
"Bang pesen bakso dua porsi ya" Kata Bintang.
"Campur?" Tanya si Abang bakso.
"Campur gak?" Tanya Bintang kepada Erika yang sudah duduk di kursi pelanggan.
"Bakso nya aja"
"Bakso nya aja katanya bang jangan pake kuah,bumbu sama mangkok"
"Gak gitu jugaaa..."
"Bercanda-canda bang,buruan ya bang"
"Siap"
"Kamu suka makan makanan pinggir jalan?" Tanya Bintang saat dirinya sudah duduk di hadapan Erika.
"Suka,kenapa?Kamu gak suka ya?Kalo gitu kita cari makanan ditempat lain"
"Bukan gitu.Aku bingung aja, biasanya cewek-cewek kebanyakan tuh suka nya makan di tempat-tempat keren mewah gitu, Restoran misalnya"
"Cewek-cewek mana yang kamu maksud?" Tanya Erika sambil meletakkan kedua tangannya di dagu dan menatap tajam ke arah Bintang.
"Ya cewek-cewek kebanyakan"
"Jangan sama-samain aku sama mereka,kamu lupa ya dulu latar belakang kehidupan aku gimana?Jadi kebiasaan itu terus berjalan sampe sekarang"
"Silahkan..." Abang bakso menghidangkan dua mangkuk berukuran sedang itu di hadapan mereka.
"Makasih pak" Kata Erika.
Mereka langsung menyantap makanan yang ada di hadapan nya,terutama Erika.Dia sangat senang karena keinginan nya itu langsung dituruti oleh suaminya.
Saat mereka sedang menikmati bakso lezat tersebut, tiba-tiba datang tiga orang pria tak dikenal menghampiri satu-persatu pedagang di pinggir jalan dengan pakaian nya yang terlihat seperti preman pasar.
"Bang!Setor setor setor!!!!" Teriak salah satu dari mereka sambil memukul keras gerobak bakso itu berulang kali.
"Setor?Setor apa?Biasanya juga gak ada yang datang buat nagih setoran?" Tanya si Abang bakso.
Suara pukulan yang sangat keras tadi membuat Erika dan Bintang langsung menoleh ke arah sumber keributan yang berada tepat di belakang mereka.
"Berani lawan gua lu!!" Teriak satu yang lainnya.
"Siapa yang ngelawan?Saya cuma nanya?Setoran apa?Kalian siapa?" Tanya Si Abang penjual bakso yang masih memberikan perlawanan.
"Wah.Gak takut sama gue Lo ya!Geledah!!" Teriak satu orang yang terlihat seperti bos mereka berdua.
Tak lama kedua orang lainnya langsung mengacak-acak isi gerobak penjual bakso tersebut hingga semua barang dagangan nya jatuh berserakan di mana-mana.
"Jangan bang!!Jangan di berantakin,kalo kayak gini gimana saya mau dapat uang buat anak dan istri saya" Ucap penjual bakso dengan suara dan raut wajah nya yang sangat menyedihkan.
Erika Clarista,jiwa berandal nya dahulu yang sudah padam kali ini kembali terasa meronta-ronta baginya.Ia mengepalkan sendok dan garpu yang sedang di genggam nya dengan sekuat tenaga lalu menancapkan kedua benda itu di meja hingga berubah bentuk.
"BERHENTII!!!" Teriaknya yang langsung mengundang perhatian dari beberapa pedagang lain yang hanya bisa menyaksikan kejadian itu.
Ketiga preman pasar itu langsung menghentikan aktivitas nya dan menatap tajam ke arah Erika yang terlihat seperti sedang meremehkan wanita tangguh tersebut.
"Apa?Apa lagi ini?" Tanya bos preman.
"Berhenti buat keributan dan pergi!!" Teriak Erika dengan wajah berandal nya dan hanya di balas tawaran paksa dari ketiga preman tersebut.
Bintang masih belum bertindak,selama masih normal-normal saja ia hanya memperhatikan cara istrinya itu menegur para preman kampungan.
"Gak usah ikut campur ya cewek cantik,duduk anteng aja disitu.Ayo lanjut lagi makanny" Kata salah satu dari mereka.
"Aishh padahal gue udah negur kalian baik-baik,kenapa kalian harus banget bikin gue jadi kayak dulu lagi" Bisik nya.
Erika berjalan menghampiri ketiga preman itu dan menyuruh penjual bakso untuk berjalan meninggalkan mereka dengan uang nya juga.
"Mau ngapain?" Tanya Bintang.
"Kalian gak tau siapa gue?" Tanya Erika sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang dan berjalan perlahan menghampiri mereka.
"Siapa lu?Gue gak kenal"
"Kenalin..." Erika menjulurkan tangannya.Bodohnya pria itu malah ikut menjulurkan tangannya untuk meraih tangan Erika dan bersalaman.
Saat pria itu lengah,Erika langsung memukul perut buncit pria tersebut menggunakan siku hingga ia langsung meringis kesakitan.
"Apa kalian gila?Cari duit yang bener!Lo pikir jualan gampang?Gak butuh modal?" Teriaknya dengan penuh keberanian.
"Wah nantang nih cewek,Lo gak takut sama kita-kita ya?!!" Kata salah satu pria yang berjalan mendekati Erika.
"Kalo gue takut Ngapain gue maju duluan Ha???!!" Bukannya memundurkan langkah,Erika malah semakin melangkah maju ke depan intuk menghampiri preman yang sedang mendekati nya.
"Wah...Heh,Lo tau gak rasanya jidat diiris pake pisau dapur?" Tanya preman tersebut yang terdengar seperti sedang mengancam Erika.
"Hhh...Lo tau gak rasanya paha di sayat pake silet terus ditaburi garam dapur?" Ucap nya yang terus memberikan perlawanan tanpa ampun.Sementara ketiga pria itu langsung terdiam dan sedikit memundurkan langkahnya.
"Ekehemm...Lu pikir ini drama psikopat?Berhenti ngayal,atau gue hajar Lo sekarang juga!!" Teriaknya sambil mengarahkan kepalan tangan yang siap meninju wajah cantik Erika.
Tentu saja Bintang tidak tinggal diam,ia langsung beranjak dari duduknya dan menahan kembali tangan preman yang berisi lemak tersebut.
"Kalo Lo mau baku hantam jangan sama dia,tapi sama pawangnya!"
Bintang mencengkeram erat lengan pria tersebut dan memelintir kan nya hingga dia meringis kesakitan.
"Mana pisau dapur Lo?Sini buat kenang-kenangan di jidat gue" Bisik Bintang. "Bahkan gue bisa kasih kenang kenangan lebih dari sekedar luka di jidat"
"Kalian kenapa pada diem aja,ayo bantu gue!" Teriaknya kepada dua pria lain.Terlihat wajah mereka yang sedikit ragu saat ingin menghajar Bintang dan mereka memilih untuk berdiam di tempatnya.
"Cepetan!!"
"Pergi sekarang atau gue patahin tangan Lo!"
"Yaudah yaudah,lepasin dulu tapi!!Tangan gue mau putus ini rasanya!!" Teriaknya.
Bintang menghempaskan tangan itu dengan kasar hingga pria tersebut langsung menghembuskan nafas lega.
"Pergi gak Lo pada!!" Teriak Erika.
"Cabut cabut cabut" Dengan cepat mereka langsung pergi melarikan diri sebelum ada luka lebam di sekujur tubuh mereka.
"Pak,bapak gak apa-apa?" Tanya Erika kepada penjual bakso itu.
"Gak apa-apa mbak,cuma ini dagangan saya jadi terbuang sia-sia.Gak mungkin juga kan kalau saya pungut lagi"
Bintang merogoh saku jaket nya dan membuka dompet untuk mengambil tujuh lembar uang pecahan seratus ribu rupiah. "Ini pak,buat bayar pesanan kita tadi"
"Tapi ini terlalu banyak mas,dua porsi hanya tiga puluh empat ribu aja"
"Sisanya buat beli bahan baru lagi besok" Kita Bintang.
"Ambil aja pak,suami saya banyak uang nya" Sahut Erika.
"Beneran ini mas,mbak"
"Iya pak beneran"
"Terimakasih ya,semoga Allah memberikan rezeki yang jauh lebih banyak lagi kepada kalian"