Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 69



Setelah mengecup pipi Bintang,Erika langsung terdiam sambil menatap Bintang dengan tatapan serba salah.


"Ah bodo amat" Erika langsung menutup wajah nya dan tertunduk dengan mata terpejam yang siap untuk tidur dengan nyenyak.


Di pagi harinya,Bintang mulai memperlihatkan tanda bahwa ia akan segera sadarkan diri.Jari tangannya bergerak dan perlahan ia membuka matanya.


Ia sedikit terkejut karena melihat ada seorang wanita didekatnya dengan wajah yang tertutup oleh rambut.


Awalnya Bintang tidak tahu siapa wanita tersebut,ia membenahi rambut Erika untuk melihat wajahnya lalu menarik nafas lega saat mengetahui bahwa wanita tersebut adalah Erika.


Saat Bintang sedang tersenyum saat melihat wajah Erika, tiba-tiba Tamara terbangun dari tidur nya dan memanggil-manggil nama Erika berulang kali.Entah apa yang ia inginkan.


"Erikaa..." Gumam Tamara.


Mendengar suara tersebut,Bintang langsung memejamkan matanya kembali dan berpura-pura seolah-olah dia belum sadarkan diri sejak semalam.


"Erikaaa"


"Hmmm" Erika mulai terbangun dan melenturkan badannya dengan wajah yang tidak karuan.


"Erikaa..."


"Apa sih?" Erika berjalan menghampiri Tamara sambil mengusap-usap matanya.


"Kenapa Lo manggil-manggil?" Tanya Erika.Namun Erika langsung mendekatkan wajahnya ke arah Tamara saat melihat wanita tersebut ternyata masih terlelap dalam tidur nya.


"Aishh sialan!!" Gerutu Erika sambil melemparkan botol minuman kosong kepada Tamara karena kesal ternyata wanita tersebut hanya sedang mengigau hingga mengganggu tidur Erika.


"Waah bukan main nih cewek" Erika meminum air mineral dan berjalan kembali menghampiri Bintang.


Erika duduk di kursi nya dengan wajah yang terus mendekat ke arah Bintang. "Lo masih belum bangun juga?" Tanya Erika dengan berbisik.


Saat itu juga Bintang membuka sebelah matanya bersamaan dengan senyuman menawannya.


Erika yang sedang menatap wajah Bintang dari jarak yang sangat dekat langsung terdiam seribu bahasa karena tidak menyangka bahwa pria tersebut akan sadarkan diri dengan cara yang seperti itu.


"Lo khawatir?" Tanya Bintang.


"Lo udah sadar?" Tanya Erika yang masih terperangah.


"Lo khawatir?" Tanya Bintang lagi.


"Gak,siapa yang khawatir?Gue gak khawatir" Erika mengelak.Pengakuan nya sangat berbanding terbalik dengan apa yang telah ia lakukan semalam.


"Aahh oke" Bintang mengangguk dan langsung memalingkan wajah sambil menunjuk pipinya yang telah di kecup oleh Erika semalam.


"Apa?" Tanya Erika dengan ketus.


Bintang masih menunjuk pipinya dan semakin mendekatkan ke arah Erika. "Sekali lagi bisa gak?"


Wajah Erika langsung pias dengan mata yang terbuka lebar. "A-apa maksud Lo?"


"Menurut Lo maksud gue apa?" Bintang semakin menggoda Erika.


"Apa?Gu-gue gak tau apa-apa" Erika melemparkan pandangan nya dan menatap langit-langit ruangan tersebut karena merasa sangat malu.


"Cepet" Paksa Bintang.


"Cukup..." Rengek Erika. "Sejak kapan Lo sadar?"


"Yang pertama gue denger, Makasih udah berusaha Lindungin gue,gue tau Lo orang baik.Itu sih" Kata Bintang.


"Apa?" Erika langsung beranjak dari duduknya. "Kenapa Lo gak buka mata Lo?"


"Habisnya Lo terlalu menghayati sih,jadi gue terlalu penasaran buat denger semua keluh kesah Lo" Bintang tersenyum lebar Tania merasa bersalah dan sebenarnya memang bukan salah Bintang juga.


"Tunggu..."


"Apa?"


"Berarti Lo...Liat gue nangis?"


"Menurut Lo?" Tanya Bintang.


"Perlu gue luruskan,gua gak nangis.Semalam gue terlalu ngantuk jadi tanpa sadar ngeluarin air mata" Erika terus mengelak.


"Aaaa gitu...Oke.Kalo yang ini gimana?Masih mau ngelak juga?" Bintang menunjuk pipinya lagi.


Erika terdiam sebentar dengan kedua bola mata yang terus melirik kesana kemari dengan sangat cepat. "Lupain.."


"Apa?Lupain?Gimana bisa gue lupain?Menurut gue itu terlalu manis" Bintang mengerutkan bibirnya dan terus menggoda Erika hingga wanita tersebut merasa sangat malu.


"Gue bilang lupain,jangan di bahas lagi"


"Waaah...gimana bisa lo campakkan gue kayak gini?Apa Lo sejenis playgirl?" Tanya Bintang.


Erika memejamkan matanya. "Gue mohon berhenti bahas tentang itu"


"Oke" Bintang tersenyum.


"Jangan bahas lagi,jangan ungkit ungkit lagi dan yang paling penting jangan kasih tau siapapun" Bisik Erika.


"Oke,oke.Setulus apa sih Lo sampe takut gue kasih tau ke orang-orang" Bisik Bintang.


Erika langsung menundukkan kepalanya dengan mata yang terpejam kuat karena benar-benar amat sangat merasa malu untuk menghadapi Bintang.


"Udahlah jangan kayak gitu,gue jadi merasa bersalah" Bintang tertawa kecil.


KRINGG!!!....


"Halo?" Sapa Erika.


"Kami berhasil menangkap pelaku yang telah menembak bos Bintang,orang tersebut sudah membayar dengan nyawanya sendiri"


"Kerja bagus"


"Tapi bos harus tetap berhati-hati, bagaimana pun William pasti akan terus mengincar bos karena sampai saat ini dia belum bisa ditemukan keberadaan nya"


"Iya, terimakasih untuk kekhawatiran nya" Erika tersenyum.


Setelah mengakhiri telfon dengan Pierre,Erika langsung menelpon Alfredo untuk menanyakan dimana keberadaan nya dan apa yang sedang ia lakukan sekarang.


"Dimana kamu?" Tanya Erika.


"Saya sedang berusaha mencari lokasi keberadaan William"


"Kamu bisa datang ke sini?Karena saya harus pulang sebentar" Kata Erika.


"Baik,saya segera ke sana sekarang"


"Lo mau kemana?" tanya Bintang.


"Gue pulang dulu sebentar.Lo bisa liat kan gimana penampilan gue sekarang?Bahkan gue juga belum mandi"


"Tapi Lo tetep cantik" Bintang tersenyum.


Senyuman Bintang membuat Erika kembali memasang wajah gugupnya karena harus mengingat tentang hal itu.


"Makasih pujiannya" Ejek Erika dan langsung berjalan menghampiri Tamara yang masih tertidur pulas.


"Bangun" Erika menyentuh lengan Tamara dengan lembut.


"Bangun" Erika menyentuh lengan Tamara dengan sedikit kasar.


"Tamara Bangun!!!!" Erika melempar botol minuman plastik ke arah Tamara,dan masih belum ada respon darinya.


"Lo tidur atau mati sih?" Erika berteriak tepat di dekat telinga Tamara tetapi masih belum bangun juga.


"Erika mengambil air mineral dan menumpahkan nya tepat di wajah Tamara yang sedang menganga.


"Okkhook...okkhook!!" Tamara tersebut air mineral dan air liurnya sendiri hingga terbangun.


"Apa ini?Hei Erika,waah parah banget Lo" Kata Tamara.


"Gue pikir Lo udah mati"


"Setelah siram gue Lo bilang gue udah mati?"


"Aaaa stop stop.Seharusnya gue yang ngomel karena Lo susah banget di banguninnya"


"Hmmm kalo soal itu pasti karena gue kecapean" Tamara mengelap wajahnya dengan tisu.


Tak lama Alfredo datang dan langsung berjalan menghampiri Bintang yang sudah sadarkan diri.


"Bos sudah sadarkan diri?Sejak kapan?" Tanya Alfredo.


"Baru saja"


"Cihh" Erika memutar kedua bola matanya kesal. "Cepet beresin barang-barang Lo,kita pulang dulu sekarang"


"Bintang Gimana?" Tanya Tamara.


"Sengaja gue panggil Alfredo buat jagain Bintang.Makanya kalo tidur jangan kayak orang mati"


"Yaampun maaf kan gue gak tau"


"Saya pulang dulu sebentar,nanti kesini lagi" Kata Erika kepada Alfredo.


"Baik bos"


Erika dan Tamara langsung berjalan keluar rumah sakit.Mereka terkejut saat melihat beberapa mobil berbaris di dekat halaman rumah sakit.


"Kok gue agak curiga sama mobil-mobil ini" Bisik Tamara.


"Curiga kenapa?"


"Aneh aja gitu,keliatan kayak misterius aja"


"Negative thinking aja Lo,udah ayo buruan"


"Itu ada orang yang jalan ke arah kita" Kata Tamara.


Erika melihat Bara sedang berjalan mendekat ke arah mereka berdua.Erika yang sudah berjalan mendahului Tamara langsung berbalik arah.


"Bara" Erika tersenyum senang ketika melihat Bara.Karena bagaimana pun Bara yang telah banyak membantu dan ikut bersamanya kemanapun ia pergi.


"Selamat pagi bos"


"Kamu disini karena ikut dengan Alfredo?" Tanya Erika.


"Ya,tapi kami diminta untuk mengantar Bos dan nona untuk pulang ke rumah"


"Oh gitu,maaf saya gak tau karena tadi Alfredo tidak memberitahu apapun"


"Tidak apa-apa,silahkan" Bara mempersilahkan Erika dan Tamara untuk berjalan menuju mobil terlebih dahulu.