
"Gue di utus sama bokap buat sekolah di Harapan bangsa,karena ada yang harus gue cari" Kata Bintang memulai cerita nya.
"Di utus?" Tanya Erika Bingung.
"Iya" Bintang mengangguk.
"Jadi...Lo kayak gini karena ada campur tangan orang tua Lo?" Tanya Erika dengan ekspresi terkejut.
"Maksud Lo?"
"Maksud gue...Orang tua Lo tau tentang apa yang Lo lakuin sekarang?Punya anak buah...Bunuh orang" Erika gugup.
"Mereka jauh lebih tau sebelum gue kayak sekarang" Kata Bintang.
"Hah..." Erika menyandarkan kepalanya di sofa.
"Seharusnya gue cerita dari inti nya.Gimana ya?" Bintang memegang dagu layaknya seorang detektif.
"Ahhh iya...intinya gue bisa kayak gini karena emang udah dari garis keturunan.Orang orang terdahulu di keluarga gue udah bangun bisnis ini turun temurun sampai ke tangan anak cicitnya,bahkan udah sampai ke tangan gue" Bintang mengangkat tangan kanannya.
"Terus dimana orang tua Lo?" Tanya Erika.
"Keluarga gue gak ada yang tinggal di Indonesia,Merek semua tinggal di luar negeri" Bintang menyenderkan kepalanya juga.
"Terus kenapa Lo bisa ada di sini?" Tanya Erika.
"Gue di utus bokap buat sekolah di Harapan bangsa,Gue harus ambil harta milik bokap gue yang tersembunyi di sekolah" Kata Bintang.
"Hah?Harta...Di sekolah?Gila kali Lo ya" Erika tertawa.
"Lo pasti tau Resya kan?" Tanya Bintang.
"Resya?Temen sekelas kita?" Erika bertanya balik.
"Heeemmm"
"Kenapa dia?" Tanya Erika lagi penasaran.
"Dulu...Kakek nya pernah beli barang ke keluarga gue,Barang nya udah dia terima tapi sampai sekarang belum dia bayar sedikit pun.Kabarnya dia udah meninggal sekitar tiga atau empat tahun yang lalu,Sedangkan barang nya udah dia jual lagi dan hasilnya dia sembunyiin di gedung sekolah itu" Bintang memberikan penjelasan.
"Woahh...Apa Resya tau?" Tanya Erika.
"Nah itu alasan kenapa bokap suruh gue yang cari,Karena keluarga Resya gak ada yang tau kalau gue ini salah satu keluarga Moran" Bintang menunjuk wajah Erika dan tersenyum.
"Keluarga Moran?" Tanya Erika.
"Itu nama kakek gue,setiap anggota keluarga nama akhirnya pake kata Moran" Kata Bintang.
"Tapi Lo gak ada Moran nya...Atau Lo bukan anak kandung?" Tanya Erika mendekatkan wajahnya ke arah Bintang.
"Gue punya tiga nama" Bintang mengangkat tiga jari tangan kanannya.
"Tiga nama?" Tanya Erika.
"Bintang Kavindra,Feliks Duscha,Star Moran.Itu semua nama gue" Bintang tersenyum.
"Hah?Serius?" Erika terperangah.
"Iyaa" Bintang meyakinkan.
"Aishh...Lo serakah banget" Erika menyenderkan kepalanya di sofa lagi.
"Terus apa rencana Lo sekarang?" Tanya Erika.
"Cari orang yang mungkin tau dimana uang dan berlian itu di sembunyiin" Kata Bintang.
"Jadi barang itu di tuker sama berlian?" Tanya Erika terkejut sedangkan Bintang hanya mengangguk.
"Gue jadi penasaran, Barang apa sih yang kalian jual.Senjata itu?" Tanya Erika.
"Ya gitu deh" Bintang mengangkat kedua bahu nya.
"Terus Lo tau siapa orang yang mungkin tau dimana berlian sama uang itu berada?" Tanya Erika.
"Sekarang sih belum tau,tapi ada dua orang yang harus kita curigai" Bintang mengangkat dua jari tangannya.
"Siapa?Anak nya?" Tanya Erika penasaran.
"Ya,bisa jadi"
"Terus yang kedua?" Tanya Erika lagi.
"Orang kepercayaan nya,misalkan Sekertaris nya" Bintang menyeringai kan bibirnya.
"Kalau gitu sasaran pertama tertuju sama anak tunggal nya" Bintang menunjuk Erika.
"Bokap nya Resya?" Tanya Erika.
"Yaps"
"Ssssttt....Tapi ada yang aneh juga sih" Erika memalingkan wajahnya dan menyipitkan matanya.
"apa?" Tanya Bintang.
"Bisa jadi bokap nya Resya sengaja beli lahan sekolah terus berinvestasi juga emang sengaja buat sembunyiin berlian sama uang milik keluarga Lo?" Erika beranjak dari duduknya.
"Emang iya,dia sengaja taro investasi besar-besaran cuma buat sembunyiin harta yang bukan miliknya" Kata Bintang.
"Waahh...Kalau gitu sekarang gue ngerti sih kenapa si Resya kelakuan nya ngeselin banget,Ternyata emang udah dari sananya kayak gitu" Erika duduk kembali sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kalau gitu ayo kita susun rencana buat nemuin bokap nya Resya" Erika mengetukkan jari telunjuk nya di meja.
"Pasti susah buat temuin bokap nya langsung" Bintang melipat kedua tangannya di dada juga.
"Ya kan gue bilang ayo kita susun rencana" Erika meninggikan nada suara nya.
"Gue mau temuin orang kepercayaan nya dulu,atau paling engga anak buah nya dulu lah" Kata Bintang.
"Terus abis itu?" Tanya Erika.
"Gak perlu gue jelasin secara detail,liat aja nanti" Bintang memalingkan wajahnya.
"Gue emang gak seharusnya ikut campur sih,tapi Lo janji ya jangan ngelibatin nyawa orang.Siapapun itu" Erika menunjuk wajah Bintang.
"Ada dua hal yang gak bisa di lakuin penjahat.Pertama,terima pengampunan.Kedua,janji buat gak bunuh orang lain" Bintang menatap Erika.
"J-jadi Lo beneran mau bunuh orang itu?" Tanya Erika gugup.
"Kalau gue bunuh,gue gak bakal dapet informasi apa-apa" Kata Bintang.
Tok..tok..tok...Permisi tuan...
Pelayan yang selalu menghidangkan makanan untuk Bintang dan anak buahnya datang ke ruangan untuk mengantar makanan yang di minta Bintang.
"Masuk" Teriak Bintang.
"Apa ini?" Tanya Erika saat melihat empat pelayan yang masuk kedalam ruangan,masing masing dari mereka membawa nampan berisi makanan.
"Ini makanan nya nyonya" Kata pelayan tersebut.
"Kalau begitu kami permisi,tuan...Nyonya" Mereka berempat membungkukkan badannya dan langsung berjalan keluar ruangan.
"Apa?Ny-nyonya?" Kata Erika. "Kenapa mereka panggil gue nyonya,tau gak apa yang gue rasain pas di panggil nyonya?" Tanya Erika kepada Bintang.
"Lo seneng?" Tanya balik Bintang.
"Bukan.Gue ngerasa kayak udah ibu ibu tau gak,padahal gak ada yang salah sih tapi gue ngerasa kayak gitu aja" Erika bergidik.
"Udah ngoceh nya?Makan tuh" Bintang menunjuk makanan Erika dengan sendok yang ia pegang.
"Wahh...makanan sarapan aja sebanyak ini?Mungkin seminggu kemudian berat badan gue naik 10 kilogram kayaknya" Erika langsung menyantap makanan nya sementara Bintang tersenyum mendengar perkataan Erika.
Dulu kakek Resya yang bernama Insu pernah berbisnis dengan kakek Bintang dari Rusia yang bernama Pavlo Moran.
Mr.Insu membeli berbagai jenis Narkoba dengan jumlah yang sangat besar dari Mr.Pavlo.Mereka sepakat untuk mengirim barang nya terlebih dahulu baru membayarnya,Mr.Pavlo tidak ragu sama sekali karena mereka sudah saling mengenal sejak lama.
Siapa sangka setelah menerima barang yang diminta nya,Mr.Insu pergi menghilang begitu saja.Sebagian Narkoba ia jual dan sebagiannya lagi ditukar dengan berlian yang bernilai sama.
Untuk menghilangkan jejak,Mr.Insu mengutus orang kepercayaan nya dari Korea Selatan untuk membawa uang dan berlian tersebut ke Indonesia lalu menyembunyikan nya.
Karena orang kepercayaan nya tidak mengenal betul wilayah di Indonesia,ia terpaksa menemui anak tunggal dan menantu Mr.Insu yang tinggal di Indonesia yaitu Bu Renita dan suaminya yang bernama Tirta.
Setelah memberi tahu apa yang terjadi Pak Tirta mengambil uang dan berlian tersebut dari tangan orang kepercayaan Mr.Insu lalu menyuruh nya untuk segera pergi dari Indonesia.Pak Tirta berjanji kepadanya untuk menyembunyikan lima koper besar yang berisi uang dan berlian tersebut.
Pak Tirta menemukan ide,ia ingin menyembunyikan barang berharga tersebut di tempat yang mereka pikir tidak mungkin di sembunyikan di sana.Gedung sekolah melintas di pikiran Pak Tirta,tanpa menunggu lama ia langsung mendatangi sekolah Harapan bangsa dan menanam investasi yang sangat besar di sana.
Kemudian ia meminta kepada kepala sekolah untuk meliburkan kegiatan belajar mengajar selama kurang lebih satu bulan karena alasan Renovasi.
Pak Tirta meminta orang kepercayaan nya untuk mencari pekerja yang akan membantunya untuk menyembunyikan barang berharga tersebut.
Ia meminta kepada para pekerja untuk menyembunyikan lima koper tersebut di balik dinding besar yang ada di dalam ruangan kepala sekolah.
Alih alih membunuh,Pak Tirta meminta para pekerja tersebut untuk bekerja di perusahaan nya sebagai imbalan.Ia akan memastikan bahwa mereka akan mendapatkan apa yang diinginkan agar tidak ada satupun diantara mereka yang membuka suara tentang rahasia yang di simpan rapat-rapat.