Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 7



Erika berjalan menulusuri lorong sekolah untuk menuju kelasnya,Sepanjang jalan nya ia melihat para siswa kelas 10 sedang membersihkan kelas nya.


Menyapu lapangan,menyapu kelas, mengepel lantai,dan juga membersihkan kaca.Sungguh pemandangan yang sangat membosankan bagi nya.


Langkah nya terhenti karena melihat pak Budi yang sedang mencuci mobil nya di halaman sekolah.Pak Budi adalah guru mata pelajaran bahasa Indonesia saat Erika masih duduk di bangku kelas 10 SMA.


Menurut Erika,pak Budi sangat menyebalkan bagi nya.Karena setiap Erika membuat kesalahan pasti ia menghukum nya dengan memberi tugas membuat rangkuman hingga ratusan halaman.Meskipun begitu Erika tidak sanggup mengerjakannya.Saat itu ia berjanji pasti akan membalas perbuatan guru nya yang menyebalkan itu.


Ide jahil mulai muncul di pikiran Erika.Erika tersenyum menyeringai dan langsung berlari menuju kran air yang akan di pakai untuk mencuci mobilnya oleh Pak Budi.


"Kena kau" Bisik Erika kepada dirinya sendiri sambil fokus memperhatikan Pak Budi.


"Daahh...Sudah pakai sabun,Mari kita bilas sampai kinclong" Kata pak Budi sambil menggenggam selang air tersebut.


Saat pak Budi berjalan menuju kran air,Erika langsung bersembunyi terlebih dahulu di balik dinding.Saat pak Budi kembali ke tempat nya setelah menyalakan kran air,Erika langsung muncul lagi dan mematikan keran air tersebut.


"Lho,kok mati.Tadi kan sudah saya nyalain kran nya" Pak Budi mengintip lubang selang air itu.


"Bagus" Kata Erika tersenyum. ",satu...dua...tiga!" Erika langsung menghidupkan kran air nya.


Tentu saja air tersebut langsung membasahi wajah dan pakaian pak Budi.Ia terkejut hingga melemparkan selang air nya.


"Heii,siapa yang memainkan kran air nya!" Teriak pak Budi.


Seluruh siswa yang sedang fokus membersihkan kelas nya langsung menoleh ke arah Pak Budi dan mentertawakan nya.


"Ahahhaha,saya di sini pak" Bisik Erika sambil tertawa.


"Awas kalian ya,aiishhh!!!!" Teriak pak Budi lagi.


"Ahahahah...." Erika tertawa lagi sambil melanjutkan perjalanan nya menuju kelas.


"Astaga!!" Erika terkejut karena saat berbalik badan,Iya menabrak pak Rama yang sejak tadi sudah ada di belakang nya dan tentu saja mengetahui perbuatan nya.


"Woohh,bapak" Erika menutup mulutnya.


"Waaahh...wahhh..waahh..." Pak Rama menatap tajam Erika sambil menunjuk nunjuk wajah nya.


"A-anu pak...i-ituu..ja-jadi.." Erika terbata bata karena bingung harus berkata apa.


"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan setelah ini?" Tanya pak Rama yang masih menatap tajam Erika.


"a-anu pak.Maafin saya" kata Erika lagi.


"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan Erika?" Tanya pak Rama lagi.


"Apa pak?" Erika bertanya sambil menundukkan kepalanya.


"Lari.."Bisik Pak Rama.


"Hah?" Erika terperangah Karena terkejut.


"Lari..Ayoo lari cepetan!" Pak Rama menarik tangan Erika untuk segera berlari menuju kelas sebelum pak Budi tahu kalau Erika pelakunya.


Erika dan pak Rama berlari bersama menuju kelas nya,karena kebetulan jam pertama adalah mata pelajaran nya.


"Stop stop stop!" Kata Pak Rama saat telah tiba di lantai dua.


"Oh,kenapa pak?" Erika berhenti berlari.


"Sudah aman" Pak Rama mengacungkan jempol.


"Bapak kenapa suruh saya lari?saya kira bapak mau hukum saya" Kata Erika sambil berjalan santai.


"Kamu kan anak didik saya" Kata pak Rama yang nafas nya masih terengah-engah


"Nama kamu juga sudah masuk ke dalam buku daftar hitam,Jadi bapak khawatir kalau kamu nanti harus di keluarkan dari sekolah" Pak Rama menatap Erika.


"Uuuu...Bapak guru Favorit saya" Erika tersenyum dan mengambil buku yang di pegang pak Rama.


"Biar saya yang bawain" Kata Erika.


"Bapak Tenang aja,saya gak akan di keluarkan dari sekolah ini" Erika menatap wajah pak Rema dengan tatapan penuh keyakinan.


"Kenapaa emang?" Tanya pak Rama.


"Saya punya kartu yang sangat berpengaruh" Bisik Erika. "Bapak bisa pinjam ke saya kalau ada masalah dengan kepala sekolah" Bisik Erika lagi.


"Kartu apa itu?" Pak Rama kebingungan.


"Ada deh pokoknya,silahkan masuk pak" Erika membukakan pintu kelas untuk pak Rama.


"Thank you" Pak Rama menaikkan kedua alisnya.


"You're welcome" Kata Erika.


***


Saat jam istirahat Erika,Ayu,Novia,Gibran, Samuel,dan Bintang tidak pergi makan siang di kantin.Mereka lebih memilih menikmati makanannya di kelas sambil berbicara santai.


"Permisi kak!" Teriak Siswa laki laki kelas 10 yang tiba tiba masuk ke dalam kelas mereka.


Mereka yang sedang menikmati makanannya sambil asik berbincang langsung menoleh ke arah siswa tersebut dengan wajah terperangah.


"Kenapa?" Tanya Gibran datar.


"Bang,tolong bantuin teman saya" Siswa tersebut mendekati Gibran.


"Kenapa?" Tanya Samuel.


"Tolong bantuin teman saya" Siswa itu mengulangi Kalimat yang sama.


"Iya kenapa?Kenapa kita harus bantuin temen Lo?" Kata Erika.


"Teman saya lagi di keroyok sama siswa kelas 11" Ekspresi wajah nya semakin panik.


"Kelas 11,kenapa?" Tanya Ayu terkejut.


"Awalnya mereka minta uang ke teman saya.Karena gak di kasih,dia langsung di seret sama kelas 11 ke belakang sekolah" Wajah nya semakin cemas.


"Berapa jumlahnya?" Tanya Erika.


"Gak tau,mereka cuma bilang bagi duit" Kata siswa itu.


"Bukan jumlah uang nya.Tapi jumlah orang yang mau ngehajar dia" Erika berteriak.


"Sepuluh orang lebih mungkin" Kata siswa itu.


"Ayo cepet bantuin,sebelum dia mati" Erika berteriak keluar kelas sambil menggulung lengan seragamnya.


Mereka berenam dan siswa itu langsung berlari menuju halaman belakang sekolah.Tempat itu menjadi sarang para berandal sekolah karena jarang terpantau guru dan satpam.Ditambah lagi jarak nya yang lumayan jauh dari keramaian.


"Mana duit Lo" Kata salah satu berandal sambil menarik kerah baju siswa kelas 10 itu.Seperti nya ia ketua kelompok nya.


"Gak ada" Jawabnya.


"Di situasi kayak gini Lo masih mau ngelawan?" Kata berandal 2.


"Coba kalian cari" Kata ketua berandal.


Mereka menggeledah baju seragam siswa tersebut dan menemukan uang berjumlah 150.000 di saku celananya.


"Wahh,ini apa bro" Kata berandal 2.


"Balikin" Kata siswa itu. "Kalian kekurangan jajan ya?" Siswa itu menantang.


"Wah songong banget lu!" Teriak ketua berandal sambil menarik kerah baju seragam nya lagi dan menghajarnya.


"Hajar dia" Kata ketua berandal kepada temannya.


"Hajar,hajar!" Kata berandal 3 dan lainnya.


Saat mereka sedang asik menghajar siswa malang tersebut,Erika dan teman teman nya datang untuk memberi pelajaran kepada para berandal murahan itu.


"Hei, kawan!" Teriak Erika.


Mereka semua langsung menoleh ke arah Erika, termasuk siswa yang sedang di hajar tersebut.


"Hai cewe" Berandal 2 melambaikan tangan kepada Farisa,Ayu dan Novia.


"Hai" Berandal yang lain ikut menggoda.


Erika menyeringaikan bibir nya dan berjalan ke arah mereka.


"Hei,berandal lepasin orang itu" Erika menunjuk siswa yang sedang terkapar tak berdaya karena telah di hajar habis habisan.


"Hei,hei,hei.Kalian gak usah ikut campur deh,Apa lagi cewe cewe ini.Pergi" Ketua berandal mengayunkan tangan tanda mengusir dengan wajah sialan nya.


"Wah.." Samuel menunjuk ketua berandal itu.


"Tolong saya..." Siswa tersebut memohon dengan suara yang menyedihkan.


Erika langsung berjalan ke arah siswa tersebut untuk membantu nya keluar dari lingkaran berandal sialan itu.


"Bangun" Erika memberikan tangannya,tetapi siswa tersebut tidak sanggup menggapai tangan Erika sedikit pun karena ia sangat kesakitan.


"Hei,seberapa banyak pukulan kalian Samapi dia gak berdaya kaya gini" Erika bertolak pinggang dan berbicara dengan wajah tengil nya.


"Udah,udah.Mending Lo pergi deh,pergi" Kata berandal 2. "Pergi sebelum gue pake" Lanjut berandal itu sambil mendorong bahu Erika.


Refleks Erika langsung menghajar berandal itu dengan satu pukulan di wajah dan tendangan di kelamin nya.Berandal itu jatuh tersungkur dengan rasa sakit yang benar-benar menyakitkan.


Sebagian berandal membantu berandal yang tersungkur itu,sebagian nya lagi berjalan mendekati Erika.


"Kenapa Lo?Mau gue kasih tendangan yang sama?" Erika menggulung lengan seragam nya dengan wajah menantang.


Berandal 3 menarik kerah baju seragam Erika dengan wajah menantang balik.


"Kita udah suruh Lo pergi.Sekarang,


jangan salahin kita kalau muka lo babak belur di mana mana" berandal 3 mengancam.


Bintang langsung berjalan mendekati Erika dan menghajar berandal 3 habis habisan.Disusul dengan Gibran dan Samuel yang ikut memberi pelajaran kepada mereka juga.


Ayu dan siswa yang melapor itu langsung menghampiri siswa yang terkapar untuk segera membawanya keluar dari daerah mereka berkelahi.


"Mau kemana Lo?" Teriak Erika sambil menendang punggung Ketua berandal yang hendak kabur dari lokasi keributan.


"Lo kan biang kerok nya" Erika menarik kerah baju dan menghajar ketua berandal itu.


Novia yang tidak ada kegiatan,ia langsung membantu para laki laki untuk menghajar berandal yang lainnya.


"Lo gak apa-apa?" Tanya Ayu kepada korban.


"Sakit" Siswa itu merintih sambil memegang bagian kepala dan perutnya.


"Kita bawa ke ruang kesehatan sekarang" Kata siswa yang melapor.


"Jangan dulu" Kata ayu.


"Terus kapan?Mau tunggu sampai kondisinya semakin parah?" Kata siswa itu lagi.


"Aishh...Yaudah ayo" Kata ayu sambil mengangkat korban.


"Waduuhh!! Ampun,ampun,ampun!!!!" Teriak para berandal tersebut.


"Masa Lo mohon sama cewe,malu maluin!" Erika menampar wajah berandal yang sudah terkapar di tanah.


"Kalau emang kalian jagoan,hajar dia satu lawan satu" Kata Samuel.


"Lo pada suka buat masalah juga di sekolah?" Tanya Erika.


"Juga?" Tanya salah satu dari mereka.


"Wahh,bahkan Lo gak tau dia siapa?Gak tau kita siapa?" Tanya Gibran.


"Makanya sesekali main ke lantai dua dan tiga.Baru lu tau siapa kita" Wajah Samuel menantang.


"Kita sering bolos sekolah bang,jadi gak tau banyak tentang kejadian di sekolah" Kata ketua berandal.


"Diem Lo, diantara semua manusia ini gue lebih gak like sama Lo" Erika menendang kaki ketua berandal itu.


Mereka semua hanya menunduk tidak tahu harus berbuat apa.Karena sudah terlalu merasa malu kepada Erika dan teman nya.


"Karena kalian belum tau siapa kita,mending kita kenalan dulu deh" Kata Samuel.


"Kenalin nih Bintang,Kalian tau siapa orang yang pernah sabotase aliran listrik pas ada kunjungan dari menteri pendidikan?" Tanya Gibran.


Mereka semua menggelengkan kepalanya.


"Dia orang nya" Gibran menunjuk Bintang.


Bintang melambaikan tangannya seperti orang yang sedang menerima penghargaan.


"Waah,serius?" tanya salah satu berandal.


"Lo gak percaya?" Tanya Bintang.


"Percaya bang, percaya" Kata mereka.


"Ini Samuel, Dia pernah kunciin guru matematika di toilet.Jadi karena dia hari itu kelas kita gak belajar matematika" Gibran tersenyum.


"Halo" Samuel sombong.


"Ini Erika,gue males sih kalau harus sebutin satu satu perbuatan nya.Tapi kalian bisa tanya sama guru konseling nanti" Kata Gibran.


"Siapa tadi yang melecehkan gue sama perkataan nya?" Tanya Erika.


"Dia nih,dia" Mereka menunjuk berandal itu.


"Gue hapalin muka Lo" Erika mengancam sambil menunjuk berandal itu.


"Ampun kak,maaf" Ucap berandal itu sambil memegang pipi nya yang lebam.


"Perkenalan nya sampe situ aja,Kapan kapan kita lanjut lagi" Kata Gibran.


"Tunggu.." Erika berjalan mendekati salah satu siswa,ia mengambil sebatang rokok yang tergeletak di tanah dan langsung menatap kearah para berandal dengan tatapan curiga.


Mereka saling menatap satu sama lain sambil menelan Saliva nya.


"Aishh" Erika kesal. "Sini Lo" Lanjutnya sambil menarik satu persatu seragam mereka untuk memeriksa apakah masih ada lagi rokok yang di sembunyikan nya.


"Wahh..Wahh" Erika terperangah karena berhasil menemukan beberapa bungkus rokok yang mereka sembunyikan.


Erika langsung berdiri sambil menggenggam beberapa bungkus roko tersebut.


"Kalian semua bakal gue laporin ke guru konseling atas kasus pemerasan terhadap sesama siswa, pengeroyokan, perkelahian,satu lagi membawa rokok ke sekolah" Erika mengangkat beberapa bungkus rokok tersebut dan memberikan nya kepada Samuel.


"Dan terutama Lo" Erika menunjuk berandal yang sudah melecehkan nya. "Gue bakal laporin Lo secara langsung atas kasus pelecehan seksual" Erika bertolak pinggang.


"Bangun bangun!" Teriak Bintang.


"Kita anter Lo ke ruang konseling, takutnya kalian belum tau ruangan nya ada di mana" Kata Gibran.


Mereka berlima langsung membawa para berandal itu berjalan ke ruang konseling untuk bertemu dengan Bu Tesa dan para wali kelas nya yang berbeda beda.