasaran.
"Bos udah gila ya?" Kata Erika.
"Hah?" Bos nya terkejut.
"Mama saya baru aja di makamkan,bos malah tawarin saya minum alkohol" Erika mendekatkan wajah nya.
"Ya itupun kalau kamu mau,kalau tidak mau yasudah" Kata bos nya tersenyum.
Erika tertawa karena melihat ekspresi wajah bos nya.
"Saya gak minum alkohol bukan karena saya masih sekolah,masih di bawah umur,atau pun saya gak di izinin sama orang tua saya dan bos" Kata Erika. "Tapi saya gak minum alkohol karena saya gak mau seperti ayah saya" Erika tersenyum dengan wajah pias nya.
"Ayah kamu?" Tanya bos nya.
"Seharusnya saya gak ceritain ini ke bos,tapi berhubung saya udah menyebutkan ayah saya dan bos juga bertanya ya jadi sekalian aja saya ceritain" Kata Erika.
Situasi bar di siang hari masih sepi,belum ada satu pelanggan pun yang datang.Bar akan mulai ramai dan berdatangan orang saat menjelang malam.
"Ya cerita aja, kebetulan saya juga lagi punya banyak waktu" Kata bos nya tersenyum.
"Usia saya sekarang 18 tahun,saat umur saya sekitar 4 tahun dia pergi ninggalin saya dan mama saya.Mama saya pernah bilang kalau ayah saya itu punya kebiasaan yang buruk,sering minum alkohol berlebihan dan katanya juga pernah terlibat kasus penipuan" Erika menyeringaikan bibir nya.
"Mungkin itu salah satu alasan kenapa perilaku saya kayak berandal,ternyata saya mewarisi salah satu sifat buruknya" Erika tertawa.
"Tapi saya yakin kamu anak yang baik" bos menganggukkan kepalanya.
"Gak ada yang bisa menilai perilaku saya, karena yang benar benar tau persis perilaku saya ya cuma saya sendiri.Karena terkadang orang terdekat atau bahkan orang tua kita sendiri pun gak pernah tau persis gimana perilaku kita sebenarnya" Wajah Erika mendatar sementara bos nya terus mengangguk mencoba untuk memahami Erika.
"Terkadang orang menilai saya baik,tapi saya sebenarnya gak mau kalau orang itu menilai saya baik.Karena kapanpun saya bisa berubah menjadi orang jahat.Jadi saya lebih suka di pandang baik sebagai orang jahat,dari pada di pandang seperti orang baik" Erika menatap bis nya.
Maksud kamu?" Tanya bos nya kebingungan.
"Intinya,satu kejahatan menutup seribu kebaikan.Dan pasti satu kejahatan itu akan terus di ingat oleh orang orang,itu menyakitkan.Jadi saya lebih pilih dipandang sebagai orang jahat tapi sebenarnya saya masih memiliki kebaikan" Erika tersenyum sementara bos nya masih terperangah karena kebingungan.
"Ahh.. terserah bos mau ngerti atau ngga,saya juga gak mau jelasin ulang.Bahkan saya sendiri pun gak tau tadi bilang apa" Erika langsung berdiri dan mengambil tas nya.
"Mau kemana?" Tanya bos nya.
"Saya mau pulang.Oh iya bos,kayak nya malam ini saya gak bisa kerja dulu" Kata Erika.
"Oh iya, sebaiknya kamu istirahat aja di rumah" Kata bos nya.
"Makasih ya bos udah mau dengerin ocehan saya tadi" Erika tersenyum.
"Iya sama sama" Bis nya tertawa.
"Kalau gitu saya permisi dulu, Sampai ketemu besok bos" Erika langsung berjalan keluar dan pergi menuju rumah nya.